Serangan Udara Israel Bombardir Beberapa Rumah Sakit, Termasuk RS Indonesia

tentara israel
Tentara Israel mengobrol di posisi artileri dekat perbatasan Israel-Lebanon. (reuters)

GAZA | patrolipost.com – Serangan udara Israel menghantam rumah sakit terbesar di Gaza, Al Shifa, menewaskan satu orang dan melukai sejumlah orang yang berlindung di sana pada Jumat (10/11/2023). Rumah Sakit Indonesia juga tak luput dari serangan membabibuta tersebut.

Menurut para pejabat Palestina, salah satu dari beberapa rumah sakit dilaporkan diserang saat fajar ketika Israel beralasan memerangi Hamas di Gaza.

Bacaan Lainnya

Dikutip dari reuters, para pejabat mengatakan serangan lain telah merusak beberapa bagian Rumah Sakit Indonesia dan menghantam kendaraan di luar rumah sakit kanker Rantissi di bagian utara Gaza. Sebelumnya, Israel mengatakan militan Hamas yang menyerang rumah sakit tersebut bulan lalu.

Tank-tank Israel, yang telah bergerak maju melalui Gaza Utara selama hampir dua minggu, telah mengambil posisi di sekitar rumah sakit Anak Rantissi, Al-Quds dan Nasser. Hal ini kata staf medis, telah meningkatkan kekhawatiran bagi pasien, dokter dan pengungsi di sana.

“Israel kini melancarkan perang terhadap rumah sakit di Kota Gaza, terhadap Rantissi, rumah sakit Nasser, dan terhadap Al Shifa,” kata Mohammad Abu Selmeyah, direktur rumah sakit utama Shifa di Gaza.

Israel tidak segera berkomentar namun mengatakan pihaknya tidak menargetkan warga sipil dan berupaya keras untuk menghindari serangan terhadap mereka. Dikatakan bahwa militan Hamas menyembunyikan pusat komando dan terowongan di bawah Al Shifa dan rumah sakit lainnya, namun tuduhan tersebut dibantah keras oleh Hamas.

“Sementara dunia melihat lingkungan yang memiliki sekolah, rumah sakit, kelompok pramuka, taman bermain anak-anak dan masjid, Hamas melihat peluang untuk mengeksploitasinya,” kata militer Israel.

Kampanye militer Israel yang telah berlangsung selama sebulan untuk melenyapkan Hamas, menyusul serangan militan tersebut pada tanggal 7 Oktober di Israel Selatan, telah membuat rumah sakit di Gaza kesulitan untuk mengatasinya. Sebab, pasokan medis, air bersih dan bahan bakar untuk generator listrik telah habis.

Israel kemudian menghadapi seruan untuk menahan diri ketika jumlah korban tewas di Palestina meningkat. Namun Israel khawatir Hamas akan mengambil keuntungan dari jeda pertempuran tersebut.

Pejabat Palestina mengatakan serangan udara dan artileri telah menewaskan 10.812 warga Gaza  pada hari Kamis (9/11/2023), sekitar 40% di antaranya anak-anak.

Juru bicara kementerian kesehatan Gaza, Ashraf Al-Qidra mengatakan Israel telah mengebom gedung rumah sakit Al Shifa sebanyak lima kali sejak Kamis malam.

“Mereka menembaki ruang bersalin dan gedung klinik rawat jalan. Seorang warga Palestina tewas dan beberapa lainnya luka-luka dalam serangan pagi hari,” katanya.

Setelah ledakan terjadi, para saksi mata mengatakan banyak orang mulai meninggalkan lokasi fasilitas tersebut, karena khawatir akan terjadi serangan lebih lanjut.

“Tidak mungkin kami bisa mengungsi, tidak ada cara praktis untuk melakukannya. Kita berbicara tentang 45 bayi di inkubator, 52 anak di unit perawatan intensif, ratusan korban luka dan pasien, serta puluhan ribu orang yang mengungsi,” ungkapnya.

Media Palestina memperlihatkan rekaman video pasca serangan Al Shifa, dimana orang-orang berteriak dan menangis serta beberapa orang berlumuran darah di lokasi tersebut merupakan area luar ruangan tertutup di dekat bagian rawat jalan rumah sakit.

Menteri Kesehatan Palestina, Mai Alkaila mengatakan seorang dewasa tewas dan seorang anak terluka di Al Shifa, salah satu dari beberapa fasilitas medis yang terkena serangan.

“Israel…saat fajar menargetkan sejumlah rumah sakit di Jalur Gaza,” kata Alkaila.

Berbicara sebelumnya kepada televisi Al Jazeera, juru bicara kementerian Qidra mengatakan serangan di halaman rumah sakit di Rantisi mengakibatkan beberapa kendaraan terbakar.

Seseorang yang mengaku sebagai staf Rumah Sakit Anak Nasser mengunggah imbauan di media sosial.

“Kami diblokade di dalam rumah sakit dengan tank, dan kami terkena tembakan hebat. Kami tidak memiliki listrik, tidak ada oksigen untuk pasien, tidak ada air bersih atau garam. Situasi di sini sangat sulit dan berbahaya,” katanya di media sosial.

Sementara itu ledakan juga terjadi di dekat Rumah Sakit Indonesia pada malam hari,  merusak sebagian rumah sakit tersebut.  Pihaknya tidak menyebutkan siapa yang bertanggung jawab atas ledakan tersebut dan tidak melaporkan adanya korban jiwa atau cedera.

Kementerian Kesehatan Gaza mengatakan 18 dari 35 rumah sakit di Gaza dan 40 pusat kesehatan lainnya tidak dapat beroperasi karena kerusakan akibat penembakan atau kekurangan bahan bakar.

“Dengan serangan dan pertempuran yang sedang berlangsung di sekitar (Al Shifa), kami sangat prihatin dengan kesejahteraan ribuan warga sipil di sana. Banyak di antaranya adalah anak-anak, yang mencari perawatan medis dan perlindungan,” tulis Human Rights Watch di media sosial. (pp04)

Pos terkait