Palangkan Leher Demi Menjaga Paru-paru Dunia Taman Nasional Bukit Tigapuluh

Hanafi (tengah) foto bersama Tim Ekspedisi PWI di depan Gerbang Camp Granit, Taman Nasional Bukit Tigapuluh, pedalaman hutan Sumatera. (jojo)

Inilah rimba belantara wak! Di hutan perawan, paru-paru dunia, Taman Nasional Bukit Tigapuluh, Pedalaman Sumatera, semuanya terungkap. Konflik hewan liar dengan manusia, aksi bar-bar penduduk marjinal dan cukong-cukong tajir merambah hutan memanfaatkan penduduk tempatan. Semuanya terjadi! Petugas pun perang urat leher, diancam dengan golok terhunus, berkilau. Seperti Apa?

Laporan: Hanafi 
dari Pedalaman Hutan Sumatera

”Brumm…Brumm…”
Ban radial mobil double gardan berdesing meninggalkan tanah kerikil, menaiki badan Jalan Raya Belilas Indragiri Hulu, Lintas Riau-Jambi.

Dari resort Bukit Tigapuluh, sekitar lima jam dari Kota Pekanbaru, Tim Ekspedisi PWI Riau memulai penjelajahan Taman Nasional Bukit Tigapuluh (TNBT) dan Taman Nasional Tesso Nilo (TNTN) selama tiga hari, Jumat 6 Agustus sampai Minggu 8 Agustus 2021.

Rombongan melaju menuju paru paru dunia Taman Nasional Bukit Tigapuluh dari Desa Talang Lakat, Kecamatan Batang Gansal, Kabupaten Indragiri Hulu (Inhu), menuju Camp Granit, pedalaman hutan Sumatera dengan waktu tempuh sekitar 1 jam.

”Maaf, agak terlambat ya bang. Sopir mobil ini tidak ada, berhalangan. Terpaksa awak yang jadi sopir serap,” ucap Kepala Resort Talang Langkat, Indragiri Hulu, Ade Adriadi (35) dengan logat Inhu-Minang memulai percakapan.

”Mobil ini terbilang tua dibanding mobil yang lain. Tapi untuk menempuh medan berat, jangan ragu dan cemas. Ia masih kuat,” jelas Ade, seperti melihat keraguan di wajah penulis terhadap mobil yang dikemudikannya.

Sambil mengoper gigi dua ke gigi tiga, mobilpun melaju, tancap gas. Mobil yang dikemudikan Ade bermuatan delapan wartawan. Merupakan mobil terakhir yang menuju Camp Granit. Beberapa menit sebelumnya, delapan unit mobil sudah berangkat duluan, membawa 38 wartawan dari media lokal dan nasional. Total semuanya, 45 wartawan yang melakukan ekspedisi.

Ada sekitar 15 menit, mobil warna merah bertuliskan Kementerian Kehutanan ini melaju mulus di Jalan Negara yang membelah Kabupaten Inhu. Begitu sampai di Simpang Granit, sang sopir membelokan kendaraan ke kiri, menurun terjal, tajam. Siap menempuh jalan tanah liat bergelombang.

”Maaf, jalannya sedikit jelek ya bang,” ucapnya dengan kata maaf.

Berkerut kening mendengar kata ‘sedikit’ jelek yang disampaikan sang sopir. Di depan, terpampang jalan yang licin. Maklum, semalam ‘Negeri Para Raja’ ini diguyur hujan. Masih terlihat genangan air di beberapa lubang jalan.

Bergoyang ke kiri, ke kanan mobil menghindari lubang yang menggangga. Terhentak, terbanting saat sopir membanting stir menghindari lubang-lubang besar, licin dan berlumpur. Suara mobil semakin menderu-deru, ban radialnya juga berdesing-desing, semakin keras.

Beberapa kali, teman-teman Tim Ekspedisi berteriak keras, kecuali Hanafi (Pekanbaru) yang duduk di samping sopir. Di belakang, ada Haji Adnan Buyung (Kampar), Haji Madi (Pekanbaru), Said Mustafa Husin (Kuansing), Alfisnardo (Bengkalis), Deni Risman (Jakarta) dan Jojo (Rokan Hilir) berteriak histeris. Apakah teriak ‘nervous’ menelusuri medan ‘off road’ yang membakar adrenaline, atau teriak kesakitan.

Tak salah apa yang disampaikan Ketua Pelaksana, Tim Ekspedisi PWI Riau, sempena Hari Konservasi Alam Nasional (HKAN) 2021, Kunni Masrohanti. Nanti jalan yang ditempuh sangat ekstrim.

”Selain jalan tanah liat, licin, bergelombang, di tengah-tengahnya juga ada belah-belahan,” ucap Kunni, mengingatkan Tim Ekspedisi sebelum berangkat.

Ternyata, apa yang dikatakan Ketua Penyair Perempuan Indonesia itu benar adanya. Terdapat belahan-belahan liat dan licin di tengah-tengah badan jalan.

”Jalan ini lebih baik tidak diperbaiki, jika diperbaiki, para cukong dan orang berduit akan leluasa masuk menjarah hutan perawan ini,” terang Ade menjelaskan kondisi alam yang dijaganya.

Sembari fokus mengemudikan mobil, Ade memaparkan, jika jalan ini mulus, petugas akan semakin sulit menjaga hutan dari aksi penyerobotan, pembalak liar. Seperti halnya dengan Taman Nasional Bukit Tigapuluh yang memiliki akses transportasi air. Beberapa anak-anak sungai yang berhulu ke hutan perawan ini rentan dijarah cukong. Petugas terpaksa ekstra keras menjaga hutan siang malam. Para cukong, orang-orang tajir dari kota lihai memanfaatkan penduduk tempatan untuk menguras hutan.

”Jika petugas tidak berjibaku, alamat hutan ini punah ranah kena babat,” terang bapak dua anak yang mendedikasikan hidupnya untuk menjaga hutan, sedangkan menjaga anak dan istri, tidak bisa dilakukan secara penuh. Tersebab, anak dan istrinya berada di Bagansiapiapi, Rokan Hilir, sekitar 12 jam perjalanan darat dari tempat ia bertugas. Untuk membesuk buah hati dan istri, hanya bisa dilakukan secara terbatas.

Diceritakan alumnus SMK Kehutanan Negeri Pekanbaru ini, baru-baru ini, banyak ditemukan kayu berkualitas bagus dan mahal, meranti (shorea spp), sunkai (peronema canescens) dan kayu merbau (leguminosae) oleh para cukong dan pembalak, pohon kayu ini jelas memiliki nilai ‘cuan’ yang tinggi.

Saat dirinya melakukan patroli bersama tiga anggota, nyaris menjadi korban dari kawanan pembalak liar tersebut.

Sore itu, saat pulang menyusuri anak-anak Sungai Gangsal, mereka berpapasan dengan cukong bersama tujuh orang pembalak liar. Petugas pun langsung menegur dan menghentikan aksi mereka.

”Saat itu, saya bersama tiga anggota tidak membawa senjata. Sedangkan sinyal telepon seluler juga tidak ada. Awalnya, kami berusaha menegur, mencegah mereka secara baik-baik. Bukannya berhenti dari aktivitas, mereka malah marah. Mengaku mencari makan dan justru menghunuskan golok berkilau ke leher saya,” ucap Ade mengenang kisahnya.

Di pinggir anak sungai, di tengah hutan belantara, dalam suasana senyap, sepi dan mencekam. Dirinya hanya bisa berdoa kepada Tuhan. Berharap datang pertolongan Allah.

”Satu-satu upaya hanyalah berdoa pada Allah. Alhamdulillah, tiba-tiba sang cukong memerintahkan anak buahnya menurunkan golok dari lehar saya. Doa saya dihijabah oleh Allah. Sepertinya, leher ini ‘palang terakhir’ demi menjaga paru-paru dunia, Taman Nasional Bukit Tigapuluh,” kenang Ade.

Stop. Stop..! Satu di antara anggota Tim Ekspedisi yang duduk di belakang berteriak menghentikan laju kendaraan. Roda mobil direm, 15 meter sebelum gerbang Camp Granit Taman Nasional Bukit Tigapuluh.

Spontan, naluri wartawan pun muncul, meloncat turun dari mobil dan mengambil fose foto bersama, mengabadikan perjalanan ekspedisi dengan latar belakang Gerbang Camp Granit.

”Jepret.. Jepret.”

Jojo dari Rokan Hilir sigap memanfaatkan moment tersebut. Mengabadikan rombongan dengan latar belakang Gerbang Camp Granit dan alam sekitar.

Hanya butuh waktu lima menit, mobil kembali melaju. Menerabas hutan rimba yang semakin lebat. Roda mobil melindas ranting-ranting, daun-daun kering yang menutupi jalan tanah, menderu. Daun-daun kering pun berterbangan.

”Jika hutan ini tidak dijaga, dua kabupaten, Indragiri Hulu, Indragiri Hilir, Provinsi Riau dan Provinsi Jambi bisa habis dihantam banjir. Anak-anak sungai dua daerah itu banyak berhulu ke Bukit Tigapuluh,” ucap Ade memulai percakapan lagi, sambil mengemudi.

Selain konflik dengan para pembalak dan cukong, petugas juga sering konflik dengan penduduk marjinal yang terkadang tidak mengerti dengan hukum. tahunya mereka, hanya beralasan mencari makan.

”Jika tak pandai-pandai menasehati, mereka justru melakukan aksi bar-bar, menyerang dengan parang di tangan, bahkan ada yang melakukan aksi-aksi mistis,” papar Ade.

Selain itu, kata Ade, konflik hewan buas dengan manusia juga sering terjadi. Masalahnya hanya satu. Ulah dari manusia itu sendiri. Melakukan perburuan secara liar. Menjerat hewan-hewan yang ada TNBT. Padahal, semua yang ada di TNBT ini adalah larangan. Tidak boleh diambil !

”Jikapun ingin membawa sesuatu dari TNBT ini hanyalah satu. Sebuah kenangan. Tentu, kenangan perjalanan yang indah dan manis untuk dikenang,” ucapnya sedikit romantis.

Masih kata Ade, Taman Nasional Bukit Tigapuluh mulai terbuka untuk wisatawan. Obyek wisata yang ditawarkan adalah panorama alam, air terjun, Sungai Gangsal, keanekaragaman flora dan fauna serta budaya masyarakat tradisional Talang Mamak, Suku Anak Dalam dan Suku Melayu Tua.

Salah satu lokasi strategis yang sering didatangi wisatawan itu ucap Ade, adalah Camp Granit yang memiliki luas sekitar 23 hektar. Granit sesuai namanya, dulu adalah tempat penambangan batu granit. Tapi setelah lokasi ini ditetapkan sebagai kawasan taman nasional melalui Surat Keputusan Menteri Kehutanan Nomor 539/KPTS-II/1995, nama Camp Granit tetap dipakai sampai sekarang.

Disebutkan pria kelahiran Pasaman, Sumatera Barat ini, para wisatawan yang datang, mereka bisa menikmati panorama alam di Bukit Tengkorak atau di Camp Granit, atau treking ke dalam hutan untuk melihat flora dan fauna. Bisa juga mandi di Air Terjun Taman Nasional Bukit Tigapuluh. Selain itu, kata Ade, banyak tumbuhan unik yang bisa dilihat di Taman Nasional Bukit Tigapuluh ini, ada bunga bangkai (amorphophallus), pasak bumi (eurycoma longifolia), cendawan harimau (lignosus rhinocerotis), anggrek bulan (phalaenopsis amabilis) serta berbagai tumbuhan langka.

Menjelang senja, mobil sampai di puncak Camp Granit. Terpampanglah keindahan panorama TNBT. Teriakan siamang (symphalangus syndactylus) bergemuruh, sahut bersahutan. Kicauan burung rangkong (bucerotidae), burung serindit (loriculus) dan pernak pernik warna sunset matahari terbenam di balik perbukitan, memberi indah alam TNBT.

Kekayaan Alam TNBT
Pemaparan Ade dipertegas oleh Kepala Balai TNBT, Fifin Arfiana Jogasara SHut MSi dalam bincang-bincang Dialog Rimba di alam terbuka Camp Granit, yang berlangsung Jumat (6/8) pukul 19.30 WIB hingga pukul pukul 23.30 WIB.

Fifin menyatakan sangat senang dengan kehadiran rombongan PWI ke TNBT maupun TNTN. Apalagi dengan mengusung tema Wartawan Peduli Taman Nasional dengan pulang membuat tulisan.

“Alam TNBT memiliki kekayaan tersendiri. Jika malam gerimis atau hujan, bukit-bukit di depan kita ini selalu diselimuti awan. Jadi, kalau kita tinggal di sini, rasanya seperti negeri di atas awan. Keindahan dan keunikan itulah, maka sangat layak jika dijadikan destinasi wisata andalan Inhu, Riau maupun Indonesia,” sebut Fifin.

Saat dialog tersebut, Fifin juga memaparkan berbagai potensi dimiliki TNBT yang telah mereka kelola dengan baik. Selain flora dan fauna, di TNBT juga terdapat air terjun yang sangat indah. Lokasinya tidak jauh dari camp tempat Tim Ekspedisi menginap. Keberadaan sejumlah objek wisata, sebenarnya bisa dijadikan sumber Pendapatan Asli Daerah (PAD) jika pemerintah daerah peduli dan mau memberikan perhatiannya kepada TNBT.

Membuktikan kekayaan alam TNBT, Fifin menayangkan berbagai potensi yang ada di hutan yang sempat tertangkap kamera pengintai dan ditampilkan melalui tayangan video layar lebar. Tampak jelas kehidupan sejumlah satwa liar, harimau Sumatera (panthera tigris sondaica) beruang madu (helarctos malayanus) yang sedang menggesek-gesekkan badan ke pohon, kucing emas (catopuma temminckii), anjing hutan (cuon alpinus), tapir (Tapiridae), orang hutan (pongo), burung rangkong (bucerotidae) dan banyak lagi jenis satwa liar lain.

Belum lama ini, kata Fifin, pihaknya berhasil menangkap gambar harimau Sumatera dengan dua ekor anaknya. Kamera dipasang dalam kegiatan pemantauan satwa secara berkala dilakukan oleh Tim TNBT. Seluruhnya ada 16 unit camera-trap yang dipasang.

”Lihat! dalam rekaman tampak jelas induk beserta dua anaknya dalam kondisi sehat. Ini menunjukkan bahwa habitat masih terjaga dengan baik. Ketersediaan pakan sangat cukup, sehingga satwa bisa berkembang biak dengan baik,” ungkap Fifin sembari meminta ulang lagi pemutaran video harimau bersama anaknya.

Fifin mengatakan, hal tersebut bukti pencapaian dan keberhasilan dalam meningkatkan populasi satwa liar harimau Sumatera di TNBT. Wilayah TNBT, memiliki luas 144.223 hektar dan terletak di dua Provinsi Riau dan Jambi. Merupakan daerah perbukitan, terpisah dari rangkaian pegunungan Bukit Barisan yang memanjang dari utara ke Selatan Pulau Sumatera. Ketinggian berkisar 60 – 843 meter di atas permukaan laut (mdpl).

“Sedangkan jumlah personel yang mengelola dan mengawasi TNBT sebanyak 85 orang, baik yang bekerja di kantor maupun di lapangan,” urai Fifin.

Pihak Balai TNBT sendiri, dalam pemaparan kepada rombongan Tim Ekspedisi, lebih banyak mengajak masyarakat yang tinggal dalam kawasan atau pinggir kawasan untuk ikut menjaga hutan. Caranya, mereka diajarkan memanfaatkan hasil hutan bukan kayu, seperti mengolah aren (renga pinnata), membudidayakan madu kelulut (meliponini) sehingga bisa menjadi produsen madu.

Masih kata Fifin, semenjak 2018 lalu tercatat ada 11 kelompok budidaya lebah yang telah dibina oleh Balai Taman Nasional Bukit Tigapuluh.

8 Kelompok merupkan warga suku asli Talang Mamak dan 3 kelompok lainya berada di luar kawasan yang anggotanya merupakan suku Melayu Tua serta masyarakat pendatang.

“Kita selalu menekankan kepada masyarakat untuk ikut menjaga dan merawat hutan dalam kawasan TNBT secara bersama-sama. Lalu merasakan manfaatnya hasil hutan dari aren, madu dan buah jernang (recaceae),” papar Fifin.

Tujuan merangkul masyarakat agar mereka tidak lagi melakukan penebangan pohon secara liar, membuka lahan baru, melakukan peladangan berpindah atau membuka kebun di dalam kawasan TNBT. Jika ini terjadi, tentu akan terus menjadi konflik berkepanjangan dengan petugas.

Saat ini kata Fifin, kesadaran masyarakat sudah semakin bagus. Masyarakat dalam kawasan dan di pinggir kawasan sudah paham, bersama-sama menjaga hutan dalam kawasan TNBT.

Treking Panjang Pendek
Usai Dialog Rimba, tim langsung dibagi dua untuk melakukan ekspedisi treking panjang dan treking pendek yang akan berlangsung pada pagi hari.

Kelompok treking pendek Tim 27 dipimpin Ketua PWI Riau, H Zulmansyah Sekedang, Kepala Balai TNBT, Fifin Arfiana Jogasara beserta anggota Tim Ekpedisi. Agendanya melihat budidaya madu kelulut (heterotrigona itama), meninjau gudang dinamit di lereng perbukitan yang ditumbuhi pohon liar, perdu dan semak belukar serta berbagai tumbuhan jamur beracun (amanita dan phalloides) dengan kemiringan perbukitan mencapai 75 derajat.

Selanjutnya, Tim 27 melakukan penanaman pohon trembesi (samanea saman) oleh ketua PWI bersama Kepala Balai TNBT dan anggota. Dilanjutkan treking menuju Air Terjun Taman Nasional Bukit Tigapuluh.

Sementara kelompok treking panjang Tim 18 dipimpin Kunni Masrohanti bersama Denni Risman, menempuh medan berat, lintasan harimau dan hewan buas. Mendaki perbukitan yang terjal menuju Bukit Lancang dengan icon pohon marsawa (anisoptera marginata) berusia 200 tahun, dengan diameter 12 bentangan tangan orang dewasa.

Menjelang siang, kelompok treking pendek dan treking panjang berjumpa di Air Terjun Bukit Tigapuluh. Di pemandian ini, semua letih dan lelah ditumpahkan. Berbaur menikmati air perbukitan yang bening, jernih, dingin dan segar. (305)

 

 

 

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.