Minta Uang Rp10 Ribu tak Dikasih, David Nekat Bunuh Boy Sandy

Tersangka David (20) yang menghabisi nyawa Boy Sandi, diringkus petugas kepolisian tiga jam setelah aksi pembunuhan.(ilustrasi/net)

PALEMBANG patrolipost.com – Kapolsek SU I, Kompol Farizon melalui Kanit Reskrim, Iptu Irwan Siddik, mengungkap kasus pembunuhan Boy Sandy oleh pelaku bernama David dilatari persoalan uang Rp10 ribu.

Iptu Irwan menjelaskan, pembunuhan ini bermula ketika pelaku David meminta uang sebesar Rp10 ribu kepada korban. Namun korban menolak dan diduga kesal, lalu mengucapkan kalimat dengan nada tinggi kepada pelaku.

“Berdasarkan pengakuan pelaku, setelah minta uang Rp10 ribu itu, dia dipukul oleh Boy sampai hidungnya berdarah.”

“David yang mengaku terdesak, lalu mencabut pisau di pinggangnya dan menusuk Boy dua kali. Satu di punggung, satu di perut,” terang Irwan, Minggu (27/7/2020).

Polisi menangkap tersangka tidak sampai tiga jam setelah peristiwa pembunuhan.

“Pelaku kami tangkap di rumahnya tadi pagi pukul 03.00, masih wilayah SU I. Ada barang bukti kita amankan, senjata tajam pisau rencong,” kata Kapolsek SU I, Kompol Farizon melalui Kanit Reskrim, Iptu Irwan Siddik.

Warga sekitar sempat membawa korban ke RSUD Bari, namun nyawanya tidak tertolong. Jasad korban lalu dibawa ke rumah duka di Lorong Karya, Jalan Faqih Usman, Kelurahan 2 Ulu, Kecamatan SU I Palembang. Sementara polisi kini masih melakukan pemeriksaan terhadap pelaku.

“Kami amankan, masih diperiksa,” tukas Irwan.

Tulang Punggung Keluarga
Duka mendalam dirasakan Yanti (65 tahun) yang mendapati kenyataan putranya Boy Sandi, meninggal dunia dengan cara dibunuh. Di dekat jenazah sang putra, Yanti tak henti-hentinya memanjatkan doa.

Di tengah kesedihannya, Yanti mengungkapkan bahwa putranya bernama Boy Sandi (36) merupakan tulang punggung keluarga.

“Anak saya ini kerja setiap hari untuk memenuhi kebutuhan keluarga. Dia selalu bantu keluarganya,” kata Yanti saat ditemui di rumah duka di Lorong Karya, Jalan Faqih US, Kelurahan 2 Ulu.

Malam saat peristiwa berdarah itu, Yanti mengaku tak memiliki firasat apa-apa. Namun seketika hatinya gelisah saat putranya tak kunjung pulang padahal sudah larut malam.

“Sekitar pukul 01.00, saya dapat kabar anak saya terkapar di jalan. Kenapa anak saya disakiti orang? Saya kaget dan ini jadi tanda tanya buat saya,” kata Yanti sambil bercucur air mata.

Wanita 65 tahun ini mengisahkan, sejak Boy berpisah dengan istrinya beberapa tahun lalu, ia bertekad ingin menghidupi kedua anaknya.

Sehingga, Boy bekerja menjadi buruh bangunan dan pengemudi ojek.

“Anaknya dua, dia sendirian yang cari uang setelah berpisah dengan istrinya,” ungkap Yanti.

Tanggung jawab mendiang Boy, akhir-akhir ini makin besar karena sang ayah bernama Azzumar yang berusia 70 tahun, menderita sakit tifus dan hanya terbaring lemah di rumah. Sehingga Boy harus mencari biaya tambahan untuk mengobati ayahnya.

“Bapaknya sakit. Kemudian dua cucu saya ini masih sekolah SD dan SMP.”

“Mereka masih butuh kasih sayang orang tua mereka,” kata Yanti menuturkan.

Keluarga meminta pihak berwajib menghukum pelaku sesuai perbuatannya.

“Kami minta hukum setimpal,” kata Yanti yang terus menangis.

Mendiang Boy Sandi meninggalkan dua orang anak yakni Citra Wulandari (14 tahun) dan Putra Ramadan (8 tahun). Jenazah Boy akan dimakamkan di TPU Kamboja. (305/spc)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.