Guruh Soekarnoputra bicara tentang PDI-P dan sejuta kegundahan di hatinya. Seperti biasa, bicaranya pelan, suaranya cenderung lirih, tetapi tekadnya begitu kuat untuk memperbaiki partai yang jika diibaratkan mobil, sudah dalam kondisi tak laik jalan.
Bukan cuma mobilnya yang perlu masuk bengkel, sopirnyapun perlu diganti. Jika tidak ada perubahan signifikan, dalam pemilu 2014, PDI-P bukan tidak mungkin akan jadi partai gurem.
Apa sesungguhnya yang terjadi dengan PDI-P? Kenapa partai yang jadi pemenang dalam pemilu 1999, terus-menerus melorot posisinya dalam dua pemilu berikutnya?
“Mbak Mega sudah tak layak jual. Masanya sudah lewat,” ujar Guruh. Dengan demikian, Megawati sudah saatnya melepas jabatannya sebagai Ketua Umum PDI-P jika masih ingin melihat partainya itu berkibar dalam pentas politik.
Yang barangkali dilupakan Guruh adalah bahwa PDI-P memang semata-mata soal Megawati. Tak ada satupun orang yang bisa membayangkan PDI-P tanpa Megawati. Sepertinya alam menciptakan PDI-P semata-mata untuk jadi istana politik Megawati, sama seperti kerajaan Dwaraka diciptakan hanya untuk Sri Kresna.





