WHO: Rumah Sakit Terbesar di Gaza Jadi ‘Sebuah Cangkang Kosong dengan Kuburan Manusia’

rs gaza
Kondisi RS di Gaza yang hancur akibat kebiadaban Israel. (ist)

JENEWA | patrolipost.com – Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mengatakan pada hari Sabtu (6/4/2024) bahwa rumah sakit terbesar di Gaza telah hancur menjadi abu akibat pengepungan terbaru Israel, meninggalkan “kulit (cangkang) kosong” yang berisi banyak jenazah.

Staf WHO yang mendapat akses ke fasilitas yang hancur pada hari Jumat pekan lalu menggambarkan pemandangan mengerikan dari mayat yang hanya terkubur sebagian, dengan anggota tubuh yang menonjol, dan bau busuk dari mayat yang menyengat.

Bacaan Lainnya

Pasukan Israel keluar dari rumah sakit Al-Shifa di Kota Gaza pada hari Senin setelah operasi militer selama dua minggu, yang selama itu dikatakan telah memerangi “militan” Palestina di dalam kompleks medis paling penting di wilayah Palestina.

Menurut badan kesehatan PBB, sebuah misi yang dipimpin WHO akhirnya mengakses rumah sakit tersebut pada hari Jumat, setelah beberapa kali gagal sejak 25 Maret 2024.

Mereka menemukan kehancuran besar-besaran dan mendengar laporan bahwa pasien “ditahan dalam kondisi yang sangat buruk” selama pengepungan dan beberapa orang meninggal.

“WHO dan mitranya berhasil mencapai Al-Shifa –yang pernah menjadi tulang punggung sistem kesehatan di Gaza, yang kini menjadi cangkang kosong dengan kuburan manusia setelah pengepungan terakhir,” tulis Direktur Jenderal WHO Tedros Adhanom Ghebreyesus di X, sebelumnya Twitter.

Dalam sebuah pernyataan, WHO mengatakan tidak ada pasien yang tersisa di rumah sakit, di mana “banyak kuburan dangkal” telah digali di luar unit gawat darurat dan gedung administrasi dan bedah.

“Banyak jenazah yang terkubur sebagian dengan anggota badannya terlihat,” katanya.

Selama kunjungan mereka, staf WHO menyaksikan setidaknya lima jenazah tergeletak sebagian di tanah, terkena panas.  Tim melaporkan bau menyengat dari mayat-mayat yang membusuk memenuhi kompleks rumah sakit.

“Menjaga martabat, bahkan dalam kematian, adalah tindakan kemanusiaan yang sangat diperlukan,” tegas WHO.

Misi tersebut, yang dilakukan bekerja sama dengan badan-badan PBB lainnya dan penjabat direktur rumah sakit, menemukan bahwa “skala kehancuran telah membuat fasilitas tersebut tidak berfungsi sama sekali”.

Mereka mengalami kekurangan makanan, air, layanan kesehatan, kebersihan dan sanitasi, dan terpaksa pindah ke bangunan lain di bawah todongan senjata.

Setidaknya 20 pasien dilaporkan meninggal, katanya, “karena kurangnya akses terhadap perawatan dan terbatasnya pergerakan yang diperbolehkan bagi petugas kesehatan”.

Tedros mengatakan upaya WHO dan kelompok bantuan lainnya untuk menghidupkan kembali layanan dasar di Al-Shifa setelah serangan pertama Israel yang menghancurkan rumah sakit tersebut tahun lalu “kini hilang”.

“Masyarakat sekali lagi kehilangan akses terhadap layanan kesehatan yang menyelamatkan nyawa,” lanjutnya.

WHO mengkonfirmasi, dari 36 rumah sakit utama di Gaza, hanya 10 yang masih berfungsi sebagian. (pp04)

 

Pos terkait