Terjebak “Reservation Wage” Pekerja Muda di Bali

Dr. Komang Agus Rudi Indra Laksmana, MM.

 

Bacaan Lainnya

 

DENPASAR | patrolipost.com – Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Bali baru saja merilis laporan Februari 2021, ada sejumlah data menarik yang menjadi perhatian yakni jumlah angkatan kerja dan pengangguran di Bali yang mengalami penurunan. Apabila disimak terdapat 2,57 juta orang angkatan kerja dengan status 2,43 juta orang memiliki pekerjaan atau bekerja dan sebanyak 0,14 juta orang berstatus menganggur. Walaupun Angkatan kerja pada bulan Februari 2021 mengalami penurunan sebesar 1,49 ribu orang, kondisi ini mampu meningkatkan jumlah orang yang bekerja sebanyak 3,9 ribu orang dan menurunkan angka pengangguran sebesar 5,4 ribu orang dibandingkan Agustus 2020.

Menurunnya angka pengangguran ini merupakan kontribusi tertinggi dari penyerapan pada sektor pertanian dan perdagangan eceran sebesar hampir 45 persen dari bulan Agustus 2020, Struktur pekerja informal berubah di bulan Agustus 2020 sebesar 49,02% menjadi 56,07% di Februari 2021, dan sebaliknya pekerja formal berubah dari 50,98% menjadi 43,93% di periode yang sama, hal ini menjadi sangat wajar disaat pandemic Covid-19 terjadi gelombang PHK sehingga menyebabkan pergeseran pekerjaan utama kepada kedua sektor informal tersebut, sehingga kedua sektor mendapatkan limpahan tenaga kerja yang tinggi.

Namun ada baiknya kita melihat lebih hati-hati bahwa komposisi pengangguran di Bali mayoritas dari penganggur muda berpendidikan SMA ke atas, lebih spesifiknya lagi adalah SMA Umum, SMK, Diploma dan Sarjana. Data BPS menunjukan bahwa Februari 2021 pekerja di Bali didominasi mereka yang berpendidikan SMP ke bawah sebesar 44,58%, angka ini jauh diatas dari lulusan Diploma/Universitas hanya sebesar 19,13% dan SMA/SMK sebesar 36,29%, angka ini memang tidak berbeda jauh dengan kondisi di bulan Agustus 2020 yakni pekerja SMP kebawa sebesar 47,28%, SMA/SMK 35,74% dan Diploma/Universitas hanya 16,98. Artinya persentase penganggur muda memang berkurang di bulan Februari 2021, tetapi itu untuk mereka yang berpendidikan SMP ke bawah, artinya secara intuitif, penganggur muda dengan tingkat Pendidikan SMP ke bawah lebih mudah untuk mendapatkan pekerjaan.

Dalam bahasa ekonomi, reservation wage (tingkat gaji minimal yang bersedia diterima oleh pekerja), ada kecenderungan kelompok anak muda yang berpendidikan tinggi memiliki ekspektasi yang tinggi  terhadap “pekerjaan yang lebih baik” karena tingkat Pendidikan yag lebih tinggi. Berbeda dengan kelompok anak muda berpendidikan SMP ke bawah, ekspektasi mereka tidak terlalu tinggi, kelompok ini lebih bisa menerima “pekerjaan apa saja” atau upah yang lebih rendah, asal bisa hidup.

Pengamat Ekonomi Chatib Basri pernah menulis opininya bahwa biasanya kelompok anak muda yang terjebak dalam reservation wage berasal dari kelas menengah yang merupakan kelompok masyarakat yang sulit untuk disimpulkan dan beranekaragam namun ada kesamaan mereka adalah professional complainers (pengeluh ulung). Dengan ekspektasi yang mereka punya, kelompok ini menuntut pekerjaan di sektor formal, dengan penghasilan yang cukup baik. Kelompok ini bisa begitu frontal mengungkapan ketidakpuasan termasuk melalui media sosial.

Permasalahan ini harus menjadi perhatian serius, melihat tingkat pengangguran terbuka di Bali yang didominasi oleh Diploma/Universitas sebesar 20,61% jauh lebih tinggi dari pengangguran terbuka berpendidikan SMP ke bawah hanya sebesar 2,08% hal ini memberikan peringatan bahwa perlu penguatan Pendidikan tinggi untuk segera melakukan adopsi terhadap Pendidikan vokasi, melalui penguatan Kerjasama diantara institusi Pendidikan dengan industry manufaktur, memberikan insentif pajak bagi perusahaan yang bersedia melakukan perbaikan kualitas SDM melalui Pendidikan vokasi, kemudian mendorong kegiatan research & development untuk menghasilkan produk yang inovatif.

Permasalahan pengangguran terjadi tidak hanya faktor keadaan saja, namun perubahan dari struktural, sisi demografi, perubahan teknologi yang cukup pesat sehingga demi efisiensi tenaga kerja banyak perusahaan yang beralih menggunakan mesin. Namun dari berbagai macam faktor tersebut, ada faktor gengsi, keeganan memiliki pekerjaan yang dirasa pantas, pola pikir ini yang menjadi permasalahan pada generasi muda saat ini. (red)

 

 

 

 

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.