Senam Otak Bangkitkan Jiwa Muda Kalangan Lansia

JAKARTA | patrolipost.com – Soul never old, merupakan kalimat singkat yang selalu tertanam di benak perempuan bernama Itjeu Siti Aisya. Meski usianya menginjak angka 65, tetapi semangat dalam berkarya tetap membara. Untuk itulah, sapaan hangat ‘kakak’ kepada semua orang tanpa memandang usia sudah menjadi kebiasaannya. Untuk menjaga jiwa dan rohaninya tetap muda, Itjeu memiliki sebuah ritual unik, yang disebut senam otak variasi.
Memiliki gerakan yang lebih sederhana dari jenis senam lainnya, Itjeu menyadari senam otak memang belum marak dan diminati masyarakat luas. Namun, karena melihat banyak sekali manfaat yang bisa didapat dari senam otak, Itjeu memiliki inisiatif untuk menerbangkan gerakan senam yang sempat  dirinya pelajari bersama komunitas lanjut usia (lansia) di Perth, Australia. Itjeu mengklaim, senam otak variasi miliknya beda dengan senam otak lain.
Senan otak versinya mengutamakan kegembiraan dibanding gerak senam yang kompleks. “Lansia tidak butuh apa-apa, hanya butuh happy. Happy kalau di-breakdown itu luas. Kenapa senam otak? Senam otak itu revolusi mental, kalau kita bisa me-manage otak kita, maka hal-hal positif akan terjadi. Yang penting, kita bisa berkreasi agar kita sehat, otak fokus, terbebas dari alzaimer, dan yang terpenting ada inspirasi bagi orang banyak,” terang Itjeu.
Khasiat senam otak pun sudah dirasakan oleh ratusan bahkan ribuan lansia yang pernah mencobanya bersama Itjeu. Sebagian besar dari mereka mengaku senang melakukan senam otak, dan merasa tubuhnya lebih merasa sehat dan ringan untuk digerakkan. Menjadi inspirasi untuk kaum lansia untuk menjalani kehidupan dengan tersenyum, merupakan sebuah semangat yang kini ia kobarkan tanpa henti. Karena semua berakar dari keresahannya.
Ia merasa resah melihat kondisi lansia di Indonesia yang termajinalkan. Hasil perhitungan pada 2015, lansia yang berusia 60 tahun ke atas dan berasal dari 96 negara yang mewakili proporsi lansia besar. Negara Indonesia pun masuk pada peringkat 74 dari 96 negara. Di antara 23 negara Asia Pasifik, lansia Indonesia menduduki peringkat 15. Dirinya prihatin. Kesejahteraan lansia merupakan tanggung jawab pemerintah, keluarga, dan masyarakat.
“Jadi lansia itu tidak enak. Pertama, fasilitas dan transportasi umum di Indonesia tidak ramah lansia. Seperti, jembatan penyeberangan dengan anak tangga banyak dan tinggi. Kemudian, jaminan santunan lansia yang dijanjikan pemerintah juga belum berjalan dengan baik,” terang Itjeu. Selanjutnya, stigma lansia yang digambarkan sebagai sosok lemah juga acapkali terbangun dari kalangan masyarakat, bahkan lingkup terkecil, yaitu keluarga.
Banyak keluarga yang tak sadar bahwa orang tua berusia lanjut juga memiliki keinginan untuk bahagia. “Ketika lansia telah memiliki cucu, anak-anaknya meminta mereka untuk menjaga cucu. Sudah tua,di rumah saja, menjaga cucu. Ini sesungguhnya celaka untuk para lansia. Dulu sudah momong anak, kok saat sudah tua juga disuruh momong cucu? Kapan mereka punya waktu untuk me time dan beristirahat,” terang Itjeu. (btu)

Pos terkait