Rektor ITB STIKOM Bali Dr Dadang Hermawan: BUMN Masih Butuh Ribuan Sarjana Komputer

foto stikom
Foto bersama insan pers dengan civitas akademika ITB STIKOM Bali usai Coffe Morning. (ist)

DENPASAR | patrolipost.com – Dunia industri, instansi pemerintah serta BUMN setiap tahunnya membutuhkan ribuan sarjana komputer. Kebutuhan itu belum bisa dipenuhi oleh lembaga pendidikan tinggi yang ada, termasuk ITB STIKOM Bali.

“Jadi peluang kerja untuk sarjana komputer masih terbuka lebar, sebab faktanya sampai hari ini suplay masih rendah daripada demand,” ujar Rektor Institut Teknologi dan Bisnis (ITB) Sekolah Tinggi Ilmu Komputer (STIKOM) Bali Dr Dadang Hemawan, dalam Coffe Morning dengan media massa, Rabu (9/2/2022) di Denpasar.

Bacaan Lainnya

Menurutnya, bukti bahwa BUMN membutuhkan banyak sarjana komputer, salah satunya PT Telkom sudah 3 tahun berturut-turut datang ke ITB STIKOM Bali karena masih kekurangan sarjana komputer. Setiap tahun, sedikitnya PT Telkom membutuhkan 1.000 sarjana komputer di seluruh Indonesia.

“Kejaksaan Agung RI melalui Kejari Badung juga mendatangi kita menyampaikan hal yang sama, bahwa formasi ASN untuk sarjana komputer belum terpenuhi,” imbuh Dadang.

Menyikapi tingginya kebutuhan sarjana komputer tersebut ITB STIKOM terus melakukan inovasi dan terobosan, khususnya menjalin kerjasama dengan berbagai pihak, termasuk dengan media massa. Sampai saat ini sedikitnya sudah ditandatangani 200 momerendum of Understanding (MoU) antara ITB STIKOM dengan pihak lain, serta pada Februari 2022 ini menandatangani 45 MoU dengan media massa.

Ditambahkan Dadang, saat ini ada 6.500 mahasiswa yang menuntut ilmu di ITB STIKOM Bali, 80 persen diantaranya merupakan putra-putri asal Bali. Sisanya dari seluruh provinsi di Indonesia, dengan jumlah terbesar, NTB, Jawa Timur dan NTT.

Salah satu terobosan yang dilakukan, kata Dadang, ITB STIKOM membuka program kuliah sambil kerja ke Jepang. Saat ini ada 20 mahasiswa ITB STIKOM magang di beberapa perusahaan di Kyoto dan Osaka.

“Berbeda dengan di Indonesia, di sana (Jepang) mahasiswa magang diberi uang saku sampai Rp 15 juta per bulan. Saat ini sudah antre ratusan mahasiswa menunggu giliran dikirim ke Jepang. Namun Pemerintah Jepang belum membuka lagi kerjasama ini karena masih khawatir dampak Covid-19,” urainya.

Selain itu juga ada program internship magang secara daring bekerjasama dengan Lithan EduClass Singapore sejak 4 Oktober 2021. Ada 100 mahasiswa mengikuti program ini selama 4 tahun. Biaya kuliah hanya ditanggung mahasiswa ditahun pertama, sedangkan tahun kedua sampai tahun ke-4 mahasiswa menerima uang saku yang besarnya Rp 100 juta per 3 tahun.

“Per tahun mereka mendapat uang saku Rp 33 juta, per bulannya,  sekitarRp 2,7 juta,” tutup Dadang, seraya menyebut, saat ini sedang dibuka proses pendaftaran batch 2 sampai tanggal 20 Februari 2022. (807)

Pos terkait