Psikolog: Guru Ajak Siswanya Threesome Mengarah Pedofilia

Foto ilustrasi/npr.org

DENPASAR | patrolipost.com – Kasus oknum guru di Singaraja yang mengajak siswanya melakukan seks menyimpang (threesome atau seks bertiga) dengan kekasihnya mengejutkan publik. Sebagai pendidik yang telah dewasa, perkembangan psikis pelaku dinilai terganggu, termasuk kekasihnya yang pegawai honorer di Pemkab Buleleng tersebut.

“Kalau si pelaku menikmati berhubungan seksual dengan anak di bawah umur, orientasi seks pelaku bisa mengarah pada pedofilia,” ungkap I Gusti Ayu Putu Wulan Budisetyani MPsi, Dosen Psikologi Universitas Udayana, Selasa (12/11).

Menurut Wulan Budisetyani, pelaku mengalami perkembangan psikis yang tidak matang. Pelaku dan kekasihnya sudah seharusnya mampu mengontrol atau mengendalikan fantasi seks di usia mereka saat ini yang dikatakan sudah matang.

Seperti diberitakan media massa, oknum guru tersebut, Sri Novi Darmaningsih (29) adalah guru bahasa di salah satu SMK, sedangkan pacarnya AA Putu Wartayasa (36), pegawai honorer di Pemkab Buleleng. Sedangkan siswi yang mereka ajak threesome berinisial V (15), murid di sekolah tempat Novi mengajar.

“Bu Guru dan pacarnya kan terinspirasi melakukan threesome dari film porno. Nah, di usia mereka saat ini seharusnya mereka sudah mampu mengontrol atau mengendalikan fantasi seks seperti itu. Dan ini menjadi tambah runyam karena yang diajak threesome adalah anak di bawah umur,” imbuhnya.

Kejadian yang menimpa korban ditakutkan akan menimbulkan masalah psikis dan trauma berkelanjutan. Dikhawatirkan korban akan melakukan hal yang sama kepada orang lain di kemudian hari. Sebab, pada dasarnya pelaku kekerasan seksual adalah korban yang mengalai kekerasan di masa lalu.

Pendampingan kepada korban harus dilakukan secara komprehensif, baik medis maupun psikologis oleh para tenaga ahli yang berwenang agar korban tidak mengalami stress dan depresi. Ramainya kasus yang diperbincangkan ini bisa jadi membuat korban malu dan enggan beraktivitas keluar rumah.

Diharapkan adanya kerjasama dari orangtua, keluarga, teman-teman sekolah, dan masyarakat untuk membantu pemulihan kondisi psikis korban dengan tidak terus menerus bercerita atau bertanya mengenai peristiwa tersebut. Bersikap seperti biasanya dengan mengajak korban beraktivitas di sekolah, di rumah, dan di lingkungan seperti hari-hari biasanya akan membantu memulihkan kondisi psikis korban.

Terakhir, I Gusti Ayu Putu Wulan Budisetyani menyampaikan pentingnya memberikan pengetahuan seks sesuai usia anak dan remaja. Hal tersebut diperlukan untuk membekali anak dan remaja mengenali tindak kejahatan seksual, akibatnya, dan cara untuk menghindarinya. (cr01)

Pos terkait