Pasar Ubud Rampung, Diresmikan Gubernur Koster dan Bupati Mahayastra

pasar 22222
Pasar Ubud Rampung, Diresmikan Gubernur Koster dan Bupati Mahayastra

GIANYAR | patrolipost.com – Setelah rampungnya pengerjaan Pasar Tematik Ubud, Gubernur Bali, I Wayan Koster Bersama Wakil Gubernur Bali Tjokorda Oka Artha Ardhana Sukawati dan Bupati Gianyar I Made Mahayastra melakukan peresmian Pasar Tematik Ubud. Peresmian yang dilaksanakan bertepatan dengan hari suci Purnama Kedasa yang jatuh pada Hari Rabu, (5/4) juga dilaksanakan upacara melaspas, mendem pedagingan.

Gubernur Koster yang hadir dalam kesempatan tersebut mengapresiasi langkah Bupati Gianyar untuk membangun pasar di sentra Ubud. “Saya mengapresiasi langkah bupati dalam membangun pasar tematik pariwisata di Ubud ini. Karena memang Ubud telah menjadi sentra pariwisata di Gianyar dan Bali. Dan historisnya juga dimulai dari Ubud,” terangnya usai melaksanakan mendem pedagingan di belakang patung Cokorda Gde Agung Sukawati ikon Pasar Ubud.

Hal tersebut merupakan suatu upaya untuk menjaga pariwisata Ubud di samping untuk menarik wisatawan. “Nah itu sebagai satu upaya untuk terus menjaga dan memajukan pariwisata di Bali dan terutama di Gianyar di Ubud ini. Saya kira apa yang dibangun ini akan menjadi fasilitas yang baik untuk meningkatkan daya tarik wisatawan, sekaligus juga sebagai fasilitas pelayanan yang baik pada wisatawan,” lanjutnya.

Disamping penataan Pasar Ubud yang baik, Gubernur Koster juga mengaku bangga dengan keberadaan patung Cok. Gde Agung Sukawati di area Pasar Ubud. Hal tersebut menandakan suatu penghormatan atas jasa Cok. Gde Agung Sukawati dalam memajukan pariwisata di era terdahulu.

“Yang membanggakan adalah di dalam pasar ini dibangun patung Cok Gede Agung Sukawati, sebagai monumen yang melambangkan jasa besar beliau terhadap kepariwisataan Bali di Gianyar yang memang wisata budaya itu bermula lahirnya di Ubud pada tahun 1930. Jadi saya kira ini satu monumen yang sangat penting mengingatkan kita dan bagi generasi penerus apa yang beliau wariskan kepada kita untuk menjaga pariwisata berbasis budaya harus kita teruskan ke depan agar pariwisata Bali tetap eksis dan bisa bersaing di dalam maupun luar negeri,” pungkasnya.

Sementara itu, Bupati Mahayastra menekankan bahwa pasar dulunya tempat orang berkumpul, antara penjual dan pembeli namun kini harus baik secara estetika dan nyaman bagi pengunjung dan pedagang.

“Kita punya 7 pasar kecamatan dan ada juga pasar seni Sukawati dan Guwang namun dalam pembangunannya belum representative. Dahulu kita bangun yang penting ekonomi berputar orang berkumpul dan berjualan namun dari segi estetika belum kelihatan sehingga syukur mulai 4 tahun terakhir sejak saya jadi bupati kita serius menggarap pasar yang dimulai dari pasar Gianyar, Sukawati Blok A,B,C dan sekarang Pasar Ubud,” jelasnya.

Pasar Ubud mencerminkan keseriusan pemerintah dalam menata Gianyar hingga ke kecamatan bahkan sampai desa. Sehingga di Gianyar yang merupakan destinasi pariwisata yang masuk 3 besar Pariwisata Bali bersama Badung dan Denpasar memang wajib membuat wisatawan nyaman.

“Jangan datang ke pasar itu lihat pasar kumuh, kotor, bau, makanannya tidak higienis, desak-desakan. Kalau seperti ini kan kita nyaman sehingga kita berharap ini menjadi destinasi wisata kedepannya,” harap Bupati Mahayastra sambil menunjuk Pasar Ubud yang tertata rapi.
Terlebih di Pasar Ubud disamping adanya pasar tradisional juga ada pasar seni yang menjual barang hasil kerajinan masyarakat Gianyar.

“Kedepan wisatawan tidak hanya ke desa-desa, ke sawah-sawah, Goa Gajah, Tirta Empul tapi juga ke pasar. Mereka ingin melihat produk-produk hasil kerajinan masyarakat Gianyar yang dipasarkan di Pasar Ubud karena di sini ada pasar seninya di samping pasar tradisional,” tandasnya.

Bupati Mahayastra juga menekankan bahwa setelah pemlaspasan para pedagang akan diarahkan untuk masuk menempati tempat yang disediakan.

“Setelah hari ini kita siapkan pedagang untuk masuk, walaupun tidak 100 persen, kita akan mulai memasukkan pedagang karena hari ini dilaksanakan pemlaspasan Agung, Mependeman sebagai prosesi atau keyakinan kita di Bali dan Gianyar untuk mereka bisa berjualan,” pungkas Bupati Mahayastra. (kominfo)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.