HUT ke-23, IDEP Foundation Gelar Pekan Masyarakat Tangguh

idep
Koordinator Pendukung IDEP Foundation Sri Handayani (tengah) dan Koordinator Pengambangan Sumber Daya dari IDEP Foundation, Edward Angimoy (kanan). (yani)

DENPASAR | patrolipost.com – Memeriahkan HUT ke-23, Idep Selaras Alam Foundation atau lebih dikenal IDEP menggelar Pekan Masyarakat Tangguh yang berlangsung  selama sepekan, mulai dari 9-15 Mei 2022 mendatang. Pekan Masyarakat Tangguh merupakan sebuah awal dan bentuk dari eksperimentasi IDEP dan komunitas lainnya untuk menuju masyarakat tangguh serta akan menjadi wahana dalam menampilkan model-model masyarakat tangguh yang juga dapat direplikasi sesuai dengan kebutuhan kondisi lokal masing-masing wilayah.

Koordinator Pengambangan Sumber Daya dari IDEP Foundation, Edward Angimoy mengatakan di tengah berkembangnya virus Covid-19, analisis World Food Program mencatatkan sebanyak 41 juta orang mengalami kelaparan selama bertahun-tahun dan kelaparan di dunia terus meningkat terlebih di negara-negara berkembang dengan tingginya tingkat kemiskinan.

Pada saat yang bersamaan, kekeringan dan banjir terjadi di sebagian besar wilayah yang diakibatkan oleh perubahan iklim. Bahkan, pemanasan global terus meningkat dan melaju begitu cepat hingga melampaui kemampuan negara-negara untuk merespon masalah ini.

Meskipun bencana bertubi-tubi hadir dan pandemi masih saja menghantui, akan tetapi proyek pembangunan terus berlangsung bahkan merambas areal konservasi. Salah satu di Bali, proyek Tol Gilimanuk-Mengwi berlangsung di tengah pandemi dan mengambil kawasan pertanian, hutan lindung, hingga Taman Nasional Bali Barat.

“Padahal ada alternatif yang dapat dilakukan untuk menanggulangi krisis pangan dan iklim, yaitu dengan food forest. Konsep ini yang diterapkan IDEP sebagai salah satu respon terhadap krisis lingkungan yang terjadi saat ini. Dengan pendekatan permakultur, proyek food forest ini sedang kami kerjakan modelnya secara khusus di Banjar Bukit Sari, Desa Sumberklampok, Buleleng,” ungkap Edward Angimoy dalam Konferensi Pers IDEP di Kubu Kopi Denpasar, Senin (9/5/2022).

Menurutnya, Food forest menawarkan bentuk yang berkelanjutan; berorientasi ekologi dan berpihak pada masyarakat. Ketika masyarakat memiliki kendali atas sarana produksi dan lahan, makan kedaulatan pangan tentu dapat dicapai.

Edward juga menambahkan, kedaulatan pangan penting karena warga berdaulat untuk menentukan produksi, distribusi, dan konsumsi pangan secara lokal, mandiri, dan berkelanjutan. Tentunya dengan tujuan yang jelas, agar warga terhindar dari krisis pangan.

“Mewujudkan kedaulatan pangan adalah capaian yang diupayakan IDEP selama hampir 23 tahun. Melalui pendekatan permakultur, IDEP mulai melakukan pendampingan kepada masyarakat untuk menjadi lebih tangguh dan mandiri. IDEP mencoba untuk menghasilkan sebanyak-banyaknya model yang dapat memberikan gambaran nyata bagi masyarakat tentang manfaat menjadi tangguh dan bagaimana menuju ke situ,” katanya.

Dimana model-model menuju masyarakat tangguh yang ditampilkan IDEP ini pun dirangkum dalam suatu rangkaian kegiatan yang berlangsung selama sepekan di Pekan Masyarakat Tangguh.

Selama sepekan, akan ada berbagai kegiatan, diantaranya Seri Webinar: Permakultur Indonesia yang dilaksanakan pada Selasa (10/5/2022) dengan tema Model Masyarakat Tangguh Bencana. Kemudian pada Kamis (11/5/2022) dilanjutkan dengan kegiatan membahas tentang Perancangan Arsitektur dan Teknologi Tepat Guna untuk Masyarakat Tangguh.

Berikutnya, akan digelar webinar dengan tema Prinsip Permakultur dalam Pertanian Berkelanjutan untuk Kedaulatan Pangan pada Jumat (12/5/2022). Dan terakhir pada Sabtu (14/5/2022) berlanjut dengan mengangkat topik Merawat Pengetahuan Lokal, Merawat Relasi dengan Alam.

Selain itu, IDEP juga akan melakukan penanaman pohon bersama warga di lokasi food forest, tepatnya di Sumberklampok dan sekitarnya wilayah yang berdekatan dengan hutan lindung. Tidak hanya itu, akan digelar juga Pasar Rakyat yang berlangsung secara daring di seluruh media sosial IDEP dan luring di Kulidan Kitchen & Space.

“Pasar Rakyat akan menjadi etalase produk-produk petani dampingan IDEP dan mitra–UKM & industri rumah tangga hingga yang menerapkan komponen-komponen permakultur. Kemudian akan ada pameran yang menampilkan dokumentasi perjalanan IDEP  selama 23 tahun. Pameran ini akan berada di ruang daring dan luring, sehingga siapa saja bisa melihat proses dan dinamika IDEP selama ini,” imbuhnya.

Sedangkan pada puncak dalam Pekan Masyarakat Tangguh ini juga akan diisi dengan rangkaian lokakarya diantaranya Pembibitan Tanaman Sayur, Pengolahan Buah Menjadi Selai Buah, Pengolahan Kompos Skala Rumah Tangga, Pembuatan Pewarna Alami, dan Pengolahan Limbah Plastik Menjadi Ecobricks. Kegiatan ini pun diharapkan menjadi berkelanjutan, menginspirasi, dan dapat diimplementasikan dalam kehidupan sehari-hari.

“Puncak yang berlangsung Minggu (15/5/2022) ini juga akan diisi dengan presentasi karya proyek sosial dari komunitas dan pelajar yang terpilah dari proses seleksi sayembara yang berlangsung selama Pekan Masyarakat Tangguh. Lalu, akan ada bedah buku sekaligus Soft-Launching Buku IDEP bertajuk Permakultur di Wilayah Tropis. Kemudian sesi diskusi dilanjutkan dengan Pemutaran Film Lokawana yang akan membahas tentang krisis lingkungan di Bali. Puncak rangkaian acara pun akab diakhiri dengan hiburan dari musisi dan seniman yang mendukung kegiatan-kegiatan yang berorientasi lingkungan dan masyarakat,” sebutnya.

Edward menjelaskan, selain IDEP juga akan ada berbagai komunitas, public figure, seniman, organisasi, dan masih banyak lagi yang akan melengkapi visi menuju masyarakat tangguh di Indonesia.

“Pekan Masyarakat Tangguh ini diharapkan dapat menjadi penghubung antara warga, organisasi sipil, pemerintah, institusi pendidikan, sektor swasta, dan semua pihak yang punya harapan sama, yakni menjadi masyarakat tangguh bersama-sama, sebab jejaring adalah kunci memperluas gerakan bahwa masyarakat tangguh itu bukan mustahil untuk dilakukan bersama-sama,” jelasnya.

Sementara Koordinator Pendukung dari IDEP Foundation Sri Handayani menuturkan segala rangkaian Pekan Masyarakat Tangguh juga bertujuan untuk menghimpun masyarakat dan menginisiasi jejaring nasional permakultur Indonesia.

“Sebenarnya acara ini dilatarbelakangi oleh rasa syukur kami dan juga rasa bahagia kami untuk menyambut merayakan hari jadi kami yang kebetulan di bulan ini genap berusia 23 tahun. Tentunya selama 23 tahun ini kami sudah berproses kami menerima begitu banyak pembelajaran, pengalaman yang sudah rekan-rekan jejaring, pendukung-pendukung kami berikan sehingga sampai di 23 tahun ini masih ada dan tetap bisa berkarya,” ucapnya.

Pihaknya juga berharap Pekan Masyarakat Tangguh ini dapat menjadi salah satu ajang untuk IDEP bisa selalu menyebarluaskan dan berbagi ilmu terutama dibidang permakultur dan juga kesiapsiagaan bencana.

Sri Handayani menyampaikan IDEP merupakan LSM Indonesia yang dibentuk secara resmi di Bali pada 1999 dan memiliki visi misi. Yakni visi IDEP adalah kehidupan tangguh yang selaras dengan alam. Untuk misi, IDEP memiliki 5 misi yaitu menguatkan ketahanan masyarakat, mendorong kedaulatan sumber daya alam lokal, melestarikan lingkungan hidup dan budaya, meningkatkan kapasitas masyarakat, dan memperkuat kelembagaan dan jaringan dengan berbagai pihak. (030)

Pos terkait