HOT NEWS: Seorang Dokter di Bangli Jadi Korban Arisan Online Rp 80 Juta

Sejumlah peserta arisan online saat melapor di SPKT Polres Bangli, Selasa (2/6/2020).

BANGLI | patrolipost.com – Kasus arisan online kembali mencuat di Bangli. Kini giliran seorang dokter di salah satu rumah sakit di Bangli bersama rekan- rekannya  yang  menjadi korban  arisan online  melapor ke SPKT Polres Bangli, Selasa (2/6/2020).  Dokter gigi  berinisial PSM (39) yang ikut dalam arisan online telah menyetor uang Rp 80 juta.

Kapolres Bangli AKBP I Gusti Agung Dhanan Aryawan saat dikonfirmasi tidak menampik kalau telah ada pengaduan masyarakat terkait arisan online.

Bacaan Lainnya

Kata Kapolres,  pengaduan  datang dari seorang warga  berinisial PSM yang berasal dari Desa Abuan, Kecamatan Susut, Bangli. Dalam pengaduannya yang bersangkutan melaporkan seorang perempuan berinisial PMPS asal Kelurahan Kubu, Kecamatan Bangli.

Dalam pengaduan tersebut, PSM  mengungkapkan kronologis kasus yakni berawal pada bulan September 2019 lalu. Kala itu dirinya diajak untuk ikut bergabung dalam arisan online oleh PMPS melalui media sosial Facebook. “Korban dijanjikan akan mendapatkan keuntungan yang menggiurkan,” jelasnya, Rabu (3/6/2020).

Akhirnya PSM memutuskan untuk ikut arisan online tersebut. Tidak hanya satu group, PSM ikut pada enam group dengan menyetorkan uang sebesar Rp 80 juta. Sementara  untuk  jatuh tempo  setiap arisan berbeda-beda. Akan tetapi PSM yang sudah menyetorkan uang puluhan juta sampai saat ini tidak menerima uang yang telah dijanjikan.

“Baik uang arisan ataupun uang keuntungan yang telah dijanjikan belum dibayarkan sehingga PSM merasa dirugikan,” ungkapnya.

Lantas  tindak lanjut atas pengaduan tersebut, kata AKBP Gusti Dhanan bahwa pengaduan tersebut akan didalami. “Untuk sementara laporan pengaduan kita lidik dulu, apabila nanti ada kesamaan laporan dengan kasus arisan online yang sudah dilaporkan ke Polda, maka laporan dimaksud akan diserahkan ke Polda karena prosesnya sudah berjalan di Polda,” tegasnya.

Sementara  salah satu korban lainnya mengaku telah menyetor uang hingga ratusan juta, namun harapan untuk mendapatkan keuntungan sirna.

”Sudah sempat beberapa kali saya cari ke rumahnya (PMPS, red), tapi selalu tidak ada. Selain itu kini yang bersangkutan sulit dihubungi,” ujar wanita asal Karangsem ini. (750)

Pos terkait