Aniaya Teman Sekolah Saraf Leher Putus dan Tewas, Polisi Tahan Siswa MTs di Blitar

aniaya 11111111
Siswa madrasah tsanawiyah (MTs) di Kecamatan Wonodadi dianiaya teman sekolahnya hingga tewas. (iIlustrasi/net)

SURABAYA | patrolipost.com – Dunia pendidikan di Jawa Timur masih mendapat ujian. Sederet insiden kekerasan yang melibatkan siswa terus terjadi. Terakhir, dua perkara menonjol mencuat dalam sepekan terakhir.

Di Blitar, publik dikejutkan kasus meninggalnya seorang siswa sebuah madrasah tsanawiyah (MTs) di Kecamatan Wonodadi karena dianiaya teman satu sekolahnya.

Berdasar perkembangan terakhir, pelaku yang duduk di kelas IX itu telah ditahan aparat Mapolresta Blitar Kota. ’’(Terduga) pelaku saat ini telah ditahan dan didampingi penasihat hukum yang ditunjuk,’’ ujar Kasatreskrim Polres Blitar Kota, AKP Galih Putra Samudra, Senin (28/8).

Dia menjelaskan, setelah pihak keluarga korban meminta kasus tersebut diselesaikan lewat jalur hukum, polisi melakukan serangkaian pemeriksaan. Sebanyak 16 saksi dimintai keterangan.

Mulai guru hingga teman korban. ’’Selanjutnya akan dilakukan pemeriksaan kondisi psikologis anak,’’ terangnya.

Pihak keluarga korban telah mendapatkan pendampingan dari Dinas Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak, Pengendalian Penduduk, dan KB (DP3APPKB) Blitar. Baik pendampingan psikologis maupun penanganan sosial.

’’Penyelidikan tetap berjalan, menunggu hasil pemeriksaan otopsi serta hasil penelitian balai pemasyarakatan (bapas),’’ tandasnya.

Insiden itu terjadi pada Jumat (25/8). Korban dianiaya tersangka yang berakibat saraf lehernya putus. Sempat dilarikan ke rumah sakit di Kelurahan Togogan, Kecamatan Srengat, nyawa korban tidak tertolong.

Sementara itu, dari hasil klarifikasi Kemenag Kabupaten Blitar ke pihak sekolah, diketahui bahwa insiden itu akibat ketersinggungan pelaku terhadap korban.

’’Pelaku yang berbeda kelas datang ke kelas korban, lalu korban menegur dengan menanyakan keperluan pelaku masuk kelas lain,’’ ujar Kasi Pendidikan Madrasah (Penma) Kemenag Kabupaten Blitar Bahrudin.

Ternyata, pertanyaan itu membuat pelaku tersinggung. Keesokan harinya, saat pergantian jam mata pelajaran, pelaku kembali masuk ke kelas korban, kemudian melakukan penganiayaan. (305/jpc)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.