3 Suster Disiksa di Luar Batas Kemanusiaan, Pakaian Dilucuti, Kelamin Ditikam Pakai Parang

Gambar Gravatar
  • Whatsapp
kejam 22222
Kekejaman KKB terhadap masyarakat dan tiga orang suster menuai kecaman dari berbagai pihak. (ist)

JAYAPURA | patrolipost.com – Kelompok Kriminal Bersenjata (KKB) Organisasi Papua Merdeka (OPM) melakukan aksi brutal di Distrik Kiwirok, Kabupaten Pegunungan Bintang, Papua. Saat beraksi mereka melakukan tindak kekejaman dengan menyiksa para tenaga kesehatan (Nakes), di luar batas kemanusiaan.

Video penyerangan brutal itu beredar luas di media sosial. Dalam video amatir yang beredar tersebut, para anggota KKB OPM nampak melempari sejumlah fasilitas publik dengan batu, lalu membakarnya.

Bukan hanya itu, kesadisan para anggota KKB OPM juga terungkap dalam video kesaksian seorang nakes yang menjadi korban serangan brutal tersebut. Nakes pria yang identitasnya dilindungi demi keamanan, menyebut anggota KKB OPM mengepung para nakes dari segala penjuru.

Saat kejadian, kebetulan nakes pria ini bersama tiga suster terjebak di dalam gedung asrama yang diserang KKB OPM. “Saat gedung telah terbakar, kami terpaksa harus lari keluar menyelamatkan diri. Ternyata di luar gedung kami telah dikepung orang-orang bersenjata panah dan parang,” ungkapnya.

Tiga suster yang terkepung mencoba lari ke jurang untuk menyelamatkan diri. Namun di jurang suster-suster tersebut dikerja oleh anggota KKB OPM, lalu disiksa di luar batas kemanusiaan. “Semua suster dilucuti pakaiannya. Maaf…bahkan alat kelaminnya ditikam pakai parang,” ungkap nakes itu sambil terisak.

Dalam video yang beredar, usai melakukan aksi sadisnya para anggota KKB OPM yang menenteng berbagai jenis senjata tersebut, nampak dengan gembira menari dan menyanyi berlatar belakang kobaran api yang membakar gedung-gedung fasilitas publik.

Sebanyak 10 orang berhasil dievakuasi menggunakan helikopter TNI AU. Di antaranya sembilan nakes yakni, Lukas Luji, Marthinus Deni Setya, Siti Khotijah, Restu Pamanggi, Marselinus Ola Atanila, Patra, Emanuel Abi, Katrianti Tandila, dan Kristina Sampe Tonapa. Satu lagi anggota Yonif 403/WP Pratu Ansar yang tertembak lengannya.

Para korban selamat ini kini menjalani perawatan intensif di Rumah Sakit Marthen Indey, Jayapura, Papua. Kasdam Cenderawasih, Brigjend TNI Bambang Trisnohadi menyampaikan duka cita mendalam dan mengutuk keras kekejaman KKB OPM.

“KKB OPM di bawah pimpinan Lamek Taplo bersama Komite Nasional Papua Barat (KNPB) berada di balik aksi kekerasan di luar batas kemanusiaan ini. Kami dari Kodam Cenderawasih, bersama Polri, akan menumpas aksi kekerasan di luar batas kemanusiaan tersebut,” tegas Bambang Trisnohadi.

Sebelumnya, Kabaintelkam Mabes Polri, Komjen Pol. Paulus Waterpauw juga mengutuk keras tindakan kekerasan di luar batas kemanusiaan tersebut. Bahkan, jenderal polisi bintang tiga ini meminta Polda Papua menumpas hidup atau mati KKB OPM.

Menurutnya, perbuatan para pelaku penyerangan sangat kejam dan telah menodai nilai-nilai kemanusiaan. Nakes yang dibunuh, merupakan seorang wanita yang telah mengabdikan diri di distrik terjauh dari ibu kota Kabupaten Pegunungan Bintang. “Para pelaku penyerangan telah membuat kekacauan,” tegas Paulus Waterpauw.

Kecaman dan pesan pilu atas serangan brutal terhadap para nakes di Distrik Kiwirok tersebut, juga disampaiakan mantan Kepala Dinas Kesehatan Pegunungan Bintang, sekaligus Inisiator Satgas Perubahan Kabupaten Pegunungan Bintang, Yeremias Tapyor.

Yeremias Tapyor begitu terpukul atas meninggalnya suster Gebriella Meilani, dan kondisi para nakes yang menjadi serangan brutal tersebut. Pasalnya Yeremias Tapyor merupakan orang yang merekrut mereka sebagai tenaga medis, dan melayani di Distrik Kiwirok.

“Tidak disangka, peristiwa itu terjadi disaat engkau yang berjuang menyelamatkan orang Papua di Pegunungan Bintang dari kepunahan, justru menjadi korban di tempat tugas. Saya sebagai mantan pimpinan sekaligus menjadi orang tua engkau dan kawan-kawanmu di Pegunungan Bintang, saat ini merasa hati ini hancur tercabik-cabik melihat berita duka yang sedang tersebar di media ini,” ucap Yeremias.

“Saya membekali kalian dengan pelayanan kasih bukan dengan senjata yang mematikan. Sungguh memiluhkan hati. Saya berani menempatkan kalian melayani di pelosok negeriku, karena saya merasa masyarakat di negeriku cinta damai,” tandasnya. (305/snc)

Print Friendly, PDF & Email

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *