DPP dan DPK Peradah Indonesia se-Bali Gelar Gerakan Peradah Ngejot

  • Whatsapp
Bakti sosial Peradah Indonesia di Kecamatan Kintamani, Bangli.

DENPASAR |  patrolipost.com – Menyambut Hari Raya Galungan, Rabu (16/9/2020) dan Hari Raya Kuningan, Sabtu (26/9/2020), DPP Peradah Indonesia Bali bersama DPK Peradah Indonesia se-Bali kembali menggelar Gerakan Peradah Ngejot. Kegiatan yang digelar secara rutin ini menyasar masyarakat kurang mampu di Desa Subaya, Kintamani, Kabupaten Bangli.

Program Peradah Ngejot seri ke-4 kali ini menggandeng sejumlah akademisi Sekolah Tinggi Agama Hindu Negeri (STAHN) Mpu Kuturan Singaraja yang dibingkai dalam pengabdian kepada masyarakat mandiri. “Program Peradah Ngejot merupakan bagian dari program yang rutin digelar setiap enam bulan sekali menjelang perayaan Galungan dan Kuningan. Melalui ngejot, momentum dan spirit hari suci Galungan dimaknai lebih kongkret ke pawongan,” ujar Komang Agus Widiantara, selaku Ketua DPP Peradah Indonesia Bali yang juga Koordinator Pengabdian Masyarakat Mandiri STAHN Mpu Kuturan Singaraja, Senin (7/9/2020).

Bacaan Lainnya

Ia menjelaskan, semangat dan spirit ngejot sebagai salah satu kearifan lokal Bali saat ini mulai memudar, seiring dinamika kehidupan sosial yang pragmatis dan individualis. Padahal, ngejot merupakan tradisi masyarakat Bali dengan semeton krama Bali maupun krama tamu sebagai ungkapan rasa syukur, kebersamaan, kepedulian, saling berbagi, dan mengasihi, terlebih ditengah pandemi Covid-19.

“Berbagi di tengah pandemi ini bukan perkara mudah. Harus ekstra hati-hati, mengikuti seluruh protokol kesehatan yang ada. Belum lagi, medan menuju Subaya terjal dan menantang,” katanya, seraya mengaku sangat senang dapat berbagi dengan penduduk yang sedang membutuhkan, dan diharapkan dapat menumbuhkan pemaknaan Galungan yang tak semata perayaan, persembahyangan, dan pesta pora.

Merayakan kemenangan idealnya kontekstual dengan kenyataan dan berbagi dengan sesama salah satu cara untuk mengisi kemenangan. Melalui gerakan bersama dengan STAHN Mpu Kuturan Singaraja, ke depan diharapkan kegiatan pengabdian tidak hanya berhenti pada bakti sosial (baksos) dengan penyerahan sembako, namun juga dalam bentuk program pemberdayaan warga setempat seperti pelatihan hingga penelitian sejarah desa setempat sebagai media literasi.

Ketua DPK Peradah Indonesia Bangli I Ketut Eriadi Ariana, bersama Koordinator Kegiatan Putu Oka Suyasa menjelaskan, dalam program kolaborasi itu pihaknya menyasar 40 kepala keluarga (KK) kurang mampu dan kaum lanjut usia (lansia). Pemilihan Desa Subaya sebagai sasaran kali ini tidak terlepas dari kawasan desa yang relatif “terisolir” dari pusat kecamatan, namun memiliki potensi yang besar untuk berkembang di kemudian hari.

“Kebetulan Peradah Bali kali ini turun ke kawasan Bangli sebagai wilayah kerja kami serta mengajak para akademisi, sehingga kami arahkan ke desa ini. Semoga, nantinya dapat distimulus untuk pengembangan ke arah pemberdayaan masyarakat yang lebih jauh, termasuk upaya penelitian akademis, baik dibidang ekonomi maupun studi terhadap budaya Bali Pegunungan yang hidup di sini,” harapnya.

Perbekel Subaya, I Nyoman Diantara menyampaikan ucapan terima kasih atas pemilihan desanya sebagai sasaran Peradah Ngejot oleh DPP Peradah Indonesia Bali dan DPK Peradah Indonesia Bangli. Desa Subaya memiliki 367 KK, mayoritas didominasi masyarakat usia produktif.

“Hanya saja, kebanyakan di antara mereka kurang diberdayakan, dan banyak yang keluar desa pada usia yang relatif muda untuk menyambung hidup, padahal mereka bisa membangun desa dari dalam. Saat ini, kami sedang menggarap pemberdayaan itu, seperti pengolahan produk pascapanen singkong,” katanya, seraya menuturkan, persoalan pemberdayaan tersebut tak terlepas dari keberadaan fasilitas pendidikan satu-satunya, yaitu SD.

Untuk melanjutkan ke jenjang pendidikan, SMPN 7 Kintamani menjadi sekolah terdekat yang dapat dijangkau. Terletak sekitar 8,7 km dari desa tersebut dan harus ditempuh dengan melintasi medan curam Pegunungan Kintamani sebelah timur laut.

Kendala akses itulah yang dipandang menjadi penghambat anak-anak dan lebih memilih tidak melanjutkan sekolah. “Sejatinya kami memiliki tiga kelas yang dapat dimanfaatkan untuk SMP Satu Atap, namun terbatasnya jumlah pengajar, terlebih kondisi akses jalan yang cenderung berbahaya,” katanya, sembari berharap persoalan tersebut dapat menjadi perhatian unsur terkait. (246)

Print Friendly, PDF & Email

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *