Nelayan dan Pedagang Pasar Candikusuma ‘Menolak’ Social Distancing

Nelayan sepulang melaut di Pantai Candikusuma, Jembrana, Bali. Inzet: Sugiono dan Ismi.

MELAYA | patrolipost.com – Pandemi virus Corona (Covid-19) membuat seluruh sendi kehidupan masyarakat goyah. Tak terkecuali masyarakat desa nelayan di pesisir Kabupaten Jembrana, Bali. Imbauan pemerintah agar menerapkan social distancing untuk mencegah penularan virus Covid-19 tidak bisa dituruti para nelayan, pedagang, dan pekerja harian di Desa Candikusuma, Kecamatan Malaya, Jembrana.

Sugiono atau lebih dikenal Sugi, salah satu  nelayan di Desa Candikusuma Melaya mengatakan bahwa sebagai nelayan dirinya tidak bisa menerapkan imbauan work from home (bekerja dari rumah) karena sejumlah faktor.

Bacaan Lainnya

“Ya bagaimana lagi, kalau enggak kerja dan di rumah saja kita tidak bisa mencukupi kehidupan sehari-hari,” kata Sugi, sepulang melaut di Pantai Candikusuma, Senin (30/3/2020).

Menurut Sugi, di musim ikan seperti ini jadwal melaut tetap berjalan normal meski penghasilan yang didapatkan saat ini menurun.

“Melautnya masih normal seperti biasa normal aja berangkatnya. Kadang pagi sampai sore atau siangnya aja. Tapi ya penghasilannya enggak seperti biasa lebih berimbas ke pendapatan,” terang pria berusia 35 tahun ini.

Selain bergantung pada hasil tangkapan ikan, dengan ramainya para tengkulak yang membeli juga menjadi dampak pendapatan yang diperolehnya. Sementara, harga ikan yang biasanya dibeli para tengkulak Rp 60 ribu per kilo, kini turun menjadi Rp 20 ribu per kilo.

“Sekarang karena ada Corona harga tangkapan ikan lemading, kakap, kerapu yang biasanya Rp 60 ribu sekarang bisa Rp 20 ribu,” tuturnya.

Sugi menilai bahwa di setiap pekerjaan ada pasang-surutnya, hingga ada beberapa nelayan yang tidak melaut karena minimnya pemasukan dan perbekalan yang mereka miliki. Ia juga berharap pandemi Covid-19 cepat berlalu sehingga masyarakat Indonesia khususnya Bali dapat beraktivitas normal kembali.

Sedangkan, Ismi (45) pedagang ikan di Pasar Negara mengungkapkan, aktivitas berjualannya di pasar berjalan normal. Hanya saja dirinya tetap menjaga kesehatan dan kebersihan sesuai prosedur imbauan pemerintah.

“Saya tetap kerja seperti biasa tapi waspada juga tetap menjaga kesehatan dan mengikuti anjuran cuci tangan sampai pakai masker,” ungkap Ismi, Senin (30/3/2020).

Menurut Ismi, jumlah konsumen tidak  signifikan yang berkunjung dan berbelanja di tempatnya.

“Penjualan di pasar ini masih biasa-biasa saja, yang belanja tidak bertambah nggak berkurang juga. Semua masih sama setiap hari rata-rata segitu,” ujarnya.

Ismi menuturkan gelisah jikalau pasar tempat mata pencahariannya sewaktu-waktu diputus atau ditutup sementara untuk mengurangi penyebaran Covid-19.

“Saya was-was kalau sampai pasar tutup, ya enggak bisa ngapa-ngapain. Mata pencaharian saya kan jualan di pasar, kalau nggak kerja yang dipakai belanja anak-anak nggak ada,” tambahnya.

Terkait dengan harga ikan, Ismi menyatakan bahwa saat ini harga ikan menyesuaikan keadaan pasar. Namun tak memungkiri harga yang dipatok tidak selalu berlaku demi menyesuaikan harga yang diinginkan konsumen.

“Sekarang ikan teri dan ikan locok itu harga per kilonya Rp 20 ribu, tapi kalau ada yang beli Rp 5 ribu, Rp 10 ribu, dan berapa saja mau beli ikan saya berikan,” terangnya.

Dalam situasi pandemi Covid-19, Ismi mengaku tidak ingin memberatkan konsumennya karena masyarakat sedang mengalami krisis penghasilan, sehingga dirinya menyesuaikan dan tidak tinggi mematok harga.

Dampak kebijakan penanganan Covid-19 social distancing juga dirasakan Agus Merta (25) pekerja harian dari Desa Tukadaya Melaya.

“Kerja seperti biasa kalau lagi ada proyek penebangan kayu, kami mengikuti perintah dari sananya. Kemarin-kemarin kerja sudah tidak tentu, tapi sekarang ditambah lagi dengan situasi ini sepi pesanan,” kata Agus saat dijumpai, Senin (30/3/2020).

Sementara itu, upah harian yang didapat bergantung dari harga jual kayu. Adanya social distancing membuat banyaknya pabrik maupun pengusaha mebel kayu tutup sementara, sehingga  pekerjaan hariannya memanggul kayu semakin tak menentu.

“Iya sekarang pengiriman kayu tidak lancar, kayu sengon ukuran kecil tidak ada harganya sekarang. Jadi kami juga kalau tidak kerja tidak dapat upah,” pungkasnya. (cr02)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.