WFB Dapat Jadi Wadah UMKM Dalam Memaksimalkan Pemulihan Perekonomian Bali

Ketua Sapma Pemuda Pancasila Kota Denpasar, I Gede Putu Verdy Riana Saputra di 9/11 Cafe & Concept Store Denpasar. (yani)

DENPASAR|patrolipost.com – Akibat pandemi Covid-19, kondisi pariwisata yang tiarap membuat para pelaku usaha  harus mencari arternatif lain untuk mencoba bertahan hidup. Sehingga program dari pemerintah Work From Bali (WFB) ini merupakan momen yang sangat dinantikan seluruh lapisan masyarakat di Bali.

Program WFB harus dimaksimalkan dan menjadikan sebagai wadah kolaborasi UMKM dalam pemulihan perekonomian Bali. Hal ini diungkapkan Ketua Sapma Pemuda Pancasila Kota Denpasar, I Gede Putu Verdy Riana Saputra di 9/11 Cafe & Concept Store Denpasar, Kamis (10/6/2021).

Bacaan Lainnya

Verdy Saputra yang juga salah satu pelaku pariwisata ini mengatakan, kondisi usahanya di Asia Wisata Archipelago (Verdy sebagai komisaris) juga tak bergerak, tetapi kondisinya tersebut tidak membuatnya menyerah. Dirinya berusaha mematangkan potensi usaha sekitarnya bergerak, utamanya berusaha agar tetap bersinergi dalam usaha kecil menengah (UMKM).

“Dibukanya pariwisata bulan Juli 2021 ini sangat dinantikan oleh semua kalangan, Program dari pemerintah WFB (Work From Bali) ini merupakan momen dimana seluruh lapisan masyarakat di Bali merasakan manfaatnya,” terangnya.

Pihaknya berharap WFB ini memastikan seluruh lapisan masyarakat dapat merasakan manfaat dengan cara berpikir kreatif.

“Untuk memaksimalkan WFB ini adalah dengan membuat event, atau kreatifitas lainnya yang menunjang kinerja program pemerintah ini. Tetapi saran saya terhadap pelaku WFB janganlah menggunakan mobil pribadi di Bali agar tercipta mutualisme yang baik dari program WFB tadi, ” harapnya.

Pihaknya menyarankan untuk negosiasi, bila ada masalah budgeting instansi yang menggunakan mobil pribadi. Sehingga hal ini dapat membantu perekonomian bagi masyarakat Bali yang bergerak di pariwisata.

“Saya berharap bila ini dilakukan akan berdampak langsung bagi masyarakat Bali baik bidang jasa, atraksi bahkan angkutan. Para pelaku pariwisata kita harapkan dapat melayani para ASN itu, baik dengan atraksi pariwisata, yoga, healing yang tentu itu dapat menyerap pelaku usaha pariwisata di Bali,” paparnya.

Menurutnya WFB ini memiliki nilai positif, namun baginya menempatkan WFB hanya dalam satu kawasan terkesan tidak adil bagi kawasan lain yang tidak kalah baiknya, bahkan telah berpredikat zona hijau.

“Bila pointnya adalah kerja sambil memberdayakan masyarakat Bali, taruh di Villa Kerobokan misalnya satu instansi 20-30 kamar pasti ada yang memiliki budget yang dapat disesuaikan. Dalam weekend mereka beli makan, belanja, jalan-jalan ke Tanah Lot, Jati Luwih, Ubud mereka pasti akan menggunakan transportasi lokal. Saya pikir WFB ini harus benar-benar dimatangkan, saya mendengar Nusa Dua adalah pilot projectnya, yang saya harapkan tahapan selanjutnya kedua, ketiga dan selanjutnya diharapkan bisa dimaksimalkan,” jelas Verdy.

Jika nantinya WFB ini berlanjutan, pihaknya mengharapkan daerah yang disasar harus memiliki kriteria zona hijau yakni memiliki sertifikasi Cleanliness (Kebersihan), Health (Kesehatan), Safety (Keamanan), dan Environment Sustainability (Kelestarian Lingkungan) (CHSE). Sementara secara bersama untuk terus mendorong daerah yang belum mendapatkan kriteria zona hijau untuk memiliki standar tersebut. Pihaknya juga menekankan akan pentingnya pemerataan WFB diseluruh wilayah yang ada di Bali.

“Tidak hanya menyasar daerah tertentu saja, tetapi pemerataan di sentra-sentra pariwisata yang dapat menggerakan perekonomian pelaku pariwisata di Bali ini,” tambahnya.

Disinggung terkait UMKM, pihaknya menjelaskan bahwa saat ini Bali harus bangkit dari keterpurukan. Salah satunya melalui kolaborasi dengan wadah atau asosiasi yang dapat mengumpulkan UMKM binaan dan memanfaatkan program WFB ini sebagai ajang untuk menyatukan data base.

“Misal kita mengadakan pameran stand di Nusa dua, dan ASN yang bekerja disana kita bawakan mereka produk-produk hasil UMKM ini, ini loh UMKMnya Bali. Gak usah kemana-mana lagi untuk men-spend (membelanjakan) uangnya untuk masyarakat Bali,” tegasnya.

Selain itu, pihaknya menambahkan bahwa WFB juga dapat dijadikan momen untuk pelaku UMKM memaksimalkan WFB dalam menggerakan ekonomi dan pandangan dunia terhadap Bali dan memahami digitalisasi pembayaran.

“Bila nanti kita akan buat pameran booth UMKM untuk menyambut WFB itu, saya kira perbankan lokal dapat mengedukasi pelaku UMKM disana untuk memahami pembayaran digitalisasi atau Payment gateway seperti itu. Saya kira sinergi seperti inilah yang kita jadikan satu,” pungkasnya. (cr02)

Pos terkait