Sasar Kalangan Mahasiswa, Agung Rai Wirajaya bersama OJK Wujudkan Inklusi Keuangan yang Sehat

whatsapp image 2023 04 18 at 15.38.41
Inklusi keuangan di kalangan mahasiswa Undiknas Denpasar. (foto/pp)

DENPASAR | patrolipost.com – Anggota DPR RI Komisi XI, I Gusti Agung Rai Wirajaya, menyampaikan kepada masyarakat, bahwasanya industri perbankan, industri pasar modal, industri keuangan non-bank, diawasi oleh otoritas keuangan yang berdiri sejak 2012, yakni Otoritas Jasa Keuangan (OJK). Apa yang disampaikan Agung Rai Wirajaya  begitu kerap disapa menyikapi masih banyaknya masyarakat  yang kurang faham. Terkadang masyarakat belum tahu, masih berpikir ke lembaga yang lain.

“Inklusi keuangan yang baik tentu akan mewujudkan industri jasa keuangan yang sehat. lantaran itulah kami terus secara kontinyu, ke kampus-kampus, agar mahasiswa juga ikut mensosialisasikan kepada masyarakat bahwa kita punya lembaga baru yang terus-menerus melakukan pengawasan, agar inklusi keuangan kita di negara ini berjalan dengan baik dan benar,” begitu disampaikan Agung Rai Wirajaya, saat menjadi salah satu narasumber Seminar Nasional bertajuk “Edukasi Dan Perlindungan Konsumen Pada penggunaan Produk Jasa Keuangan di Indonesia” di Universitas Pendidikan Nasional (Undiknas) Denpasar, Selasa (18/4/2023).

Bacaan Lainnya

Agung Rai Wirajaya juga mengatakan dalam melakukan inklusi keuangan OJK Regional 8 Bali Nusra menjadi pioner, bahkan mendapat posisi terbaik.

Sedangkan Kepala OJK Regional 8 Bali Nusra, Kristrianti Puji Rahayu dalam kesempatan ini menyampaikan, bahwa inklusi keuangan yang bertanggung jawab itu sangat penting, karena pemerintah ingin mewujudkan industri jasa keuangan sebagai penggerak perekonomian, tidak saja di tingkat nasional, namun hingga ke daerah.

“Yang penting tingkat inklusinya itu harus bertanggung jawab, artinya dibarengi dengan literasi keuangan yang memadai,” tandasnya.

Ia beranggapan kegiatan kali ini merupakan salah satu bentuk aliansi strategis yang sangat penting, dengan menggandeng mitra strategis di  Komisi XI yang tidak pernah lelah untuk selalu mengedukasi, baik di kampus maupun di banjar, dengan berbagai lapisan masyarakat, tidak lain tidak bukan agar inklusinya itu juga mendapatkan inklusi yang sehat.

“Nah, kalau di kalangan milenial, inklusi ini bisa sangat terlihat pada saat di pasar modal, ini perkembangan yang luar biasa, sampai double digit,” tukasnya. Bahkan ia bangga dengan pertanyaan-pertanyaan yang diajukan para mahasiswa yang hadir.

“Tadi kita lihat, pertanyaan dari mahasiswa, benar-benar luar biasa. Mereka punya ketertarikan, dan bahkan sudah melek keuangan, bagaimana memilih bentuk keuangan yang sesuai dengan kebutuhannya,” imbuhnya. Semoga, ini bukan kerja sama yang terakhir, nanti akan diikuti kerja sama selanjutnya, karena mahasiswa memiliki peran yang sangat strategis sebagai agen literasi keuangan. Kalau tidak dengan mahasiswa dan aliansi strategis, maka susah bagi kita 17 ribu pulau dengan 275 juta masyarakatnya, sambungnya.

Sedangkan Rektor Universitas Pendidikan Nasional, Prof. Dr. Nyoman Sri Subawa, S.T., S.Sos., M.M., berharap melalui kegiatan ini mahasiswa memiliki kompetensi tambahan literasi keuangan, paling tidak, mahasiswa Undiknas, lulusan Undiknas, melek dan sigap terhadap perubahan-perubahan, khususnya mengenai Otoritas Jasa Keuangan (OJK).

“Saya sangat senang, karena alumni Keluarga Besar Undiknas bisa memberikan edukasi kepada adik-adik kelas. Paling tidak, mentoring, pendamping kepada wirausaha-wirausaha muda, kepada adik-adik mahasiswa, khususnya mengenai bisnis digital ataupun bisnis-bisnis yang lainnya,” tuturnya.

Fenomena serba instan memang  kerap terjadi dalam masyarakat, menurut Rektor Sri Subawa. Ibarat seperti investasi, mendapatkan hasil yang instan. Padahal yang namanya  investasi harus realistis. Sehingga ia memandang ini seolah suatu pola gaya hidup instan, padahal segala sesuatunya tidak bisa didapat secara instan, sehingga harus dirubah mindset-nya.

“Dengan adanya kegiatan ini bisa mengedukasi kepada adik-adik mahasiswa, bagaimana kita berinvestasi, memilih investasi yang baik, agar segala sesuatu yang didapat secara rasional, menguntungkan secara logis,” tukasnya.

Sementara itu, ia mengakui hingga kini di lingkungan universitas yang dipimpin belum ada kasus yang ditemui, tetapi pihaknya tetap memberikan edukasi bagaimana berinvestasi melalui kegiatan entrepreneurship.

“Kami punya namanya Lembis, Lembaga Bisnis, dan bagi mereka yang memiliki uang lebih, kami punya namanya Pojok Bursa. Itu bisa dilakukan setiap saat, di mana pun, sehingga mahasiswa bisa melakukan investasi dalam bentuk yang lain, mendapatkan passive income, mendapatkan pendanaan dari hasil bisnis itu sendiri,” pungkasnya. (wie) 

Pos terkait