RI Dinilai Menjanjikan oleh Investor Mobil Listrik

Kegiatan ekspor mobil terus dilakukan meski di tengah pandemi Covid-19. Pasalnya, kegiatan ekspor merupakan salah satu pemasukan devisa ke negara. (ilustrasi)
DENPASAR | patrolipost.com – Menteri Perindustrian (Menperin), Agus Gumiwang, menyebut Indonesia punya daya tarik bagi investor khususnya pengembang kendaraan listrik. Di sisi lain, Agus juga menilai kebijakan untuk mendorong pengembangan mobil listrik di Tanah Air sudah tepat.
“Kami sudah melakukan bahkan perhitungan simulasi terhadap atau berkaitan dengan insentif-insentif yang diberikan oleh negara lain, khususnya negara-negara yang memang jadi kompetitor utama dalam mengembangkan industri khususnya otomotif, lebih khususnya lagi industri otomotif berbasis baterai atau listrik,” ujarnya saat konferensi pers virtual, Senin (28/12).
“Jadi ketika kita kaitkan dengan policy, insentif baik itu berkaitan dengan demand side, supply side kita sangat kompetitif, kita sudah melakukan simulasi melakukan benchmarking dari negara di sekitar kita, dan kesimpulan kami policy-nya sudah tepat,” sambungnya. Menurutnya, ada dua poin yang bikin Indonesia punya nilai lebih dari negara lain di mata investor.
“Yang sangat menarik bagi investor adalah populasi kita yang sangat besar. Dari populasi yang sangat besar akan membawa ketertarikan dari investor. Faktanya, rasio kepemilikan kendaraan bermotor roda empat di Indonesia masih sangat rendah, dibandingkan dengan Thailand, Malaysia, Filipina, Vietnam. Jadi kita masih sangat rendah,” sambung Agus.
Merujuk data Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo), rasio kepemilikan mobil di Indonesia baru sekitar 99 unit per 1.000 orang. Lebih rendah dari Malaysia (490 unit/ 1.000 orang), dan Thailand (275/1.000 orang). Ia berharap ketika Indonesia masuk 10 besar negara besar yang ditargetkan pada 2030 maka rasio kepemilikan mobil bisa meningkat.
Hal ini juga menjadi pertimbangan investor untuk mau menanamkan modalnya. “Daya beli masyarakat akan jauh meningkat. Itu akan mendorong masyarakat, tidak usah dipaksa akan belanja mobil. Jadi bukan hanya populasi kita yang 270 juta, tapi juga rasio kepemilikan di Indonesia masih sangat rendah, Itu poin yang dilihat oleh calon investor,” kata Agus.
Dalam paparannya, Agus menampilkan beberapa pabrikan mobil yang statusnya on progress berkomitmen untuk berinvestasi kendaraan listrik di Indonesia, yakni Hyundai Motor Corporation (Rp 21,8 triliun), PT Honda Prospect Motor (Rp 5,1 triliun), dan Toyota Group (Rp 28,3 triliun). Pertimbangan lain ialah sumber daya alam Indonesia yang melimpah.
Jika diproduksi di dalam negeri dengan tingkat kandungan lokal yang tinggi, bukan hal mustahil juga masyarakat bisa memiliki mobil listrik dengan harga lebih murah. Sebab, baterai jadi komponen utama mobil listrik dengan harga yang masih mahal. Pemerintah Indonesia berambisi menjadi produsen baterai mobil listrik, bahkan yang terbesar di dunia.
Keinginan menjadi produsen baterai mobil listrik itu lantaran Indonesia memiliki kandungan nikel yang mumpuni. Mengutip Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral, saat ini Indonesia mencatat potensi bijih laterit nikel dengan total sumber daya (terekam, tertunjuk dan terukur) 6,5 miliar ton dan total cadangan (terkira, terbukti) 3,1 miliar ton.
Terlebih jika di sini ada pabrik baterainya. “Belum lagi bicara baterai berbasis nikel, plenty full kita di sini nikelnya, dengan beberapa produsen otomotif bahkan sudah saya sampaikan juga mendorong pabrik baterainya di Indonesia agar mereka bisa terintegrasi dari mulai baterai yang diproduksi sendiri, juga kendaraan yang akan diproduksi,” tutup Agus.dto

Pos terkait