Pemacekan Agung di Kahyangan Jagat Pura Dasar Buana Gelgel Klungkung Dipadati Ribuan Pemedek

pemacekan 11zzzzzzz
Ribuan pemedek memadati Pura Dasar Buana Gelgel, Klungkung, Senin (4/3/2024). (ist)

SEMARAPURA | patrolipost.com – Ribuan pemedek silih berganti berdatangan tangkil di Kahyangan Jagat Pura Dasar Buana, Gelgel, Klungkung, Senin (4/3/2024) pagi. Hari itu merupakan Pemacekan Agung yang merupakan puncak upacara piodalan di Pura Dasar Buana Gelgel.

Dimana hari pemacekan agung yang diperingati setiap Soma (Senin) Kliwon Wuku Kuningan, Senin (4/3/2024), mengingat Pura ini sebagai situs babad sejarah Bali menyebutkan dalam perjalanannya di tanah Bali dimana pura Dasar Buana, Gelgel ini yang didirikan dan sebagai linggih Ida Betare Mpu Ghana

Menurut manggala Karya yang juga Bendesa Adat Gelgel Putu Gede Arimbawa, Senin (4/3/2024) menyatakan hari ini bertepatan dengan Puncak pujawali di Pura Dasar Buana, Gelgel, Klungkung bertepatan dengan Soma Kliwon Kuningan, Senin (4/3/2024).

Piodalan dilaksanakan selama 3 hari, sampai upacara penyineban yang akan dilangsungkan pada Wraspati Pon Kuningan, Kamis (7/3/2024).

“Hari ini kitab kerahkan pengayah sekitar 60 orang masing masing banjar dari 16 Banjar dari 28 Banjar sewewengkon Desa Adat Gelgel untuk nyanggre upakara selama Karya ini,” ungkap Jro Bendesa Putu Arimbawa.

Untuk yang muput bertepatan Pemacekan Agung di Pura Dasar Buana Gelgel yang dimulai pukul 10 Pagi adalah Ide Peranda Gede Jumpung sareng Ide Dalem Surya Soghata. Sedangkan yang muput di Pura Puseh Ide Peranda Gede Kediri, sedangkan Melanting dan Bale Agung dipuput Jro Mangku.

Di sela sela karya ditemui di jroan Pura, sejarahwan yang juga akademisi dari Universitas Udayana, Prof Dr Anak Agung Bagus Wirawan, Senin (4/3/2024), terkait keberadaan Pura Dasar Buana, Gelgel, Klungkung sebagai situs purbakala.

“Keberadaan Pura Dasar Buana ini, berlapis-lapis tradisi yang ada. Dari bukti-bukti yang ada di pura ini, pura ini sudah ada sejak peradaban tua,” ujar Gung Wirawan serius.

Lebih detil dijelaskannya bahwa, Pura Dasar Buana sampai saat ini masih menjadi tempat pemujaan oleh krama subak yang disebut Subak Gede Swecapura. Biasanya setiap purnama kapat (sekitar bulan September-Oktober), di Pura Dasar Buana digelar upacara ngusaba kapat sebagai bentuk syukur atas hasil bumi yang dianugrahkan ke masyarakat.

“Subak ini peradaban yang sudah tua sekali. Keberadaan Pura Dasar Buana sebagai pemujaan warga subak, juga menandakan pura ini sudah sejak lama menjadi tempat pemujaan,” jelas Anak Agung Bagus Wirawan lebih jauh.

Dalam perjalannya, pura ini tidak bisa dipisahkan, dengan keberadaan Kerajaan Gelgel dengan kratonnya di Sweca Linggarsa Pura. Pada masa pemerintahan Dalem Ketut Ngulesir sekitar abad ke-14, agama Hindu Siwa Budha berkembang di Bali.

Bahkan Dalem Ketut Ngulesir pada abad ke-14 sempat mendeklarasikan jika Pura Besakih sebagai luhur ring jagat. Sementara Pura Dasar Buana sebagai dasar ring jagat.

“Luhur kuat karena dasar kuat. Dasar kuat dengan apa? yakni dengan menyatukan catur warga di Bali dari Ratu Pasek, Ratu Pande, Satria (satria arya dan satria dalem) serta Brahmana,” ungkapnya lebih rinci.

Keyakinan ini dikuatkan oleh Dalem Waturenggong yang menjadi Raja Gelgel sekitar abad ke-15. Pada masa ini juga merupakan masa kejayaan Kerajaan Gelgel.

“Pada masa itu, ada dua tokoh agama penting yang datang dari Majapahit yakni Dang Hyang Nirartha dan Dang Hyang Astapaka. Keduanya lalu dipercaya memimpin upacara homayadnya di Pura Dasar Buana ini,” jelasnya.

Disebutkannya saat ini di Pura Dasar Buana ,Gelgel Klungkung, ada pelinggih pemujaan Dang Hyang Nirartha dan Dang Dang Hyang Astapaka. Keduanya berperang penting dalam perkembangan ajaran hindu siwa-buddha di Bali. Ajaran inilah yang disebut Hindu dresta Bali yang diwariskan pada generasi kita sampai saat ini. (855)

Pos terkait