Ngaku Dipukul Polisi, AMP Ngadu ke LBH Bali

Aliansi Mahasiswa Papua (AMP) saat mengadu ke kantor Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Bali, atas dugaan kasus pemukulan, Selasa (7/7/2020). (ray)

DENPASAR | patrolipost.com – Aliansi Mahasiswa Papua (AMP) mengadu ke Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Bali atas dugaan kasus pemukulan yang dilakukan oleh pihak kepolisian saat membubarkan aksi demo mereka di Monumen Bajra Shandi Renon, Denpasar.

Bertempat di kantor LBH Bali, Selasa (7/7/2020), Ketua AMP Komite Bali, Jeeno menerangkan, selain membubarkan paksa para demonstran dengan water canon, polisi juga diduga melakukan pemukulan terhadap massa.

“Ada enam orang rekan kami yang mengalami luka-luka. Ada yang luka di bagian bibir dan ada yang di bagian dahi,” ungkapnya.

Selain itu, petugas juga diduga menarik baju salah seorang demonstran hingga sobek. Menurut Jeeno, petugas kepolisian dinilai berbuat berlebihan dengan membubarkan massa yang hanya berjumlah 25 orang saat demo di Monumen Bajra Shandi Renon, Denpasar, Senin (6/7/2020).

“Saat aksi kami baru mulai sekitar 5 menit, kami sudah dipaksa bubar. Bahkan ada tiga orang teman kami yang langsung diseret masuk ke mobil Dalmas,” tuturnya.

Selain itu, saat pihak aksi berusaha untuk negosiasi agar rekan mereka dilepaskan, tiba-tiba mobil water canon langsung menyemprotkan air ke arah massa hingga mereka lari kocar kacir.

“Saat kami mau proses negosiasi, tiba-tiba mobil water canon langsung menyemprotkan air dengan tekanan tinggi ke arah kami, kami sampai sesak bernafas,” ungkapnya kembali.

Sementara pihak LBH Bali, Ni Putu Candra Dewi mengatakan, pihaknya akan melakukan perundingan internal terlebih dahulu untuk menyikapi aduan Aliansi Mahasiswa Papua tersebut.

“Kami akan berunding dulu antara LBH Bali dengan Pihak AMP, bagaimana sebaiknya kami menentukan sikap bersama,” katanya.

Sekelompok mahasiswa yang mengatasnamakan diri Aliansi Mahasiswa Papua (AMP) menggelar aksi demo menuntut negara atas tragedi berdarah yang terjadi di Biak Papua. Aksi yang digelar saat Pandemi Covid-19 tersebut mendapat atensi khusus dari pihak kepolisian.

Puluhan anggota Polresta Denpasar diturunkan lengkap dengan water canon. Massa aksi dibubarkan dengan paksa oleh petugas karena khawatir aksi tersebut jadi tempat penyebaran Covid-19. (007)

Pos terkait