Inilah Enam Tokoh yang Mendapat Gelar Pahlawan Nasional

Presiden Jokowi dan beberapa menteri mengamati foto salah satu Pahlawan Nasional.

JAKARTA | patrolipost.com –  Enam tokoh pejuang ditetapkan menjadi Pahlawan Nasional melalui Keputusan Presiden Nomor 120 TK 2019 yang ditandatangani 7 November 2019.  Mereka adalah, almarhumah Ruhana Kuddus, almarhum Sultan Himayatuddin Muhammad Saidi, almarhum Prof M Sardjito, almarhum Abdul Kahar Muzakir, almarhum Alexander Andries (AA) Maramis, dan almarhum KH Masjkur.

Wakil Ketua Dewan Gelar, Tanda Jasa dan Tanda Kehormatan Negara Jimly Asshiddiqie mengatakan, tiga diantara tokoh itu merupakan anggota BPUPKI/PPKI. Ketiganya yakni Abdoel Kahar Moezakir, Alexander Andries Maramis dan KH Masykur.

Bacaan Lainnya

“Sebagai anggota BPUPKI/ PPKI tersisa yang belum dapat gelar pahlawan, jasa mereka sangat besar,” kata Jimly.

Adapun, tiga tokoh lainnya merupakan memiliki latar belakang yang berbeda. Ada Ruhana Kudus dari Sumatera Barat yang dianggap sebagai tokoh di bidang jurnalisme dan pendidikan. Kemudian, Sultan Himayatuddin dari Provinsi Sulawesi Tenggara. Ini adalah pertama kali tokoh dari provinsi tersebut mendapat gelar pahlawan. Jimly menyebut Sultan Himayatuddin berjasa atas keberaniannya melawan penjajahan Belanda.

“Sultan yang melawan Belanda sehingga terpaksa turun tahta lalu sesudah berjuang naik tahta dua kali jadi sultan,” kata dia.

Terakhir, ada Prof M Sardjito, dokter yang jasanya dianggap sangat besar di bidang pendidikan. Jimly menyebut, enam tokoh tersebut merupakan penyaringan dari 20 nama yang diajukan Kementerian Sosial.
Para keluarga atau ahli waris merasa haru dan bangga atas gelar yang diberikan oleh negara. Mereka bersyukur mendiang keluarga mendapat gelar Pahlawan Nasional, yang diserahkan Presiden RI Joko Widodo, Jumat (8/11) di Istana Negara, Jakarta.

Cucu Ruhana Kuddus, Janeydy terharu akhirnya mendiang neneknya mendapatkan gelar pahlawan nasional. Ia mengucapkan terima kasih kepada pemerintah yang telah mengakui perjuangan Ruhana semasa hidup.

Menurutnya, dari cerita keluarga, Ruhana sejak usia 8 tahun sudah mengajar menulis dan membaca kepada teman sebayanya yang tinggal di sekitar rumah, di Simpang Tonang, Talu, Pasaman, Sumatera Barat.

“Terharu juga akhirnya bisa mendapat gelar pahlawan nasional. Ucapan terima kasih saya, keluarga yang telah memungkinkan anugerahkan pahlawan nasional,” kata Janeydy di Istana Negara, Jakarta, Jumat (8/11).

Cucu Sardjito, Dyani Poedjioetomo bersyukur perjuangan kakeknya diapresiasi dengan diberi gelar pahlawan nasional. Dyani menyebut sang kakek merupakan sosok yang menjadi panutan keluarga dan telah berjuang untuk kepentingan masyarakat di bidang kesehatan.

“Beliau memiliki moto dengan memberi, kami menjadi kaya. Maksudnya kita jangan segan-segan memberi, karena itu akan membuat kita lebih kaya lagi,” kata Dyani.

Semasa hidupnya, Sardjito dikenal sebagai pejuang di bidang kesehatan dan dunia pendidikan kedokteran. Ia kemudian menjabat sebagai rektor pertama Universitas Gadjah Mada (UGM).

Cucu KH Masjkur, ‎Mia Anissa Muyassarah juga bersyukur perjuangan kakeknya diapresiasi dengan gelar pahlawan nasional. Mia menyatakan seluruh keluarga senang Kiai Masjkur telah dinobatkan sebagai pahlawan nasional pada tahun ini.

Mia menyatakan bahwa sejumlah pihak sudah beberapa kali mengajukan Kiai Masjkur untuk menjadi pahlawan nasional. Pasalnya, kata Mia, ayahnya sungkan dengan pemberian gelar seperti ini.

“Dari mereka yang usulkan, bukan dari keluarga, mereka yang aktif, eyang Masjkur relatif kurang diekspose,” kata Mia. (807)

Pos terkait