Ini Penjelasan Bendesa Adat Renon Terkait Bentrok Mahasiswa Papua dengan Warga

demo papua
Tangkapan layar kericuhan (atas) dan Bendesa Adat Renon memberi keterangan pers (bawah). (ist)

DENPASAR | patrolipost.com – Kericuhan pecah di Asrama Putra Papua (Aspura) Jalan Tukad Yeh Aya IX Nomor 52, Banjar Tengah, Desa Renon, Denpasar Selatan, Rabu (16/11/2022). Mahasiswa Papua penghuni asrama yang hendak menggelar demo tolak KKT G20 terlibat bentrok dengan kelompok masyarakat.

Informasi yang berhasil dihimpun mengatakan, tanda – tanda keributan sudah terjadi dari sehari sebelumnya, Selasa (15/11) sore. Saat itu, sekelompok masyarakat masuk ke Aspura dan terlibat perang mulut. Kemudian berlanjut Rabu (16/11) pukul.07.00 Wita saat Aliansi Mahasiswa Papua (AMP) atau Orang Asli Papua (OAP) KK Bali, hendak menggelar aksi demo.

Bacaan Lainnya

Aparat keamanan, baik dari Polri, TNI, hingga aparat desa seperti pecalang melakukan monitoring atau pemantauan ke Aspura. Kemudian pukul pukul 08.30 Wita, kelompok berjumlah 23 orang tersebut melaksanakan konsolidasi persiapan aksi. “Sambil konsolidasi, mereka menyetel musik dengan volume keras,” ungkap sumber petugas.

Selanjutnya pukul.09.25 Wita, massa aksi keluar dari Aspura dengan membawa pamflet dan spanduk. Namun tak berselang lama, mereka mendapat penghadangan dari Ormas PGN Bali pimpinan Gus Yadi dan pihak Desa Adat Renon yang coba mengamankan daerahnya. Hal itu memantik permasalahan berujung keributan.

Tampak mereka saling dorong, saling pukul menggunakan tongkat, dan disertai lempar-lemparan benda. Bentrokan tersebut berhasil diredam oleh pihak desa dibantu anggota TNI dan Polri. Pukul 10.15 Wita, keributan kembali pecah akhirnya massa aksi AMP mundur ke dalam Aspura.

Jero Bendesa Adat Renon I Wayan Suarta menanggapi terkait adanya gesekan antara mahasiswa asal Papua dengan kelompok masyarakat itu, dirinya memastikan sampai saat ini situasi di wilayahnya aman dan kondusif.

“Kami sebagai pimpinan Desa Adat Renon memastikan apa yang terjadi tadi, saat ini situasi sudah aman terkendali,“ katanya kepada media, Rabu (16/11) sore.

Wayan Suarta yang juga menjadi korban dalam peristiwa tersebut akibat terkena pukulan pada pelipis bagian kiri dan luka di bagian kepala akibat terkena lemparan batu itu memastikan akan bertanggung jawab dengan keamanan dan memberikan perlindungan terhadap mahasiswa asal Papua yang ada di wilayah Desa Adat Renon.

“Kami terbuka terhadap siapa pun yang datang ke wilayah kami dan tinggal di wilayah Desa Adat Renon. Kami berkomitmen untuk menyerahkan permasalahan ini kepada pihak berwajib untuk ditindaklanjuti,” ujarnya.

Bersama aparat desa pihak bendesa adat juga sudah melakukan mediasi dengan kedua belah pihak serta memberikan imbauan kepada warga khususnya di Desa Adat Renon agar tidak terprovokasi dan melakukan tindakan yang melanggar hukum dan menganggu keamanan.

“Kami menyampaikan apresiasi kepada aparat yang sudah melakukan pengamanan dan membantu Desa Adat,” pungkasnya. (007)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.