Terinsipirasi Pandemi, Navicula Rilis “Mulih”, Lagu Berbahasa Bali

Gambar Gravatar
  • Whatsapp
1634476097883 (1)
Setelah 25 tahun berkarya di industri musik, untuk pertama kalinya Navicula merilis lagu berbahasa Bali yang diberi judul "Mulih". Bekerjasama dengan Puri Kauhan Ubud, Taut Seni, Bali Purnati, dan Rumah Sanur, para pemeran utama (Gede Robi, Dadang Pranoto, Palel Atmoko, Krishnanda Adipurba, dan Sri Dessy Ekayanth), juga melibatkan para pemeran tambahan (Hendra Adinatha, De Rama, Putu Sastra, dan Gede Nadi). Serta pada penampilan spesial juga menggandeng gitaris Lolot, Donnie Lesmana. "Lagu berjudul "Mulih" ini terinspirasi dari situasi pandemi. Video ini bercerita tentang orang yang dulu bekerja di sektor pariwisata mulai terpuruk dan kehilangan pekerjaan, sehingga terpaksa pulang kampung ke daerah asal mereka, karena tidak mampu memenuhi kehidupan di rantau," ujar Gede Robi, saat di Kubu Kopi, Renon, Denpasar, pekan lalu. Lagu ini direkam di Denpasar (2 Juli 2021) dan menghadirkan Donnie Lesmana, gitaris Lolot pada part solo gitar, serta bisa ditonton di kanal Youtube Navicula Music dan telah rilis pada 10 Oktober 2021 lalu. “Industri di Bali secara keseluruhan sangat bergantung dengan sektor pariwisata. Ibarat menaruh telur di dalam satu keranjang. Saat keranjang jatuh, maka seluruh telur akan ikut jatuh dan pecah,” kata Gede Robi, sang vokalis Navicula. Menurutnya, saat di kampung orang bisa dapatkan kedaulatan pangan, apalagi bagi mereka yang punya opsi untuk kebutuhan dasar. Masih ada udara yang segar dan beberapa harta berupa kebijakan lokal yang dulu ditinggakan, kini mulai diingat kembali. Pandemi katanya, mengajarkan untuk memikirkan ulang skala prioritas agar tidak semata bergantung di sektor pariwisata, tapi juga memikirkan sektor lain seperti kedaulatan pangan/pertanian. Mumpung banyak orang pulang kampung, terjadi ledakan tenaga kerja di desa, sebenarnya ini harus menjadi momentum kebangkitan pertanian dan desa. “Jadi, tidak ada lagi orang yang gagal ketika pulang kampung, karena di desa, pertanian akan menjadi kunci utama pelestarian alam dan budaya,” jelas Robi yang juga petani kopi di kampungnya di Tabanan. Navicula turut melestarikan budaya pertanian yang juga budaya Bali. “Budaya Bali ini kan akarnya adalah pertanian. Dan, pertanian yang ramah lingkungan, selain melestarikan budaya, dia juga akan menjaga alam,” kata Gede Robi. Adapun tim kolaborasi mas8ng-masing, Ayu Pamungkas (sutradara), Rai Pendet (produser), Denny Chrisna (penata kamera), dan ide cerita dari Gede Robi. Direkam di Epiproduction, Sanur, dan recording operator (Tude Arta Sedana), penampilan dan aransemen oleh Navicula, lirik dan musik (Gede Robi), serta Windu Estianto (keyboard).(jok)
DENPASAR | patrolipost.com – Setelah 25 tahun berkarya di industri musik, untuk pertama kalinya Navicula merilis lagu berbahasa Bali yang diberi judul “Mulih”.
Bekerjasama dengan Puri Kauhan Ubud, Taut Seni, Bali Purnati, dan Rumah Sanur, para pemeran utama (Gede Robi, Dadang Pranoto, Palel Atmoko, Krishnanda Adipurba, dan Sri Dessy Ekayanth), juga melibatkan para pemeran tambahan (Hendra Adinatha, De Rama, Putu Sastra, dan Gede Nadi). Serta pada penampilan spesial juga menggandeng gitaris Lolot, Donnie Lesmana.
“Lagu berjudul “Mulih” ini terinspirasi dari situasi pandemi. Video ini bercerita tentang orang yang dulu bekerja di sektor pariwisata mulai terpuruk dan kehilangan pekerjaan, sehingga terpaksa pulang kampung ke daerah asal mereka, karena tidak mampu memenuhi kehidupan di rantau,” ujar Gede Robi, saat di Kubu Kopi, Renon, Denpasar, pekan lalu.
Lagu ini direkam di Denpasar (2 Juli 2021) dan menghadirkan Donnie Lesmana, gitaris Lolot pada part solo gitar, serta bisa ditonton di kanal Youtube Navicula Music dan telah rilis pada 10 Oktober 2021 lalu.
“Industri di Bali secara keseluruhan sangat bergantung dengan sektor pariwisata. Ibarat menaruh telur di dalam satu keranjang. Saat keranjang jatuh, maka seluruh telur akan ikut jatuh dan pecah,” kata Gede Robi, sang vokalis Navicula.
Menurutnya, saat di kampung orang bisa dapatkan kedaulatan pangan, apalagi bagi mereka yang punya opsi untuk kebutuhan dasar. Masih ada udara yang segar dan beberapa harta berupa kebijakan lokal yang dulu ditinggakan, kini mulai diingat kembali.
Pandemi katanya, mengajarkan untuk memikirkan ulang skala prioritas agar tidak semata bergantung di sektor pariwisata, tapi juga memikirkan sektor lain seperti kedaulatan pangan/pertanian. Mumpung banyak orang pulang kampung, terjadi ledakan tenaga kerja di desa, sebenarnya ini harus menjadi momentum kebangkitan pertanian dan desa. “Jadi, tidak ada lagi orang yang gagal ketika pulang kampung, karena di desa, pertanian akan menjadi kunci utama pelestarian alam dan budaya,” jelas Robi yang juga petani kopi di kampungnya di Tabanan.
Navicula turut melestarikan budaya pertanian yang juga budaya Bali. “Budaya Bali ini kan akarnya adalah pertanian. Dan, pertanian yang ramah lingkungan, selain melestarikan budaya, dia juga akan menjaga alam,” kata Gede Robi.
Adapun tim kolaborasi mas8ng-masing, Ayu Pamungkas (sutradara), Rai Pendet (produser), Denny Chrisna (penata kamera), dan ide cerita dari Gede Robi. Direkam di Epiproduction, Sanur, dan recording operator (Tude Arta Sedana), penampilan dan aransemen oleh Navicula, lirik dan musik (Gede Robi), serta Windu Estianto (keyboard).(jok)
Print Friendly, PDF & Email

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *