Kelangkaan BBM di Ruteng Bukan karena Kongkalikong SPBU – Pedagang Eceran

Gambar Gravatar
  • Whatsapp
spbu matim
Jejeran Penjual BBM eceran di SPBU Carep. (rob)

RUTENG | patrolipost.com – Maraknya pedagang eceran Bahan Bakar Minyak (BBM) di sekitar SPBU Ruteng, NTT ditengarai menjadi salah satu penyebab sering habisnya BBM di SPBU. Namun hal itu dibantah Pengawas II SPBU Mbaumuku, Aventus Jalut dengan menyebut, tidak ada kerjasama atau kongkalikong antara SPBU di Ruteng dengan pedagang eceran yang membeli BBM menggunakan jerigen.

Aventus menjelaskan, SPBU tidak membatasi pelanggan saat stok BBM lagi penuh. Sebaliknya akan dibatasi ketika stok BBM lagi kurang.

Bacaan Lainnya

“Jadi terkait pedagang eceran, keresahan itu tidak hanya dirasakan konsumen, tetapi kami yang di pelayanan juga ada keresahan tersendiri terhadap penjual BBM yang menggunakan jerigen ini,” ungkap Aventus, di Ruteng, Manggarai, NTT, Rabu (6/10/2021) siang.

Aventus melanjutkan, BBM jenis Pertalite umum tergolong bahan bakar nonsubsidi. Oleh karena itu, siapa saja bisa membeli karena tidak terikat rekomendasi darimanapun seperti halnya bahan bakar bersubsidi. Dimana penjualannya terikat dengan aturan tertentu.

Untuk BBM bersubsidi, ada Keputusan Presiden (Kepres) yang membuat pelanggan wajib menggunakan rekomendasi dari dinas terkait saat hendak membeli menggunakan jerigen atau wadah lain selain kendaraan.

“Cuma kami yang ada di SPBU Mbaumuku ada kebijakan di intern kami walaupun tidak ada aturan tertulis dari Pertamina terkait dengan pelayanan terhadap pertalite. Tetapi kami proritaskan pelayanan kepada kendaraan,” kata Aventus.

Aventus mengatakan, dalam kebijakan itu SPBU Mbaumuku mewajibkan konsumen yang membeli dengan jerigen harus mengantongi surat keterangan usaha dari Kelurahan. Surat itu dijadikan legalitas konsumen tersebut agar bisa dilayani.

Sementara soal ranah atau wilayah serta tempat para pedagang eceran menjual BBM yang telah dibeli bukan menjadi kewenangan dari SPBU. Termasuk maraknya pedagang eceran yang ada di seputaran SPBU. Menurut Aventus, pihaknya tidak punya kewenangan untuk melarang para pedagang tersebut.

“Jadi dia harus berurusan sendiri kepada pemerintah. Seperti apa dia punya usaha ini. Jadi mereka datang membeli itu menggunakan surat dari kelurahan. Tetapi itu kebijakan intern,” tegas Aven.

Sementara untuk jenis bahan bakar bersubsidi menurut Aventus, pihaknya tidak menjual secara bebas. Para pembeli yang datang menggunakan jerigen harus mengantongi surat izin resmi dari pemerintah. Surat izin tersebut biasanya diterbitkan oleh dinas terkait. Surat dari dinas tersebutlah yang menentukan boleh atau tidaknya seseorang dilayani menggunakan jerigen.

“Surat itu menerangkan yang bersangkutan boleh membeli bahan bakar yang bersubsidi,” katanya.

Aventus mengakui, selama ini ada konsumen nakal yang mengakali pihak SPBU. Konsumen tersebut datang berkali-kali membeli bahan bakar menggunakan kendaraan bermotor.

Kuat dugaan bensin dari tangki motor dituang ke wadah lain untuk dijual kembali. BBM itulah yang biasanya dijual di pinggir jalan. Namun untuk pelanggan yang menggunakan jerigen dikatakan bahwa akan dilayani sesuai dengan stok atau ketersediaan BBM yang ada di SPBU.

“Tapi saya di sini kalau bahan bakarnya tidak cukup, saya batasi penyaluran ke jerigen walaupun dia punya surat. Kalau persediaan di sini itu sampai 16 KL, maka kami bisa melayani yang menggunakan jerigen,” katanya.

Aven membantah adanya kerjasama antara SPBU dan pedagang eceran sebagaimana yang diisukan di tengah masyarakat. Menurutnya ada kemungkinan anggapan dari masyarakat timbul karena antara para pegawai SPBU dengan pelanggan yang sering datang membeli menggunakan jerigen ada kerjasama.

“Tidak ada kerja sama. Itu karena kita juga rasanya isu-isu begitu itu dari dulu. Memang pengaruh kita ini kan pelanggannya sering kita berinteraksi tiap hari. Mereka datang sehingga keseringan ketemu. Wajar kalau orang anggapan seperti itu kenyatannya tidak ada,” tandasnya.

Ia pun berharap kepada masyarakat atau pelanggan tidak perlu berspekulasi. Sebab, kekurangan BBM yang terjadi di SPBU bukan karena kongkalikong dengan pedagang eceran, melainkan karena ada berbagai permasalahan. Salah satunya keterlambatan transportasi mengantar BBM ke SPBU.

“Kemudian saya jamin untuk beberapa hari ke depan ini pasti aman. Cuma waktu tibanya mobil tangki ini sudah menjadi faktor kendala tersendiri. Misalnya, di perjalanan dia mengalami kendala maka pasti terlambat tiba. Jadi seturut itu juga di SPBU kendaraan konsumen menumpuk,” tutupnya.

Kelangkaan BBM di beberapa Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) di Kota Ruteng, Kabupaten Manggarai, NTT sering dikeluhkan pelanggan. Pelanggan heran saat BBM habis, stok penjualan justru tersedia pada pedagang eceran sekitar SPBU. Hal ini terjadi hampir di semua SPBU di Ruteng. SPBU Carep juga demikian. Jejeran para penjual BBM memenuhi sisi Timur dan Barat SPBU, sementara Stok BBM di SPBU habis dalam waktu yang singkat. (pp04)

Print Friendly, PDF & Email

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *