Klaster Sekolah Bermunculan, Anak Didik Wajib Siapkan Ini untuk Cegah Covid

Gambar Gravatar
  • Whatsapp
saat 1111cc
Para pelajar diminta untuk selalu disiplin prokes guna mencegah Covid-19. (dtc/ist)

JAKARTA | patrolipost.com – Pembelajaran Tatap Muka (PTM) kini sudah berlangsung di sekolah sejumlah daerah. Namun lantaran disebut berpotensi menciptakan klaster baru Covid-19, aktivitas ini menuai kekhawatiran banyak pihak, termasuk soal risiko peningkatan kasus Covid-19 pada anak. Jika PTM tetap diberlangsungkan, adakah risiko untuk menekan risiko anak tertular corona?

Dokter spesialis anak konsultan pencernaan anak, Dr dr Ariani Dewi Widodo, SpA(K), menegaskan sekolah harus mengupayakan proteksi untuk anak-anak seiring PTM. Misalnya, melalui optimalisasi fasilitas sekolah.

“Kalau saat proses pembelajaran terutama untuk anak-anak belum bisa vaksin, usia SD ke bawah, maka sekolah perlu mempertimbangkan kapasitas kelas,” terangnya.

“Kemudian sirkulasi udara apabila ruang kelas terbuka, jendela selalu dibuka. Itu akan memperkecil peningkatan penularan,” sambungnya.

Menurutnya, mengacu pada aktivitas belajar dari rumah yang sudah berlangsung selama pandemi Covid-19, anak-anak terbukti bisa belajar dan mengerjakan tugas sekolah dari rumah.

Dengan begitu demi meminimalkan risiko penularan, ada baiknya frekuensi dan durasi waktu anak-anak di sekolah dibatasi, digantikan dengan pembelajaran dari rumah.

“Durasi belajar. Apabila sekolah tatap muka, kalau bisa jangan lama-lama. Toh sekarang anak-anak sudah mampu mengerjakan tugas secara daring. Bisa sekolah sebenarnya untuk hal-hal yang harus dilakukan tatap muka. Sisanya, bisa dilakukan di rumah. Tidak perlu anak bersama-sama di kelas,” pungkas dr Ariani.

Menurutnya, anak-anak berusia di bawah 12 tahun ke bawah yang belum bisa menerima vaksin Covid-19 bisa ikut terlindungi dari kekebalan kelompok yang terbentuk dari vaksinasi pada usia 12 tahun ke atas. Maka itu juga sebagai upaya melindungi anak-anak beraktivitas PTM, vaksinasi Covid-19 pada orang-orang yang bisa menerima vaksin perlu digencarkan.

“Itulah pentingnya kita perlu divaksinasi apabila kita bisa, supaya kita tidak hanya melindungi diri sendiri, tetap juga melindungi orang-orang lain yang tidak memungkinkan untuk divaksin. Contohnya anak-anak di bawah usia 12 tahun,” ujar dr Ariani. (305/dtc)

 

Print Friendly, PDF & Email

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *