Seorang Warga Desa Pengastulan Buleleng Meninggal Dunia Pasca Divaksin

Gambar Gravatar
  • Whatsapp
pasca vaksin
Korban meninggal pasca vaksin, Surayyah saat dimakamkan dengan protocol Covid-19. (ist)

SINGARAJA | patrolipost.com – Seorang warga Banjar Dinas Purwa, Desa Pengastulan, Kecamatan Seririt, Kabupaten Buleleng, Bali meninggal dunia usai divaksin jenis AstraZeneca. Warga bernama Surayyah (58) divaksin di Puskesmas II Melaya Kelurahan Gilimanuk, Jembrana, meninggal di RS Saiful Anwar Malang Jawa Timur.

Kasus meninggalnya warga diduga mengalami Kejadian Ikutan Pasca Vaksin (KIPI) pasca menerima vaksin itu berawal dari almarhumah hendak mengantar cucunya kembali ke Malang, Sabtu (4/9-2021). Karena tercatat belum divaksin, petugas di Pelabuhan Gilimanuk meminta untuk tidak menyeberang menuju Pelabuhan Ketepang-Banyuwangi sebelum divaksin.

Bacaan Lainnya

Mengikuti aturan itu, yang bersangkutan bersama dua cucunya diarahkan petugas untuk divaksin di Puskesmas Gilimanuk. Beberapa jam kemudian pasca menerima vaksin, korban mengalami gejala demam tinggi hingga mengalami kejang. Bahkan saat kejang, dari mulut korban mengeluarkan darah akibat lidahnya terkena tekanan gigi.

Pada Minggu (5/9) kondisi korban terus memburuk. Dengan menggunakan ambulans, korban kemudian dilarikan ke rumah sakit untuk mendapatkan pertolongan. Setelah mendapat perawatan beberapa lama kondisi korban sempat membaik hingga diperbolehkan pulang pada Selasa (14/9). Sehari setelah berada di rumah, korban mengalami kehilangan respon terhadap lingkungan.

Disebutkan, korban tidak lagi ingat dengan anggota keluarga, bahkan tidak merespon saat disapa. Atas kondisi itu, korban kembali dilarikan ke rumah sakit dan sempat kembali kejang sebelum dinyatakan meninggal dunia, Kamis (16/9/2021). Dari Malang jenazah korban dibawa ke kampung halamannya menggunakan standar Covid-19  dengan katagori probable.

“Istri saya tidak memiliki riwayat kejang dan itu terjadi setelah ia di vaksin,” kata suami korban Humaidi (62), Minggu (12/9).

Menurut penjelasan Humaidi, istrinya tersebut selama ini tidak memiliki riwayat sakit dengan gejala kejang. Bahkan saat dicek  tekanan darah sebelum divaksin dinyatakan layak vaksin. Begitu juga hasil rapid antigen sebagai syarat melakukan perjalanan darat terkonfirmasi negatif.

“Sewaktu dirawat di rumah sakit seluruh organ vitalnya dan dinyatakan sehat,” imbuhnya.

Karena tidak menunjukkan gejala membaik, pihak rumah sakit meminta izin untuk memeriksa bagian otak dengan mengambil cairannya.

“Saya diberitahu kalau pada bagian otak istri saya disebutkan ada semacam jamur,” jelasnya.

Beberapa hari setelah dirawat, menurut Humaidi, kondisi istrinya sempat membaik sehingga diperbolehkan pulang.

“Sehari setelah di rumah tiba-tiba istri saya kehilangan respon dengan keadaan sekitar. Seperti kehilangan kesadaran,” ucapnya.

Takut terjadi situasi memburuk, korban kembali dilarikan ke rumah sakit dan sempat diminta untuk menandatangani surat standar perawatan Covid-19.

“Dan takdir berkata lain beberapa jam kemudian setelah mendapat perawatan, istri saya semakin kritis dan nyawanya tak tertolong,” ucapnya.

Dalam catatan yang diterima, almarhum menerima vaksin pertama tanggal 4/9 dan vaksin kedua dijadwalkan tanggal 27 November 2021.

Kepala Dinas Kesehatan Buleleng dr Sucipto saat di konfirmasi mengaku tidak mengetahui secara langsung kasus tersebut. Namun menurutnya, jika kasusnya seperti itu penyebab korban meninggal belum bisa dipastikan karena vaksin. Menurunya, untuk mengetahui penyebab meninggalnya pasien berkaitan dengan KIPI, perlu dilakukan penelitian secara komprehensif atas kondisi pasien terlebih untuk diambil kesimpulan yang menjadi penyebabnya.

“Sebelum divaksin, kondisi kesehatan pasien dicek dulu. Setelah dianggap layak baru divaksin. Saya khawatir pasien memiliki comorbid,” ujarnya, Minggu (19/9/2021).

Namun demikian, kasus tersebut akan menjadi catatan untuk dilakukan langkah lebih lanjut agar masyarakat merasa aman saat divaksin.

“Memang ada pilihan vaksin jenis Sinovac dan Astrazeneca maupun yang lainnya. Yang paling kecil kasus KIPI nya Sinovac dan itupun tergantung kondisi tubuh korban saat menerima vaksin,” tandasnya. (625)

Print Friendly, PDF & Email

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *