Pengelola Objek Penglipuran Masih Bayar Gaji Petugas Kebersihan

Gambar Gravatar
  • Whatsapp
Suasana di objek wisata Desa Tradisional Penglipuran Kelurahan Kubu Kecamatan Bangli. (ist)

BANGLI | patrolipost.com – Di tengah masa pandemi Covid-19 yang dibarengi dengan penutupan objek wisata, pengelolaan objek wisata Desa Tradisional Penglipuran di Kelurahan Kubu Kecamatan Bangli masih bisa membayar gaji petugas kebersihan. Untuk pembayaran gaji menggunakan dana cadangan.

Pengelola objek wisata Desa Tradisional Penglipuran, I Nengah Moneng mengatakan bahwa dana cadangan selalu dipersiapkan. Hal tersebut berkaca dari pengalaman sebelumnya ketika pariwisata mengalami keterpurukan.

Bacaan Lainnya

“Kami berkaca dari kasus yang terjadi sebelumnya yakni  kasus Bom Bali hingga bencana alam Gunung Agung. Begitu pula  dalam situasi pandemi Covid-19 ini, pengelola telah melakukan langkah antisipasi,” ujarnya, Rabu (8/9/2021).

Kata mantan pendidik ini, dana cadangan yang disiapkan sebesar  Rp 300 juta. Selain untuk bayar upah/gaji, dana tersebut juga dimanfaatkan untuk subsidi bagi warga yang merenovasi bangunan tradisional.

Situasi pendemi, pariwisata tidak berjalan normal. Tentu hal tersebut berimbas pada pendapatan daerah serta pengelola objek wisata. Khusus untuk di Penglipuran selama tidak ada kunjungan, tenaga yang bekerja hanya petugas kebersihan. Setidaknya ada 11 orang petugas kebersihan yang bertugas setiap harinya.

“Untuk menjaga kebersihan, maka tenaga kebersihan saja yang bekerja. Sedangkan bidang lainnya tidak bekerja,” sebutnya

Total ada 23 orang karyawan di objek wisata Penglipuran. Karena tidak ada kunjungan tentu sampah non organik tidak banyak. Sehingga jam kerja tenaga kebersihan juga dikurangi. Dalam kondisi normal karyawan bekerja 8 jam, sedangkan dalam kondisi saat ini  hanya 4 jam. Karena  jam kerja dikurangi,  maka gaji yang dibayarkan setengahnya.

Lanjut  Nengah Moneng, warga yang menjadi karyawan ini tidak 100 persen menggantung diri pada pariwisata. Mereka  memilki kegiatan lainnya seperti berternak atau bertani.

“Walaupun tidak bekerja mereka masih mampu bertahan karena  masih ada penghasilan lainnya,” imbuhnya. (750)

Print Friendly, PDF & Email

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *