Setelah Vaksin, Kasus Covid-19 Melandai: Pertanda Pulihnya Pariwisata Bali?

  • Whatsapp
Presiden Jokowi saat memantau pelaksanaan vaksinasi di Kota Denpasar melalui video conference dari Puri Agung Ubud Gianyar. 16 Maret 2021 lalu. (dok)

FENOMENA alam berupa Lintang Kemukus (orang Bali menyebutnya Bintang Kuskus) terlihat Selasa 18 Mei 2021 sekira pukul 18.10 Wita di langit Selatan Pura Uluwatu, Bali. Fenomena alam berupa sinar berwarna biru tegak lurus itu muncul bersamaan dengan pertunjukan tari kecak di Pura Uluwatu. Kalau di Jawa kemunculan Lintang Kemumukus sebagai pertanda buruk, di Bali justru dianggap pertanda baik, dan dikaitkan dengan akan berakhirnya pandemi virus Corona.

Benarkah virus Corona akan berakhir di pulau para dewa ini?

Bacaan Lainnya

Sudah lebih dari setahun Indonesia dan seluruh belahan dunia menghadapi virus yang pertama kali ditemukan di Wuhan, Provinsi Hubei, RRT ini, namun belum satu pun ahli berani menyebut kapan akan berakhirnya. Bahkan seperti arus permukaan laut, serbuan virus ini datang bergelombang. Semua sendi kehidupan masyarakat dihempasnya, bahkan kehidupan sosial budaya serta perilaku sehari-hari pun harus berubah oleh makhluk ‘halus’ bernama Coronavirus Disease 2019 (Covid-19) ini.

Bicara tentang pariwisata Bali berarti bicara tentang ekonomi, sebab pariwisata merupakan nafasnya ekonomi Bali. Kalau pariwisata berjalan normal, maka otomatis normal pula ekonomi Bali. Dalam masa setahun lebih pandemi Covid-19, ekonomi Bali terkoreksi paling dalam. Jika dalam kondisi normal pertumbuhan ekonomi Bali di atas nasional, maka setelah serbuan virus Corona, pertumbuhannya jauh di bawah nasional.

Wakil Gubernur Bali Tjokorda Oka Artha Ardhana menyatakan, pertumbuhan ekonomi Bali selama hampir 1,5 tahun pandemi Covid-19 mengalami kontraksi yang sangat dalam. Bali kehilangan kontribusi pariwisata sebesar 54% terhadap PDRB. Pada triwulan I sebesar -1,2% (YoY), triwulan II yaitu 11,06% (YoY), triwulan III sebesar -12,32% (YoY), dan triwulan IV menjadi -12,21% (YoY).

“Pendapatan terbesar Bali selama ini diperoleh dari sektor pariwisata dengan angka lebih dari 50%. Sedangkan, kontribusi pariwisata terhadap produk domestik regional bruto (PDRB) lebih dari 54%. Bisa dibayangkan bagaimana terpuruknya perekonomian Bali saat dihantam pandemi,” ungkapnya dalam Rapat Koordinasi Pengawasan Internal (Rakorwasin) Keuangan dan Pembangunan Tingkat Provinsi Bali Tahun 2021.

Pria yang akrab disapa Cok Ace ini menjelaskan, Pemprov Bali telah menyiapkan langkah-langkah pemulihan pariwisata, baik jangka pendek maupun jangka panjang. Strategi jangka pendek dengan menyiapkan tiga zona hijau (green zone) yang meliputi daerah Sanur (Kota Denpasar), Ubud (Kabupaten Gianyar) dan Nusa Dua (Kabupaten Badung). Selain itu, juga menyiapkan fasilitas MICE (Meetings, incentives, conferencing, exhibitions) di Nusa Dua, memperbaiki transportasi darat, laut dan udara.

“Kami mengusulkan anggaran Pemulihan Ekonomi Nasional (PEN) dengan total usulan Rp 260.734.633.000 di tahun 2021, anggaran itu untuk memperbaiki infrastruktur,” katanya.

Sedangkan strategi jangka panjang Pemprov Bali menyiapkan langkah-langkah mengurangi ketergantungan kepada sektor pariwisata. Dilakukan penyeimbangan struktur dan fundamental perekonomian Bali antara sektor pariwisata dengan pertanian dan industri.

Pemprov Bali memang harus bekerja keras memulihkan pariwisata, sebab pariwisata menjadi kunci untuk perbaikan seluruh sektor kehidupan di Bali. Karenanya masyarakat Bali sangat berharap pemerintah pusat membuka border internasional agar wisatawan asing bisa leluasa datang ke Bali seperti sebelum pandemi. Saat ini praktis Bali hanya mengharapkan wisatawan domestik (wisdom). Itu pun dikungkung oleh banyak aturan terkait upaya pemerintah menekan penyebaran Covid-19.

“Praktis saat ini kita hanya mengandalkan wisatawan domestik. Dari pengalaman dampak Bom Bali I dan II, wisdom yang membangkitkan pariwisata Bali. Mereka datang pada saat weekend atau libur panjang,“ ujar Ketua Depeta (Dewan Pengawas Tata Krama) DPD Asita Bali, I Komang Nurjaya Mahartha SS, Kamis (13/5/2021) lalu.

Sedangkan kalau wisatawan luar negeri, kata Nurjaya, jika travel bubble masih diaktifkan, meskipun di Bali sudah buka, tapi tidak bisa mendapatkan wisatawan langsung dari luar negeri. Apalagi sekarang wisatawan luar negeri ketika datang ke Bali harus menjalani PCR dan sudah divaksin untuk keamanan.

Menurutnya, pandemi Covid-19 yang sudah berlangsung setahun lebih sangat memukul travel agent di Provinsi Bali. Dari 403 anggota Asita Bali, hanya 10 persen sekarang yang aktif, itu pun sifatnya buka-tutup.

Itulah sebabnya, Asita Bali sangat mendukung apapun keputusan pemerintah, terutama terkait rencana dibukanya border wisatawan internasional ke Bali pada Juli 2021 mendatang. Sebab, dengan dibukanya border wisatawan internasional memberi harapan kepada usaha trevel untuk terus bertahan setelah sekian lama berpenghasilan pas-pasan.

“Memprihatinkan sekali, malahan saya lihat langsung dari teman-teman sampai ada yang menjual asetnya untuk memenuhi kebutuhan mereka. Banyak yang merasa jenuh, tapi mau tak mau kita harus ikuti, kita yakin ke depan pariwisata Bali akan kembali bangkit,” pungkas pria yang juga menjabat Kelian Banjar ini.

Vaksin Memberi Harapan

Sesuai program pemerintah, vaksinasi Covid-19 masif dilaksanakan di Provinsi Bali sejak Maret 2021. Targetnya 70 persen penduduk Bali harus sudah divaksin untuk membentuk kekebalan komunal (herd immunity). Guna mempercepat dan memperluas cakupan vaksinasi, selain dilaksanakan Dinas Kesehatan, juga oleh instansi terkait, pihak swasta sampai ormas dan paguyuban.

Tempat pelaksanaannya juga diperluas. Selain di banjar-banjar setiap kabupaten, juga di kantor desa, puskesmas sampai pusat perbelanjaan. Di Denpasar misalnya, vaksinasi sistem jemput bola ini dilaksanakan Sabtu (22/5/2021) di Vihara Satya Dharma Sesetan, Denpasar. Vaksinasi ini diinisiasi INTI (Indonesia Tionghoa) Bali dan INTI Klub Bali Sehat (IKBS). Sasarannya lintas komunitas masyarakat Denpasar. Sebelumnya, vaksinasi massal juga dilaksanakan di Hongkong Garden.

Ketua PD INTI Bali, Romo Sudiartha Indrajaya mengatakan, pelaksanaan vaksinasi  massal Perhimpunan INTI Bali bersama IKBS untuk memberikan dukungan terhadap vaksinasi Covid – 19 yang dilaksanakan pemerintah. Dukungan tersebut diberikan guna mempercepat cakupan vaksinasi virus Covid-19 untuk membentuk herd immunity atau kekebalan kelompok.

“Hari ini merupakan hari ke-7 pelaksanaan vaksinasi massal Perhimpunan INTI Bali bersama IKBS dimana akan dilaksanakan selama 10 hari. Hari ini target kita 1.500 warga. Upaya ini dilakukan demi memutus rantai Covid-19 guna mewujudkan Bali zona hijau agar ekonomi bangkit,” ujarnya.

Sementara itu vaksinasi juga dilaksanakan massif oleh Pemerintah Kabupaten Badung melalui Dinas Kesehatan berkolaborasi dengan pihak swasta. Salah satunya bekerjasama dengan pihak Halodoc dan Waterboom Kuta dengan melaksanakan vaksinasi drive thru bagi pekerja pariwisata bertempat di parkiran Waterboom Kuta, Selasa (20/4/2021) lalu. Vaksinasi dilaksanakan selama 4 hari dengan target sebanyak 2.000 peserta.

Bupati Badung Nyoman Giri Prasta menyatakan, Pemkab Badung memfokuskan program vaksinasi drive thru ini di kawasan Kuta, mengingat di kawasan Kuta sirkulasi kendaraannya yang padat. Warga Badung yang melintas di kawasan tersebut dan mau melakukan vaksinasi dipersilakan untuk mampir karena Pemkab Badung berserta pihak terkait sudah menyiapkan fasilitas yang sangat baik.

“Keuntungan vaksinasi drive thru ini, satu mobil bisa melakukan vaksin 4 orang dan satu motor bisa 2 orang. Ini bentuk wujud pelayanan Pemerintah Kabupaten Badung untuk membentuk dan memperluas green zone di wilayah Kabupaten Badung. Untuk wilayah Kutsel dan Kuta digenjot pelaksanaan vaksinasinya karena wilayah ini merupakan pintu masuk tamu domestik dan mancanegara melalui transportasi udara,” katanya.

Sedangkan bagi tamu asing (saat ini terbanyak ekspatriat) yang mau melakukan vaksinasi di Badung, Giri Prasta menyebutkan bahwa tamu yang bersangkutan harus mendapatkan rekomendasi dari Kedubesnya masing-masing untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan di kemudian hari.

Untuk memberikan rasa aman bagi wisatawan yang akan berkunjung ke destinasi wisata, juga disediakan GeNose di beberapa destinasi wisata terutama yang ada di wilayah Kuta. Alat deteksi virus Corona ini lebih simpel dalam pengoperasiannya dan cepat perolehan hasilnya. Saat ini objek wisata yang sudah menyediakan GeNose adalah kawasan Pura Uluwatu, Jimbaran.

Ditinjau Presiden Jokowi

Pelaksanaan vaksinasi massal di Provinsi Bali menjadi atensi pemerintah pusat, sebab terkait dengan upaya memulihkan ekonomi Bali yang sempoyongan selama setahun lebih. Pemulihan ekonomi Bali hanya bisa dilakukan dengan memulihkan pariwisatanya. Oleh karena itu vaksinasi untuk menciptakan kekebalan komunal (herd immunity) menjadi harapan untuk meyakinkan dunia bahwa Bali aman dikunjungi.

Tercatat, kegiatan vaksinasi dipantau langsung Panglima TNI Marsekal Hadi Tjahjanto dan Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo. Ada dua lokasi yang dipantau yakni di GOR Kepaon Kodam Udayana dan Mall Bali Galeria, Rabu 21 April 2021.

Vaksinasi massal tersebut dilakukan kepada beberapa lapisan elemen masyarakat Denpasar dan Badung. Diantaranya, pelaku pariwisata, driver ojek online, dan masyarakat sekitar. Panglima TNI dan Kapolri juga meninjau pelaksanaan vaksin massal secara Drive Thru yang digelar di Mall Bali Galeria. Di tempat ini jumlah warga yang divaksin sebanyak 450 orang.

Sebelumnya vaksinasi massal di Banjar Tegalalang Kelurahan Ubud, Kabupaten Gianyar mendapat kunjungan Menteri Dalam Negeri Tito Karnavian, Selasa (23/3). Mendagri didampingi Gubernur Bali, Pangdam IX Udayana, Kapolda, Sekda Provinsi Bali dan Bupati Gianyar mengunjungi lokasi vaksinasi di Banjar Tegallantang, Kelurahan Ubud.

Mendagri mengapresiasi vaksinasi yang disebutnya berbasis mikro ini, yang menurutnya berlangsung sangat tertib. Dikatakannya, tidak banyak yang melaksanakan vaksinasi tingkat banjar (mikro), adanya tingkat desa, kampung, kelurahan atau kecamatan. Vaksinasi di tingkat banjar menurutnya lebih tertib teratur.

“Dengan adanya keteraturan jam, yang datang siapa, yang mau disuntik, dan yang lain-lainnya ini, terjadi aliran masuk dan keluar dengan baik,” kata Tito.

Dia berpesan, bagi masyarakat yang sudah divaksin jangan langsung merasa sudah aman. Harus tetap memakai masker, mencuci tangan, menjaga jarak, dan menghindari kerumunan. Ditambahkannya, antibodi bisa terbentuk sempurna dalam 3-4 minggu setelah vaksin kedua dilakukan.

Puncaknya Presiden RI Joko Widodo (Jokowi) meninjau langsung pelaksanaan vaksinasi di Provinsi Bali, Selasa 16 Maret 2021 lalu. Presiden bersama sejumlah Menteri meninjau pelaksanaan vaksinasi di Puri Agung Ubud, Kabupaten Gianyar, serta melakukan video conference dengan seluruh bupati yang juga melaksanakan vaksinasi di wilayah masing-masing.

Salah satu lokasi vaksinasi yang dipantau Presiden melalui vidcon adalah vaksinasi massal bagi rohaniawan, bendesa, sulinggih, pemangku, budayawan hingga seniman termasuk pelayan publik di Gedung Dharma Negara Alaya (DNA) dan Lapangan Parkir Gedung Sewaka Dharma (GSD) Lumintang, Denpasar.

“Pada pagi hari ini kita patut bersyukur bahwa proses vaksinasi sudah mulai secara bersamaan di Provinsi Bali, untuk kabupaten dan kota,” ujar Jokowi.

Jokowi menuturkan, dengan semakin banyak masyarakat divaksinasi, diharapkan terjadi kekebalan komunal atau Herd Immunity. Sehingga, laju penularan Covid-19 bisa ditekan di Provinsi Bali. Jokowi juga meminta masyarakat yang sudah divaksinasi agar tetap disiplin menerapkan Protokol Kesehatan.

“Agar tetap selalu menjaga Protokol Kesehatan secara ketat, sehingga betul-betul nanti laju penyebaran Covid ini bisa berkurang,” jelasnya.

Cakupan Vaksinasi

Merespon janji pemerintah pusat untuk membuka kembali pariwisata Bali pada Juli mendatang, Pemprov Bali menetapkan 3 zona hijau (green zone) yakni Sanur (Kota Denpasar), Nusa Dua (Kabupaten Badung) dan Ubud (Kabupaten Gianyar). Guna mewujudkan zero positif Covid-19 di 3 kawasan ini dilaksanakan vaksinasi terhadap seluruh warga yang berusia 18 tahun ke atas.

Vaksinasi di 3 zona hijau ini dilakukan serentak mulai Senin 22 Maret 2021. Konsep zona hijau berarti seluruh warga di tiga kawasan itu mendapat prioritas vaksinasi Covid-19.

Ketua Harian Satgas Penanganan Covid-19 Provinsi Bali yang juga Sekda Provinsi Bali Dewa Made Indra mengatakan, pemerintah pusat mendukung penyediaan vaksin sebanyak 170.487 dosis. Jumlah itu terbagi sebanyak  47.045 dosis untuk wilayah Ubud, 87.715 untuk Nusa Dua dan 35.727 dosis untuk wilayah Sanur.

“Dengan pemberian vaksin dan didukung penerapan Protokol Kesehatan yang ketat dan disiplin, maka zona hijau di tiga kawasan ini akan terwujud,” kata Dewa Indra, Minggu (21/3/2021).

Vaksinasi di tiga kawasan itu, kata Dewa Indra, merupakan langkah taktis dan strategis untuk mencapai dua tujuan sekaligus yakni, pemulihan kesehatan masyarakat dan pemulihan pariwisata (ekonomi) Bali.

Sementara itu hingga pertengahan Mei 2021 cakupan vaksinasi dosis II di Provinsi Bali sudah mencapai 35 persen dari total penduduk 4,32 juta jiwa. Upaya Bali membebaskan diri dari infeksi virus Corona yang masih menyebar,  juga mendapatkan dukungan dari pemerintah pusat. Bali mendapatkan prioritas 1,9 juta vial vaksin Covid-19 yang diperuntukkan bagi warga.

Pemerintah Provinsi Bali melalui Satgas Penanganan Covid-19 mentargetkan akhir Juni 2021 progres vaksinasi telah selesai 70 persen. Angka 70 persen itu untuk memenuhi herd immunity sebesar 2,8 juta dari total jumlah penduduk Bali sebanyak 4,32 juta jiwa.

Sekretraris Satgas Penanganan Covid-19 Provinsi Bali Made Rentin mengatakan, pada periode akhir Juni, kelompok yang masuk vaksinasi harus sudah mendapatkan suntikan kedua.

“Secara teori di dunia Kesehatan, jika 70 persen dari populasi divaksin, sudah terbentuk herd immunity atau kekebalan komunal,” kata Made Rentin, Rabu (7/4/2021) lalu.

Kasus Mulai Melandai

Data Satgas Penanganan Covid-19 Provinsi Bali menunjukkan, warga terinfeksi Covid-19 di Pulau Dewata mencapai 46.918 orang. Perinciananya, ada 43.669 transmisi lokal, 2.881 pelaku perjalanan dalam negeri (PPDN) dan 368 pelaku perjalanan luar neger (PPLN).

Adapun peringkat lima besar kabupaten/kota di Bali dengan kumulatif kasus terbanyak diduduki Kota Denpasar 14.863 orang, Kabupaten Badung 8.769 orang, Gianyar 5.303 orang, Tabanan 4.706 orang, dan Buleleng 3.980 orang. Untuk peringkat enam hingga sembilan diisi Kabupaten Bangli 2.454 orang, Jembrana 2.312 orang, Karangasem 1.914 orang, dan Klungkung 1.762 orang.

Panglima Kodam (Pangdam) IX/Udayana, Mayjen TNI Maruli Simanjutak mengatakan, jumlah kasus Covid-19 Bali pada Senin (24/5), mengalami penurunan. Mereka yang terpapar keseluruhan diketahui 60 orang dari transisi lokal. “Sisanya satu pelaku orang perjalanan dalam negeri (PPDN) dan satu dari pelaku perjalanan luar negeri (PPLN),” katanya di Kota Denpasar, Selasa (25/5).

Menurut Maruli, pengetatan Protokol Kesehatan dan PPKM skala mikro yang digencarkan, membuat jumlah kasus Covid-19 di Bali terus menurun. Dengan begitu, diharapkan sektor pariwisata yang selama ini terkunci bisa dibuka kembali demi meningkatkan perekonomian masyarakat.

Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi, Luhut Binsar Pandjaitan menyebut, jumlah kasus Covid-19 di Bali memang sudah mengalami penurunan. Hal tersebut memungkinkan kegiatan perekonomian di Bali bisa kembali dilanjutkan, salah satunya sektor pariwisata.

“Penurunan tersebut terjadi karena diberlakukannya kebijakan pendekatan terukur dengan memperhitungkan dua faktor krusial, yaitu memungkinkan kegiatan ekonomi untuk dilanjutkan dan menegakkan implementasi Protokol Kesehatan di seluruh Bali, termasuk di tingkat desa,” kata Luhut.

Berdasarkan data resmi dari www.infocorona.baliprov.go.id memang terjadi tren penurunan pasien terkonfirmasi serta meninggal dunia di Provinsi Bali sejak awal Mei 2021. Jika pada bulan-bulan sebelumnya angka terkonfirmasi di atas 200-an, kini turun di bawah 100-an, sedangkan pasien yang meninggal dunia jika sebelumnya berkisar 6-12 orang, kini turun jadi 1-9 orang.

Pada minggu ke-4 bulan Mei misalnya, kasus positif harian tertinggi 112 orang dan terendah 50 orang. Pasien sembuh tertinggi 158 orang dan terendah 52 orang. Sedangkan pasien meninggal dunia terbanyak 9 orang dan terendah 1 orang.

Berikut perkembangan Kasus Covid-19 per kabupaten di Provinsi Bali per Rabu (26 Mei 2021:

Kabupaten Jembrana (kasus positif 2.316 orang, pasien sembuh 2.224 orang, meninggal dunia 78 orang, dalam perawatan 14 orang). Kabupaten Buleleng (kasus positif 3.989 orang, pasien sembuh 3.744 orang, meninggal dunia 164 orang, dalam perawatan 81 orang). Kabupaten Tabanan (kasus positif 4.708 orang, pasien sembuh 4.458 orang, meninggal dunia 191 orang, dalam perawatan 59 orang).

Kabupaten Bangli (kasus positif 2.456 orang, pasien sembuh 2.296 orang, meninggal dunia 110 orang, dalam perawatan 50 orang). Kabupaten Badung (kasus positif 8.778 orang, pasien sembuh 8.400 orang, meninggal dunia 248 orang, dalam perawatan 130 orang). Kota Denpasar (kasus positif 14.882 orang, pasien sembuh 14.264 orang, meninggal dunia 344 orang, dalam perawatan 273 orang).

Berikutnya Kabupaten Gianyar (kasus positif 5.311 orang, pasien sembuh 5.093 orang, meninggal dunia 138 orang, dalam perawatan 80 orang). Kabupaten Klungkung (kasus positif 1.763 orang, pasien sembuh 1.675 orang, meninggal dunia 77 orang, dalam perawatan 11 orang)

Kabupaten Karangasem (kasus positif 1.915 orang, pasien sembuh 1.768 orang, meninggal dunia 112 orang, dalam perawatan 35 orang).

Secara nasional Provinsi Bali masih menduduki peringkat ke-8 dalam hal jumlah kasus Covid-19 yakni positif 44.236 orang, sembuh 41.608 orang dan meninggal dunia 1.317 orang. Namun dengan tuntasnya target 70 populasi penduduk tervaksin pada akhir Juni nanti, ada optimisme keadaan menjadi lebih baik. Semoga saja Bintang Kuskus yang terlihat di Uluwatu itu memang sebagai pertanda baik untuk kelangsungan hidup masyarakat Bali. (izarman)

Print Friendly, PDF & Email

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *