Sugawa Korry: Tingkatkan Populasi Babi di Bali, Pemerintah Didorong Lakukan “Restocking”

  • Whatsapp

Pertemuan GUPBI Bali di Sekretariat DPD Partai Golkar Bali

 

Bacaan Lainnya

DENPASAR | patrolipost.com –Melambungnya harga daging babi yang disebabkan turunnya jumlah populasi babi secara signifikan yang diakibatkan oleh virus African Swain Fever (ASF) yang menyerang babi pada tahun 2020 silam, rupanya masih berimbas hingga kini.

Bercermin dari kondisi tersebut, Ketua DPD Partai Golka Bali, I Nyoman Sugawa Korry meminta Pemerintah Provinsi Bali kembali berpikir untuk  melakukan persediaan kembali (restocking) babi. Hal ini dilakukan pemerintah tujuannya tidak lain untuk menyelamatkan populasi babi di Bali yang menurut data Gabungan Usaha Peternakan Babi Indonesia (GUPBI) Bali populasinya tinggal 10 persen dari satu juta ekor di kondisi normal.

“Kita dorong pemerintah untuk melakukan restocking. Caranya bagaimana? Yaitu dengan mengatur anggaran yang  cukup, pemberian bibit yang sehat serta berupaya menghilangkan virus penyakit dengan obat-obatan mencegah penyakit atau virus yang kerap menyerang babi,” tutur Sugawa Korry saat menerima sekelompok masyarakat yang tergabung dalam GUPBI Bali di sekretariat DPD Partai Golkar , Jumat (5/2/2021). Bahkan Sugawa Korry pada kesempatan ini memerintahkan semua anggota DPRD Golkar baik provinsi dan kabupaten/kota mendukung langkah yang diambil partai berlambang beringin ini.

Lantas ia menyampaikan, keberadaan babi di Bali tidak terlepas dari tradisi masyarakat Bali yang acapkali digunakan dalam setiap kegiatan, namun yang penting juga bagaimana babi menjadi salah satu sumber pendapatan ekonomi masyarakat.

“Kami tidak menginginkan kondisi sekarang terjadi lagi dikemudian hari. Dimana stok langka, harga melambung, peternak menjerit, konsumen merana akibat tidak tersedianya pasokan yang memadai,” tukasnya, seraya mengungkapkan pihaknya mendengar ada serbuan daging babi dari luar Bali yang dijual murah.

Menanggapi apa yang disampaikan Sugawa Korry, Ketua GUPBI Bali, Ketut Hari Suyasa yang datang bersama beberapa anggotanya membenarkan apa yang dikatakan Wakil Ketua DPRD Provinsi Bali itu.

“Itulah kondisi sebenarnya yang tengah dihadapi para peternak babi di Bali,” tuturnya.

Bahkan kondisi ini diperparah dengan masuknya daging babi dari daerah Solo dan sekitarnya ke Bali yang dijual murah, namun di tingkat konsumen harganya melambung tinggi sekali.

“Kita menduga ada “permainan” untuk menggelembungkan harga daging babi di tingkat konsumen,” sebutnya seraya mengungkapkan, daging babi yang masuk ke Bali  disinyalir terdampak virus atau wabah.

“Jangan sampai nantinya timbul lagi wabah baru di Bali,” katanya. (wie)

 

 

 

 

 

 

 

 

Print Friendly, PDF & Email

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *