Antisipasi Lonjakan Covid-19, Pemprov Bali Tambah Kapasitas Tempat Karantina

  • Whatsapp

Sekda Provinsi Bali, Dewa Made Indra.

 

Bacaan Lainnya

 

DENPASAR | patrolipost.com – Usai menghadiri peresmian gedung baru Ombudsman Republik Indonesia Perwakilan Provinsi Bali bersama Gubernur Bali, I Wayan Koster di Denpasar, Jumat (29/1/2021), Sekretaris Daerah Provinsi Bali Dewa Made Indra mengatakan, ada dua jenis peningkatan kasus positif Covid-19 yakni, positif bergejala dan positif  tidak bergejala. Klaster yang ada, saat ini, justru disinyalir lebih berasal dari lingkungan keluarga.

Dengan adanya peningkatan tersebut, Dewa Indra tidak menampik, bed occupancy rate (BOR) di rumah sakit juga ikut meningkat. Dewa Indra mengatakan, salah satu upaya mengatasi lonjakan covid-19 di Bali dengan menambah kamar hotel yang disewa pemerintah untuk OTG.

Bali telah menyiapkan 17 hotel untuk melakukan karantina terpusat orang positif covid-19 tanpa gejala. Pemerintah Provinsi Bali melalui Satuan Tugas Penanganan Covid-19 juga menggandeng Rumah Sakit swasta untuk menangani pasien positif covid-19 dengan gejala.

“Karena itu, tempat karantina dikembangkan terus sesuai dengan kebutuhan. Sampai hari ini, sudah ada 17 hotel kita pakai sebagai tempat karantina,” kata Dewa Indra.

Sekda menyebut, saat ini masih tersisa 500 kamar di rumah sakit negeri maupun swasta. Pemerintah mengambil kebijakan seluruh rumah sakit yang digunakan merawat pasien covid-19 wajib menaikkan kapasitas perawatan sebesar 30 persen.

“Sekarang baru berlangsung. Ada yang baru 10 persen, karena ini butuh proses, merubah ruang perawatan biasa menjadi ruang perawatan covid-19, butuh proses,” jelasnya.

Dewa Indra menegaskan sekaligus mengingatkan, mengurangi angka covid-19 bukan dengan menambah ruang karantina di hotel maupun menambah ruang pelayanan di rumah sakit. Namun, masyarakat harus disiplin menerapkan 3M dalam melakukan pencegahan paparan virus Sars-cov-2 yang menyebabkan penyakit covid-19.

“Masyarakat harus disiplin menerpkan 3 M. Kemudian, mengurangi aktifitas kerumunan yang melibatkan orang banyak. Sedangkan kasus terbanyak dari Denpasar dan dari klaster keluarga,” pungkasnya. (wie)

 

 

 

Print Friendly, PDF & Email

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *