Predator “Red Devil” Ancam Pupulasi Ikan Nila Danau Batur

  • Whatsapp
Kadis PKP Bangli, I Wayan Sarma. (ist)

BANGLI | patrolipost.com – Keberadaan predator jenis ikan Red Devil menjadi ancaman bagi populasi ikan nila di Danau Batur, Kecamatan Kintamani, Bangli. Pasalnya, predator yang habitat aslinya berasal dari Danau Managua dan Danau Nikaragua di Amerika Tengah ini memangsa ikan nila. Bahkan populasi predotor ini terus meningkat.

Kepala Dinas Pertanian, Ketahanan Pangan dan Perikanan (PKP) Bangli, I Wayan Sarma saat dikonfirmasi terkait keberadaan ikan Red Devill di Danau Batur  tidak menampiknya. Menurutnya, keberadaan ikan Red Devil sudah terdeteksi sejak tahun 2016. Sifat ikan yang karnivora memangsa serangga, cacing, ikan kecil, termasuk telur ikan.

”Ikan ini sifatnya teritorialis dan invasife sehigga dengan sifatnya perkembanganya cukup pesat di beberapa danau termasuk di Danau Batur,” jelasnya.

Ikan Red Devil selain memakan pakan ikan juga memangsa ikan nila. “Keberadaanya sudah terdeteksi sejak lama, jika dibiarkan akan berpengaruh terhadap populasi ikan nila,” ujarnya, Selasa (12/1/2021).

Lanjut Wayan Sarma, terkait keberadaan ikan Red Devil, pihaknya telah turun mengedukasi masyarakat khususnya kelompok ikan untuk menangkap dan membawa ikan tersebut ke darat dan jangan sampai  dibudidayakan.

“Sejatinya ikan Red Devil bisa dikonsumsi, namun kualitas dagingnya kurang bagus,” sebut kadis asal Desa/Kecamatan Tembuku ini.

Menurut Wayan Sarma, jika populasi ikan predator meningkat tentu akan berdampak pada populasi ikan nila atau keseimbangan ekosistem tidak terjaga. “Kami bukan mau membasmi ikan Red Devil, tapi hanya mengendalikan sesuai ambang batas sehingga ekosistem berjalan seimbang,” sebutnya.

Disinggung dari mana datangnya ikan Red Devil hingga berkembang biak di Danau Batur, kata Wayan Sama, kemungkinan bisa saja secara tidak sengaja ada penghoby ikan membuang ikan tersebut ke danau dan ikan tersebut  bercampur pada benih ikan nila yang ditebar.

”Sejauh ini keberadaan ikan Red Devil belum begitu dirasakan oleh kelompok ikan, jika dibiarkan tentu akan berpengaruh terhadap nilai ekonomis,” sebut Wayan Sarma. (750)

Print Friendly, PDF & Email

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *