Art Performance Bertajuk ‘Sip Setiap Saat’ Respons atas Situasi Pandemi Covid-19

  • Whatsapp
I Gede Made Surya Darma, saat tampil dalam Art Performance di Griya Sandrian Hotel, Sanur, Rabu (6/1/2021) (maha)

DENPASAR | patrolipost.com – Pameran seni rupa bertajuk ‘Sip Setiap Saat’ menampilkan beragam karya, salah satunya karya I Gede Made Surya Darma. Pelukis lulusan ISI Yogyakarta ini selain memajang karya berjudul Perdana Baka, juga menampilkan art performance bertema ‘Blind in Paradise’ yang digelar di Griya Santrian Hotel, Sanur, Rabu (6/1/2021).

Surya Darma mengatakan, art performance kali ini untuk merespon situasi pandemi Covid – 19 yang melanda dunia. Sebelumnya ia menampilkan art performancenya di India, 2021.

Bacaan Lainnya

“Saya sebagai seniman juga ada kegelisahan, semua orang merasa sedih tapi di satu sisi kita bisa belajar dari pandemi ini. Saya berupaya memaknai cerita Wayang Tantri yang mengisahkan cerita Pedanda Baka yang saya tuangkan ke dalam kanvas. Walaupun cerita ini sudah sangat tua, namun pesan yang disampaikan sangat relevan dengan era kekinian,” jelas Surya Darma.

Karya yang dikolaborasikan dengan lukisannya yang berjudul Pedanda Baka, dikarenakan adanya kedekatan konsep. Dipilihnya kolam renang sebagai tempat art performance karena kejadiannya sama-sama di dalam air.

Dalam performancenya Surya Darma menutupi kolam renang dengan berbagai macam bunga, sebagai simbol dari paradise keindahan kehidupan duniawi. Sedangkan lukisan Pedanda Baka dibiarkan mengambang di antara taburan bunga di daIam kolam renang tersebut.

Selain itu juga mengandung makna bahwa kearifan lokal atau cerita rakyat seperti Pedanda Baka, banyak pesan moral yang bisa dijadikan sesuluh hidup. Selain menebar bunga, Surya Darma juga menebarkan print kertas mengenai sejarah virus yang melanda dunia dan dampak yang ditimbulkan merekonstruksi sejarah virus, sebagai perenungan untuk selalu waspada.

“Saya mengambang di permukaan air dengan tebaran bunga dan kertas yang diprint tentang sejarah virus melanda dunia. Mata saya ditutup sebagai simbol bahwa tidak bisa jelas melihat mana yang benar mana yang salah. Seolah-olah buta dalam kegemerlapan kehidupan duniawi. Dengan adanya situasi dunia yang tidak menentu tersebutlah, saya ingin mengajak audience untuk memaknai kembali kearifan lokal dari cerita tradisional Pedanda Baka, maupun cerita rakyat lokal lainnya, sebagai sesuluh hidup pada era kekinian,” ujarnya.

Sementara itu Kuritor Pameran Seni Sip Setiap Saat, Wayan Seriyoga Parta mengatakan, Pameran seni kali ini untuk merespon pandemi Covid-19 yang belum jelas kapan akan berhenti.

“Intinya kita ingin keluar dari persoalan Covid-19 ini, maka kita menghadirkan art performance, bahwa geliat seni di tengah sepinya pariwisata masih bisa dinikmati secara khusuk,” tutup Wayan Seriyoga. (pp03)

Print Friendly, PDF & Email

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *