Program Pamsimas Bangli Sasar Desa dengan Kasus Stunting

  • Whatsapp
Kabid Aparatur Esosbud dan Infrastruktur Badan Perencanaan Pembangunan Daerah dan Penanaman Modal Bangli, Dewa Gde Wirawan,

BANGLI | patrolipost.com – Program Penyediaan Air Minum dan Sanitasi Berbasis Masyarakat (Pamsimas) untuk tahun 2021 menyasar desa yang memilki kasus stunting. Dua desa yang kecipratan program Pamsimas yakni Desa Manikliyu dan Desa Abuan, Kecamatan Kintamani.

Hal tersebut diungkapkan Kabid Aparatur Esosbud dan Infrastruktur Badan Perencanaan Pembangunan Daerah dan Penanaman Modal Bangli, Dewa Gde Wirawan, Jumat (4/12/2020).

Bacaan Lainnya

Menurut Dewa Wirawan, mengacu data dari Diskes, dua desa tersebut memiliki kasus stunting. Kasus yang terjadi tidak terlepas dari masalah sanitasi dan pemenuhan akan air bersih.

”Pengusulan di tahun 2020 dan pelaksanaan kegiatan fisiknya di tahun 2021 depan,” kata pria asal Banjar Sidawa, Desa Tamanbali ini.

Sebut Dewa Wirawan, persyaratannya sudah terpenuhi. Salah satunya yakni kesiapan desa, sharing pendanaan dari APBDes sebesar 10 persen dan kontribusi masyarakat 20 persen.

Papar Dewa Wirawan, sebagain besar desa sudah mengikuti program Pamsimas untuk tahun 2017 sebanyak 15 desa, tahun 2018 sebanyak 15 desa dan tahun 2019 sebanyak 18 desa serta tahun 2020 sebanyak 53 desa.

”Dari 68 desa di Bangli yang sudah menikmati air bersih dari program Pamsimas sebanyak 53 desa,” ungkapnya.

Ada beberapa desa tidak bisa mengakses program Pamsimas karena desa tersebut  menjadi wilayah untuk pengembangan perusahaan daerah air minum (PDAM) Bangli dan desa tidak siap sharing anggaran dari APBDes nya.

Terpisah Kasi Kesehatan Keluarga dan Gizi Masyarakat Dinas Kesehatan Bangli, Ketut Widianata mengatakan, dari hasil operasi timbang balita di bulan Februari dengan sasaran 13.603 balita ditemukan kasus stunting sebanyak 1.533. Dari beberapa desa termasuk di dalamnya Desa Abuan dan Manikliyu, Kecamatan Kintamani. Untuk desa Abuan dari sasaran 120 balita ditemukan kasus stunting sebanyak 23 kasus atau 19,17 persen. Sedangkan untuk Desa Manikliyu dari sasaran 42 balita ditemukan kasus stunting sebanyak 16 kasus atau 38,10 persen.

”Kasus stunting memang tersebar di beberpa desa, namun secara umum masih tergolong aman,” ungkapnya.

Disinggung penyebab timbulnya kasus stunting kata Ketut Widianata, salah satunya yakni masalah sanitasi dan ketersediaan air bersih yang tidak mendukung.

”Air adalah kebutuhan utama, kalau air tidak terpenuhi maka dapat dipastikan akan berdampak pada kesehatan,” ujarnya. (750)

Print Friendly, PDF & Email

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *