Daur Ulang Sampah Elektronik Menjadi Instalasi Seni

  • Whatsapp
Instalasi seni karya seniman I Kadek Rudiantara dari bahan sampah memiliki nilai estetika seni yang tinggi. (ron)

SEMARAPURA | patrolipost.com – Hamparan hutan jati menjulang tinggi. Di bawahnya, ranting-ranting daun kering dikreasikan menjadi instalasi seni. Daun jati tersebut dimanfaatkan betul, diolah dikombinasikan sedemikian rupa oleh seniman I Kadek Rudiantara.

I Kadek Rudiantara yang akrab disapa Aboet ini dikenal dengan seniman yang nyentrik media berkesenian adalah tanda tangan. Aboet merupakan pelukis yang mengkreasikan tanda tangan menjadi lukisan yang telah diberikan rekor oleh Museum Rekor Muri beberapa tahun lalu.

Lahan hutan jadi tersebut yang merupakan lahannya, naluri seni mengubah lokasi yang semula hanya hutan jati diexplorasikan sebagai tempat kreasi seni. Instalasi seni yang dimainkan Aboet lebih memanfaatkan daun jati kering ditempel di batang pohon jati.

Kata Aboet, daun kering tersebut sengaja yang dimanfaatkan agar bisa berdaya guna sebagai hiasan agar elok mata memandang. Selain memanfaatkan daun jati yang kering, Aboet memanfaatkan sampah elektronik seperti TV, HP, Tape dan lainya dikombinasikan menjadi seni.

“Sampah elektronik dibuang sia-sia. Saya meminta dan memanfaatkan sebagai instalasi seni. Hasil karya tersebut bisa dilihat. Saya membuka warung sebagai tempat nongkrong, “ ujar seniman asal Banjar Batan Ancak, Desa Mas, Ubud.

Warung Batan Puyan Jati “ Warung di Bawah Pohon Jati “ ia singkat dengan sebutan Warung Beti. Lokasi warung tersebut berada di Desa Adat Bitra, Kecamatan Gianyar yang merupakan lokasi paling ujung Kota Gianyar.

Pohon jati sebenarnya sudah bisa panen, tetapi dimata Aboet tidak mau menebangnya. Ia berdalih memanfaatkan lokasi tersebut sebagai tempat berkreasi dan tempat yang asyik untuk tongkrongan. Konsep menyatukan karya seni dengan lingkungan alam sebagai wujud merawat alam.

Menu yang ditawarkanpun menu yang biasa yang sering dijajakan di warung-warung pinggir jalan. Konsep pemberdayan, dimana masyarakat yang jual makanan khas lokal dijual di sana. Masalah harga jangan khawatir sebab menu yang disajikan adalah menu lokal walupun lokasi tersebut merupakan depan hotel berbintang. (855)

 

Print Friendly, PDF & Email

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *