Pemerintah Kembangkan Konsep Desa Wisata Berbasis Lingkungan di Labuan Bajo

Desa Liang Ndara, Kecamatan Mbeliling, Kabupaten Manggarai Barat. (afl)

LABUAN BAJO | patrolipost.com – Berbagai cara dilakukan Pemerintah Pusat dalam merealisasikan pembangunan pariwisata berkelanjutan di Labuan Bajo – Flores, NTT. Selain mengelar berbagai seminar pengembangan kualitas Sumber Daya Manusia (SDM) para pelaku usaha mikro, pemerintah juga serius mengembangkan destinasi wisata dengan mengedepankan konsep lingkungan yang bersih, sehat, dan aman.

Hal ini terwujud pada kegiatan sosialisasi Cleanliness, Health, Safety, Environment (CHSE) yang dilakukan oleh Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Kemenparekraf) bersama Kementerian Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal, dan Transmigrasidi Labuan Bajo, Jumat (4/9/2020).

Bacaan Lainnya

Deputi Bidang Pengembangan Destinasi Wisata dan Infrastruktur, Dr Hari Santoso Sungkari menyampaikan, setiap destinasi wisata yang ada di Labuan Bajo harus mengutamakan faktor CHSE (Clean, Healthy, Safe dan Environment) dalam pengembangannya. Hal ini bertujuan agak terciptanya lingkungan yang aman dan sehat bagi setiap wisatawan yang berkunjung. Sebab, lingkungan yang aman dan sehat akan berdampak pula pada peningkatan sisi ekonomi masyarakat, khususnya pada  pada penjualan produk-produk souvenir.

“Kami sedang menyosialisasikan program CHSE (Clean, Healthy, Safe dan Environment). Setiap destinasi wisata harus diangkat keempat faktor tersebut. Karena turis akan bertanya apakah saya nantinya akan aman dan sehat? Labuan Bajo adalah salah satu dari 5 destinasi super prioritas. Kami datang ke sini agar dampaknya terasa di seluruh kabupaten dan Provinsi NTT. Tidak hanya menjadi destinasi wisata tapi harus ada satu produk produk ekonomi kreatif yang bisa diangkat  dari situ,” ujarnya.

Hari pun melanjutkan, pengembangan desa wisata dengan penerapan konsep aman, sehat dan bersih tentu akan memberi dampak ekonomi yang baik bagi masyarakat. Dengan penciptaan lingkungan destinasi wisata yang aman, sehat dan bersih tentu akan menciptakan masa kunjungan wisatawan yang lebih lama. Hal ini akan memberi peluang bagi wisatawan untuk melirik produk-produk souvenir masyarakat lokal yang tentunya berkualitas karena proses produksinya berasal dari lingkungan yang bersih dan sehat.

Menurut Hari, kalau souvenir sudah bagus pasti orang akan bertanya dimana desa yang membuatnya. Hal itu menjadi promosi bagi desa sehingga akan sering dikunjungi. Sebelum dikunjungi wisatawan, warga desa sudah mendapatkan manfaat.

“Jadi tugas Saya itu membangun ekosistemnya, tidak hanya terpusat. Yang lain ikut suplai, bisa mensuplai produk barang kearifan lokal yang bisa dijual dan tentunya menarik. Pada akhirnya masyarakat harus mendapatkan manfaatkan ekonomi dari destinasi wisata. Wisata yang aman dan sehat. Itu kuncinya,” tutur Hari.

Sementara itu, Staf Khusus Menteri Bidang Keamanan Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, Inspektur Jenderal Pol Adi Deriyan Jayamarta SIK mengatakan, dalam menciptakan lingkungan destinasi wisata yang aman, sehat dan bersih perlu dilibatkannya semua pihak, baik pemerintah maupun pelaku pariwisata, baik pelaku industri dan ekonomi kreatif, pramuwisata, serta pelaku pariwisata lainnya.

Hal ini menurut Adi dengan terciptanya visit dan misi yang sama serta mampu bersinergi dengan baik, keterlibatan semua stakeholder menjadi kunci terciptanya destinasi wisata yang aman dan sehat.

“Konsep ke depan, selain kita melakukan kesinergian, kita juga akan mewujudkan dan membangun persepsi pariwisata bahwa wilayah NTT aman dan memberikan keselamatan bagi semua wisatawan yang datang,” ujarnya.

Bentuk persepsi yang akan dibangun jelas Jenderal Adi, yakni membentuk satu protokol keselamatan, keamanan dan kesehatan bagi para wisatawan yang datang berkunjung. Konsep ini nantinya akan menjadi tanggung jawab semua pihak baik masyarakat maupun pelaku pariwisata.

“Untuk mewujudkan ini perlu peran serta masyarakat. Menjaga keselamatan wisatawan, Bagaimana kesiapan perahunya, perawatannya, bilamana terjadi sesuatu, apa yang harus dilakukan, bagaimana masyarakat mampu melakukan semua itu. Hingga yang terbangun nanti bahwa wilayah Labuan Bajo aman dan selamat. Perlu kesungguhan dari semua pihak untuk menjalin Kerjasama,” tutup Adi Deriyan.

Terkait penerapan protokol kesehatan di setiap destinasi wisata yang ada di Labuan Bajo, Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Manggarai Barat, Agustinus Rinus menyampaikan sudah melaksanakannya secara maksimal.

“Protokol Kesehatan di sektor pariwisata sudah kita jalankan. Hal ini juga sesuai dengan Surat Keputusan Bupati Manggarai Barat,” kata Agustinus.

Meski mengalami penurunan kunjungan wisatawan secara drastis dikarenakan pendemi Covid-19, Gusti Rinus mengakui kunjungan wisatawan sudah berangsur-angsur membaik, meski saat ini masih didominasi oleh wisatawan nusantara.

“Dalam 10 hari terakhir mengalami peningkatan yang cukup signifikan, walaupun kebanyakan wisatawan nusantara,” ujarnya.

Gusti Rinus menjelaskan, terkait pengembangan desa wisata di Kabupaten Manggarai Barat, dari total 68 desa wisata yang disiapkan, terdapat empat desa wisata yang menjadi pilot project pengembangan yakni Desa Wisata Liang Ndara, Desa Wisata Batu Cermin, Gua Rangko dan Cunca Wulang. (334)

Print Friendly, PDF & Email

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.