Menolak ‘Punah’ Peternak Rakyat Bali Minta Campur Tangan Pemerintah

  • Whatsapp

Kelompok peternak ayam ‘broiler’ Bali.

 

Bacaan Lainnya

 

DENPASAR | patrolipost.com – Para peternak ayam boiler yang tergabung dalam Peternak Ayam Bali meminta campur tangan pemerintah atas persoalan yang membelit mereka, musababnya dimasa pandemi Covid-19 usaha yang dijalani mengalami kerugian akibat gempuran pasokan ayam dari luar Bali. Begitu diungkapkan I Ketut Yahya Kurniadi salah seorang peternak mewakili puluhan peternak ayam Bali.

Disebutkan Yahya, selaku peternak mandiri, ia dan kawan-kawannya merasakan betul imbas dari adanya Covid-19, dan kondisi ini diperparah dengan kehadiran Integrator yang notabene perusahaan besar.

“Dalam kondisi normal biasanya produksi kami 200 ribu ekor ayam, tapi saat ini sudah turun menjadi 150 ribu, dan itu bisa dikatakan surplus,” sebut Yahya, Kamis (27/8/2020) di Badung.

Turunnya daya beli masyarakat di masa pandemi Covid-19 bisa jadi penyebab, namun dikatakan Yahya hal ini diperparah dengan kehadiran para integrator yang juga mulai bermain di pasar becek.

“Ada tiga kelompok peternak ayam, pertama kelompok mandiri, kemitraan dan integrator. Kita kesulitan menghadapi integrator ini, mereka menguasai dari hulu sampai hilir,” ungkapnya.

Dikatakan kembali, para integrator memiliki tenaga pemasaran yang masuk ke pasar becek untuk meraup pelanggan yang sebelumnya menjadi pasar bagi peternak mandiri.

“Kondisi ini jelas tidak menguntungkan bagi kami. Terus terang kami ingin ada campur tangan pemerintah dalam mengatasi persoalan kami,” pintanya, seraya berujar kalau tidak ada campur tangan pemerintah, bisa dipastikan banyak peternak yang akan gulung tikar, apalagi daya beli menurun drastis sedangkan produksi surplus 40 ribu sampai 50 ribu ekor.

“Kalau sekarang serapannya jangankan setengah dari situasi normal (sebelum covid, red), cuma hampir 60 ribu ekor,” ungkapnya sedih.

Ia mengatakan, apabila kondisi peternak mandiri ini dibiarkan seperti ini hingga nenuju titik nadir, maka dikhawatirkan tak sedikit dari mereka akan gulung tikar.

“Kami sangat berharap bantuan pemerintah agar dipertemukan dengan seluruh stakeholder, kita tak ingin menang-menangan tapi agar semuanya bisa bertahan,” ucapnya.

Yahya membeberkan kondisi riil para peternak broiler mandiri saat ini. Bahwa harga pokok produksi (HPP) di Bali saat ini Rp.18.500,- per kilogram. Sementara harga ayam per hari ini Rp.8.000,- per kilogram. Ia menyebut kondisi ini sudah membuat peternak merugi Rp.10.500,-.

“Kalau kita hitung produksi sudah dibawah normal 140 sampai 150 ribu ekor per hari. Tapi karena serapan pasar hanya seratus, maka ini kami surplus 50 ribu. Kalau dihitung total kami merugi 100 milyar pak,” ulasnya.

Disisi lain, para peternak juga menyoroti masih lemahnya penerapan Peraturan Gubernur (Pergub) Nomor 6 Tahun 2013 tentang pola kemitraan dan Pergub Nomor 99 Tahun 2018 tentang pemanfaatan produk lokal.

“Dua pergub ini kami lihat belum jalan maksimal bahkan seperti macan ompong. Seperti Pergub 99/2018, daging begitu gampang masuk ke Bali ketika belum ada pandemi. Tapi sekarang ketika hotel restoran tutup mereka justru ikut mengambil pasar becek, ujung-ujungnya kami juga yang diserang,” ungkapnya sembari menambahkan sejatinya dua pergub itu mengayomi para peternak mandiri ini tapi kenyataannya tidak demikian. (Red)

 

 

 

 

 

Print Friendly, PDF & Email

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *