Rembug Budaya ‘Budaya Sebagai Jati Diri Bangsa’

  • Whatsapp

Rembug budaya di Hotel Puri Ayu, Denpasar, Minggu (23/8/2020)

 

DENPASAR | patrolipost.com – Dikemas secara apik, Rwa Bineda Bali menggelar kegiatan ‘Rembug Budaya’ yang mengusung tema ‘Budaya Sebagai Jati Diri Bangsa’ di Hotel Puri Ayu, Denpasar, Minggu (23/8/2020) malam dengan menghadirkan narasumber seperti, Ida Begawan Agra Sagening (Sulinggih), Drs. I Wayan Westa (Budayawan), Kadek Wahyudita (Seniman) dan Nyoman Ardika alias Sengap selaku moderator dan dihadiri ratusan peserta.

Makna yang tersirat dari gelaran Rembug Budaya yang paling penting yaitu janganlah mengusik yang sudah ada, andai usikan itu jadi masalah maka akan bermasalah, begitu disampaikan Ida Begawan Agra Sagening disela kegiatan. Lantas ia menyampaikan, kepercayaan itu merupakan hak asasi, namun jangan mengganggu jati diri yang sudah ada.

“Esensi dari kegiatan ini, bagaimana menjaga budaya Bali. Jangan dipaksakan untuk menjadi hal-hal yang lain,” sebut Guru Agra begitu karap disapa.

Ia menegaskan rembug budaya ini jawaban atas persoalan yang belakangan ini terjadi yaitu memghindari gesekan dan bagaimana melestarikan local genius.

Sedangkan Drs. I Wayan Westa, selaku budayawan melihat persoalan budaya dari berbagai aspek. Hari ini Bali butuh pendidikan yang bagus, kesehatan yang bagus serta tata kelola kebudayaan yang bagus, tata kelola keagamaan yang bagus dan mengayomi. Tapi jika tidak dikelola dengan baik, juatru berseberangan dengan ideologi Bali, pasti akan menimbulkan kegoncangan. Akibatnya sudah bisa dipastikan bukan lagi produktif tapi kontraproduktif. Artinya, harus ada sikap yang jelas dan dipercaya agar tidak terjadi kegaduhan.

“Kalau Bali tergerus sementara roda pemutar ekonomi ada di pariwisata, maka semua akan tergerus padahal di Bali ada yang namanya siklus ekonomi berbasis budaya yang memutar roda ekonomi,” ucap Westra mengingatkan.

Westra juga mewanti-wanti agar kegiatan upacara yang kerap dilakukan di Bali jangan dilihat dari sisi pemborosan, justru upacara mesti juga dilihat sebagai pemutar roda ekonomi kerakyatan disamping kegiatan agama.

Jadi menurutnya jangan sampai Bali berganti haluan, akibatnya Bali tidak akan jadi magnitude sebagai obyek wisata yang dicari para wisatawan ketika datang ke Bali.

“Kita mesti sadari hakekat dari wisata itu yaitu menyegarkan kembali suatu kondisi tertentu dan ini bisa didapat ketika ada di Bali,” tuturnya.

Ia beranggapan Bali sebagai benteng yang terbuka dimana arus modal, arus barang, arus manusia. Jadi menurutnya yang bisa mengontrol semua itu hanya adat budaya yang dimiliki Bali.

Jika Bali masih mau memiliki magnet, tidak ada cara lain jaga taksunya Bali. Taksunya Bali terletak di keunikan adat budaya Bali itu sendiri, ucap Kadek Wahyudita yang kesehariannya selaku seniman.

Menurutnya, Budaya Bali merupakan satu kesatuan perilaku masyarakat mulai dari sistem religinya sampai siatem aktivitas kesehariannya. Lantas ia mengingatkan agar Bali berhati-hati ketika pariwisata dijadikan lokomotif, musababnya, ketika ekonomi budaya yang bergerak dari jaman dahulu lantas menjadi keunikan, menjadi sebuah identitas sehingga melahirkan taksu yang kemudian tergerus, suatu ketika tidak akan menjadi penopang yang utuh dalam kehidupan sosial masyarakat.

“Saat ini waktunya kita kembali menumbuhkan kesadaran budaya, bukan kesadaran wisata,” tukasnya, seraya berujar ketika pariwisata budaya itu bertumbuh maka pariwisata akan bergeliat.

Berbudaya dalam konteks kearifan lokal, bagaimana Bali memiliki kearifan lokal harua memiliki ciri, kata Nyoman Ardika alias Sengap.

“Jadi ketika orang mau ke Bali, ya ini Bali, bukan yang lain,” sebut Sengap yang juga menegaskan dimana bumi dipijak, disitu langit dijunjung, jati diri budaya Bali mesti dijaga dan dilestarikan.(Red)

 

 

Print Friendly, PDF & Email

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *