Sudah Pakai Masker, Kok Masih Tertular Covid-19?

Masyarakat mengenakan masker di fasilitas umum untuk menghindari terpapar Covid-19. (ist)

DENPASAR | patrolipost.com – Pemerintah mewajibkan masyarakat mengenakan masker jika ke luar rumah untuk menghindari tertular Corona Virus Desease  (Covid-19). Anjuran itu diumumkan pemerintah melalui juru bicara khusus penanganan Covid-19 Achmad Yurianto dalam siaran resmi 5 April 2020. Anjuran itu, kata Yuri, sesuai dengan rekomendasi Badan Kesehatan Dunia (WHO).

Sejak hari itu, masyarakat mulai membiasakan diri menggunakan masker kalau keluar rumah. Apalagi di beberapa daerah seperti di Bali sejumlah banjar menetapkan wilayah wajib masker. Warga yang tidak memakai masker, silakan putar balik. Satgas Gotong-royong bersama pecalang melakukan pemeriksaan di beberapa titik wilayah banjar masing-masing untuk mendisiplinkan warga.

Bacaan Lainnya

Jika dilihat di lingkungan sekitar hari ini, lebih dari 95 persen masyarakat sudah menggunakan masker beraktifitas di luar rumah, tapi mengapa masih banyak yang terpapar Corona? Pasien positif bukannya berkurang, malah bertambah? Padahal mereka yang dinyatakan positif Covid-19 kalau ditelusuri sehari-hari mengenakan masker: apakah pedagang, tukang suwung, ibu rumah tangga, karyawan swasta, bahkan tenaga medis di rumah sakit yang sangat disiplin menerapkan protokol Kesehatan.

Apa manfaatnya masker, kalau toh masih bisa tertular Corona?

Sebelum membahas efektivitas masker mencegah penularan Covid-19, harus kita pahami dulu apa dan bagaimana Covid-19 menular begitu cepat di seluruh dunia. Setidaknya ada beberapa cara penyebaran ‘makhluk renik’ ini dari manusia ke manusia lain:

Pertama, melalui kontak dengan benda yang sering disentuh. Benda merupakan media yang bisa menjadi cara penularan paling masif. Berdasarkan penelitian, virus Corona (Covid-19) dapat bertahan hidup hingga tiga hari dengan menempel pada permukaan benda yang lembab. Jika benda itu berada di tempat umum dan sering dijamah anggota tubuh seperti tangan, maka virus bisa menempel. Virus akan menemukan inang baru dan berkembang biak.

Kedua, tangan yang tidak steril menjadi media penyebaran Covid-19 paling efektif. Setelah beraktivitas menyentuh puluhan barang/benda dan berinteraksi dengan orang lain setiap jam, tangan menjadi sumber penyakit. Tidak saja virus, tapi kuman dan bahteri berbahaya lainnya bersarang di tangan jika tidak rutin dicuci.

Dengan tangan yang tidak terjaga kebersihannya, maka Covid-19 ini dapat dengan mudah menyebar. Sebab, manusia akan selalu berinteraksi dengan dunia luar menggunakan tangannya. Oleh karena itu salah satu anjuran wajib pemerintah adalah mencuci tangan menggunakan sabun ataupun gunakan hand sanitizer sebelum dan setelah makan, sebelum dan sesudah buang air kecil, dan sesudah beraktifitas lainnya.

Ketiga, pakaian yang ditempeli virus. Setiap orang beraktivitas dan berinteraksi dengan orang lain yang bisa saja sudah tertular Covid-19. Virus tersebut bisa menempel di pakaian, lalu masuk ke tubuh kita melalui tangan saat menyentuh hidung, mulut atau mata. Jika pakaian kita tertempel virus, tidak hanya pemakainya yang bakal terinfeksi, tapi juga orang-orang terdekat dengan kita di rumah. Oleh karena itu juga dianjurkan agar mencuci pakaian setelah bepergian.

Keempat, tidak terapkan etika ketika batuk dan bersin. Seperti diperingatkan WHO, penularan Covid-19 paling efektif adalah melalui droplets. Droplets dapat terjadi ketika seseorang meninggalkan cairan ketika bersin, batuk, ataupun berbicara di lantai, meja atau kursi dan benda lainnya.

Cairan yang berisi virus, kuman, dan bakteri kemudian dapat menempel pada benda-benda yang dibawa oleh orang lain. Sehingga, Covid-19 tersebut mendapatkan inang baru pada orang lain. Itulah sebabnya, dianjurkan agar menerapkan etika batuk dan bersin dengan disiplin, diantaranya dengan menutup dengan tisu atau siku (ujung lengan baju).

Jika diurai masih banyak lagi cara penyebaran Covid-19 sehingga membentengi diri dengan disiplin memakai masker tidak otomatis kita akan terhindar dari paparan virus ini.

Tidak Efektif

Lantas sejauh mana efektivitas masker mencegah penularan Covid-19?

Dilansir dari halodoc.com, masker menjadi salah satu cara yang dinilai efektif untuk mencegah dan melindungi diri dari paparan droplets yang menjadi penyebab utama penularan Covid-19. Sayangnya, masker bedah dan klinis sempat menjadi barang langka karena spekulan mengeruk keuntungan instan sehingga harganya tidak rasional.

Kondisi ini menyebabkan masyarakat beralih untuk menggunakan masker lain sebagai alternatifnya. Namun, benarkah masker kain disinyalir efektif untuk menangkal Covid-19 seperti halnya masker medis? Lalu, bagaimana dengan penggunaannya? Apakah harus dicuci setiap hari selepas digunakan? Mengingat, masker medis hanya bisa digunakan maksimal delapan jam.

Apakah masker kain ini efektif untuk menangkal Covid-19? Laman Livescience mengungkapkan bahwa masker kain yang dibuat dalam industri rumahan memang tidak ideal dan mampu menangkal droplet seperti halnya masker medis. Namun, kemampuan masih bisa terbilang efektif, karena mampu menangkal penyebaran hingga 70 persen.

Studi yang dipublikasikan dalam The Annals of Occupational Hygiene menyebutkan bahwa masker dengan bahan kain dapat memberikan perlindungan terhadap nanopartikel, termasuk dalam kisaran ukuran partikel yang mengandung virus dalam napas yang dihembuskan.

Namun, masker berbahan kain hanya mampu memberikan perlindungan dari partikel dengan ukuran kurang dari 2,5 mikrometer, seperti dikutip dari studi yang dipublikasikan dalam Journal of Exposure Science & Environmental Epidemiology.

Meski begitu, penggunaannya sangat tidak dianjurkan untuk orang yang sedang sakit atau para tenaga medis. Pasalnya, masker kain tidak mampu menangkal semua partikel yang masuk, dan masih terbilang berbahaya jika digunakan untuk tenaga medis dan orang yang memang positif mengidap Covid-19.

Spesialis Paru RSUP Persahabatan dr Erlina Burhan menyatakan penggunaan masker kain ternyata kurang efektif mencegah penularan virus Corona dan hanya bisa digunakan sebagai pilihan terakhir.

“Kenapa? Karena masker kain tidak bisa memproteksi masuknya semua partikel dan tidak disarankan bagi tenaga medis, 40 hingga 90 persen partikel bisa menembus masker. Idealnya dikombinasikan dengan penutup wajah,” ujar Erlina dalam keterangan pers Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 di Graha BNPB, Jakarta, Rabu, 1 Maret 2020.

Menurutnya, ada sejumlah mekanisme penularan virus, dua di antaranya melalui droplet dan airbone (partikel kecil yang terbawa udara). Masker kain ini memang memiliki perlindungan dari droplet, meski kecil. Tingkat perlindungan bagi partikel droplet ukuran tiga mikron hanya 10 sampai 60 persen, jadi masih tergolong tinggi potensi penularannya.

“Masker kain, perlindungan terhadap droplet ada, tapi tidak ada perlindungan terhadap aerosol atau partikel yang airbone,” kata dia.

Meski begitu, pengunaan masker kain ini bisa digunakan sebagai pilihan terakhir jika ketersediaan masker bedah sudah sangat langka di pasaran. Tapi, itu pun dengan catatan yang wajib menggunakan masker bedah adalah orang sakit dan tenaga medis, sementara masyarakat sehat dapat menggunakan masker bedah jika keluar rumah atau merawat orang sakit.

Sementara, masker bedah efektif mencegah partikel airbone ukuran 0,1 mikron dari 30 hingga 95 persen, namun masih memiliki kelemahan, yakni tidak bisa menutupi permukaan wajah secara sempurna, terutama di sisi samping kiri dan kanan masker. Dan kelemahan lainnya hanya bisa digunakan sekali pakai.

Adapun, masker N95 memang tingkat efektivitas pencegahan penularan mencapai 95 persen. Namun, masker ini tidak boleh dipakai oleh sembarang orang dan menjadi protokol wajib tenaga kesehatan yang harus berkontak langsung dengan pasien penderita.

“N95, masker ini mempunyai proteksi yang baik untuk droplet dan juga memiliki proteksi aerosol. Makanya dianjurkan oleh tenaga medis, bukan masyarakat, dan efektifitasnya cukup tinggi partikel ukuran 0,1 mikron aerosol sampai 95 persen,” katanya. (807)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.