Harga Garam Rontok, Petani Garam Desa Pejarakan Menjerit

SINGARAJA | patrolipost.com – Kebijakan pemerintah impor garam dari luar negeri membuat harga garam lokal anjlok. Petani garam rakyat di Desa Pejarakan, Kecamatan Gerokgak, Buleleng menjerit akibat harga garam di pasar turun drastis dari sebelumnya (tahun 2017) Rp 2.000 /kg, kini hanya Rp 500/kg.

Kondisi itu diperparah oleh cost (biaya) produksi yang tinggi, bahkan cuaca yang kurang bersahabat ikut andil menambah penderitaan petani garam. Petani berharap pemerintah segera turun tangan membenahi harga garam agar tetap stabil.

Petani garam, I Ketut Parima, asal Desa Pejarakan menjelaskan, tidak bersahabatnya harga garam belakangan menjadi pukulan telak bagi petani garam. Masalahnya, penurunan harga garam terjadi sejak tahun 2017 dari harga Rp 2 ribu/kg dan terus menurun hingga tahuan 2019 di harga Rp 500.

“Saat harga Rp 2 ribu stok garam nasional menipis. Kemudian tahun 2018 harga garam perlahan mulai mengalami penurunan setelah pemerintah mengimpor garam dari luar,” jelas Parima, Rabu (11/9).

Hingga saat ini sejak tahun 2018 lalu harga garam terus berada di level terendah. Bahkan dua pekan sebelumnya pernah naik di angka Rp 600, namun kembali turun di harga Rp 500 perkilogram.

“Penurunan harga ini tak diimbangi dengan peningkatan permintaan pasar. Artinya minat pasar di Bali terhadap pasokan garam sangat turun drastis,” imbuhnya.

Akibat anjloknya harga itu, Parima mengaku tidak bisa berbuat banyak karena mengalami kerugian double. Selain rugi harga jual, kondisi itu tidak bisa menutupi cost produksi dan operasional yang cukup tinggi.

“Untuk biaya operasional kami mengeluarkan biaya sebesar Rp 6 juta sampai Rp 7 juta. Biaya sebesar itu untuk pembelian  karpet dan terpal sebagai alas pada lahan garam yang diprokduksi,” ucap Parima.
Lahan tambak garam yang digarap Parima seluas 1,4 hektar dengan kapasitas produksi sebanyak 3 ton selama 10 hari masa produksi. Namun belakangan akibat faktor cuaca produksinya menurun hingga kisaran 1,5 ton sampai dengan 2 ton.
Sebelumnya, produksi garam di Desa Pejarakan selain memenuhi kebutuhan pasar di Bali, sempat dikirim ke Jawa Timur, tepatnya di daerah Gresik karena di daerah itu stok garam menipis.
“Kalau sekarang kami kirim ke Jawa tentu kondisi tambah parah. Di Jawa harga garam sekarang hanya Rp 400 perkilo,” keluhnya.
Atas kondisi itu, Parima mengaku pasrah sembari berharap pemerintah segera turun tangan agar usahanya tidak mati pelan-pelan. Paling tidak, pemerintah diharapkan ikut memberikan proteksi agar harga garam bisa dikendalikan.
“Kami berharap agar harga garam berada di angka Rp 1.000. Itu harga ideal agar kami tidak gulung tikar,” tandasnya. (war)

Print Friendly, PDF & Email

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.