Tongkang Bermuatan 14 Ton Batubara Miring, Laut Utara Bali Terancam Tercemar

kapal miring
Kapal tongkang bermuatan batubara dalam posisi miring di lepas pantai PLTU Celukan Bawang. Posisi miring itu membuat khawatir banyak pihak akan mencemari lingkungan laut sekitar. (ist)

SINGARAJA | patrolipost.com – Sebuah Kapal Tongkang bermuatan batubara di perairan Celukan Bawang, Kecamatan Gerokgak, Buleleng, Bali saat ini dalam keadaan miring. Tingkat kemiringan tongkang batubara sudah dalam kondisi mengkhawatirkan dan sedang lego jangkar di sisi utara PLTU Celukan Bawang. Jika tidak segera diatasi batubara seberat 14 ton lebih itu terancam tumpah ke laut dan berpotensi mencemari laut utara Bali.

Miringnya tongkang batubara milik PLTU Celukan Bawang memantik khawatir aktivis LSM Gema Nuasantara (Genus) Antonius Sanjaya Kiabeni. Secara khusus ia mendatangi lokasi miringnya tongkang batubara untuk memastikan kondisi sebenarnya. Anton mengatakan akibat tongkang miring potensi batubara akan tumpah ke laut sangat terbuka terlebih jika tidak segera dilakukan langkah penyelamatan.

Bacaan Lainnya

“Batubara yang ada di atas tongkang miring mengeluarkan asap. Apa jadinya jika muatannya tumpah. Tentu tak bisa dihindarkan pencemaran parah akan terjadi. Biota laut dipastikan terganggu bahkan bisa mati,” kata Anton, Minggu (7/8/2022).

Menurutnya, berdasar data dan laporan masyarakat kondisi batubara bermasalah saat di atas tongkang kerap kali terjadi. Selain sering terjatuh ke laut, batubara ketika masih di atas tongkang juga terbakar dan mencemari udara sekitar.

“Sebelumnya warga pernah mengalami sesak nafas  oleh asap batubara yang terbakar saat tongkang diparkir di laut. Kondisi itu diperparah oleh hembusan angin laut cukup kencang yang mengarah ke perkampungan penduduk yang tak jauh dari lokasi parkir tongkang batubara,” ucap Anton.

Kali ini, kata Anton, ia melihat kondisi kapal tongkang yang mengangkut batubara dalam kondisi miring berpotensi tumpah dan mencemari laut. Anton mengancam akan membawa ke jalur hukum pihak pengelola batubara PLTU Celukan Bawang jika dalam proses transfer batubara dari lokasi asal ke PLTU Celukan Bawang tidak sesuai prosedur lingkungan yang ketat.

“Bali Utara dikenal dengan pariwisata lumba-lumba. Dan mamalia laut itu sangat sensitif dengan perubahan lingkungannya. Jika laut utara Bali tercemar batubara akibat sikap ceroboh pengelolanya bisa saja lumba-lumba tersebut akan pergi dari habitatnya. Tentu akan merugikan Buleleng secara umum dan kami tentu tidak akan tinggal diam,” tegas Anton.

Karena itu, ia mengingatkan PLTU Celukan Bawang agar menerapkan standar lingkungan yang ketat agar batubara yang digunakan sebagai bahan bakar di PLTU Celukan Bawang termasuk limbah yang dihasilkan dari sisa pembakaran baik dalam bentuk padat maupun cair tidak mencemari laut.

Sementara itu salah satu pegawai PLTU Celukan Bawang yang menangani tongkang batubara miring bernama Gurdi. Ia membenarkan posisi salah satu tongkang batubara dalam kondisi miring. Dan kondisi tongkang miring telah terjadi sejak dalam perjalanan dari Kalimantan menuju PLTU Celukan Bawang. “Benar, tongkang (memuat batubara) dalam posisi miring. Dan itu terjadi sejak dalam perjalanan menuju ke sini (Celukan Bawang,” kata Gurdi.

Pihaknya tengah melakukan upaya agar muatan batubara tersebut tidak tumpah ke laut. Salah satunya menarik tongkang ke perairan dangkal untuk dikandaskan menghindari posisi tongkang semakin miring. “Kasus seperti ini sering terjadi dan untuk sementara tongkang kita tarik ke peraiaran dangkal dan selanjutnya air dalam tongkang akan dipompa agar badan tongkang seimbang. Barulah evakuasi bataubara akan dilakukan,” tandasnya. (625)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.