Prof Relin: Begini Strategi Pemasaran Destinasi Pariwisata

prof 77777
Direktur Pascasarjana UHN IGB Sugriwa Denpasar, Prof Dr Dra Relin DE MAg. (ist)

 

 

DENPASAR | patrolipost.com – Program Studi Magister Ilmu Komunikasi Hindu UHN IGB Sugriwa Denpasar, sukses menggelar webinar perdana, Jumat (28/1). Webinar Communication Series #01 ini, disambut antusias kalangan akademisi dan pelaku pariwisata di Bali, dimana ratusan orang join dalam aplikasi zoom meeting sejak pagi sampai acara selesai.

Pada kesempatan ini, Direktur Pascasarjana UHN IGB Sugriwa Denpasar Prof Dr Dra Relin DE MAg memaparkan bagaimana strategi pemasaran destinasi pariwisata, dalam menghadapi pandemi Covid-19.

Webinar perdana diawal tahun 2022 ini mengangkat tema, “Komunikasi Pariwisata di Era New Normal”. Sebagai Keynote Speaker, Prof. Relin nampak antusias mengisinya dengan materi strategi pemasaran destinasi pariwisata. Menurutnya, ada empat strategi pemasaran destinasi pariwisata di era new normal ini, yaitu segmenting & targeting, positioning, branding dan selling. Ke- empat strategi ini dapat digunakan sebagai cara untuk mencapai tujuan pemasaran jangka panjang. “Ini akan menjadi arahan terhadap keputusan taktis yang biasa disebut dengan marketing mix,” kata Prof. Relin.

Pertama, dari strategi Segmenting & Targeting, dapat dicermati bahwa pandemi –°ovid-19, memberikan insight bahwa terdapat dua segmen pasar psikografis besar yang dapat di perhatikan. Yaitu orang-orang yang takut untuk melakukan perjalanan wisata dan orang-orang yang sama sekali tidak takut dengan isu Covid-19 ini. Jadi kalau destinasi siap dibuka kembali, segmen yang kedua ini bisa dibidik terlebih dahulu secara psikografis. Menurut riset yang dirilis oleh US Travel Association, Prof. Relin menegaskan bahwa segmen psikografis yang berani untuk melakukan perjalanan wisata, secara demografis lebih didominasi oleh generasi milenial dan Z.

Sebaliknya generasi baby boomers atau senior traveler lebih memilih untuk menunggu situasi aman terkendali. Dari sisi segmentasi behavior, secara apriori, dia mencermati bahwa awareness dari isu Covid- 19 ini akan semakin meningkatkan prilaku digital dari wisatawan untuk menghindari high- contact. Ditambah dengan adanya protokol CHS (Cleanliness, Health, Safety) dari pemangku kebijakan. Sehingga perilaku sebelum, pada saat dan setelah berkunjung akan didominasi oleh perilaku digital ini. “Dalam situasi yang belum normal, aksesibilitas menjadi kunci penting dalam membidik pasar secara geografis,” tegasnya.

Selanjutnya, Positioning, sebagai strategi untuk memenangkan mind share dengan cara membangun Unique Selling Proposition (USPs). Agar destinasi dipersepsikan berbeda dibandingkan dengan pesaingnya. Penyisipan unsur CHS tersebut lebih kepada kualitas dan konsistensi pelaksanaannya. Karena kalau sekadar menerapkan CHS saja, semua destinasi juga akan menerapkan itu semua. Namun kata kuncinya disini adalah kulitas dan konsistensi. Jadi, menurutnya, bangunlah positioning dengan keunikan produk yang dibungkus oleh kualitas dan konsistensi pelayanan CHS. Ini nantinya diaplikasikan ke semua unsur marketing mix.

Berikutnya, Branding, adalah bagaimana destinasi mengelola image dan reputasi, atau biasa disebut dengan reputation management dengan cara memenuhi janji- janji (trust) kepada customer. Sehingga segala offering tidak lagi hanya memiliki kualitas dari sisi functional value, tapi lebih dari itu yaitu emotional value yang pada akhirnya akan menjadi brand value. Jadi branding itu, kata Prof. Relin bukan hanya sekedar logo, slogan, tagline atau elemen visual lainnya. Tetapi menyangkut janji dari destinasi yang harus dapat ditepati. Ini pada akhirnya akan menjadi image dan reputasi sebagai intangible asset.

Terakhir, adalah Selling. Strategi penjualan destinasi dimasa pandemi ini tidak lain harus direvisi. Yaitu dengan menurunkan sasaran penjualan agar lebih fokus untuk mendorong DMO (organisasi pengelola destinasi) beserta para pelaku usahanya untuk mengamankan cashflow terlebih dahulu. Hal ini dapat dilakukan dengan mengelola current market dan target market baru, sebagaimana penjelasan dalam strategi segmenting & targeting di atas. Ada beberapa hal yang bisa dilakukan terhadap current market ini, yaitu dengan cara melakukan cross selling secara online, baik langsung maupun tidak langsung.

“Secara langsung, media penjualan online diarahkan untuk mendapatkan penjualan dari point of purchase seperti merchandise dll. Adapun secara tidak langsung, destinasi dapat membangun portal atau hub berbasis web atau apps yang dapat digunakan oleh para pelaku usaha pariwisata untuk menjual produknya secara online,” jelas Prof. Relin.

Ke empat strategi ini, dapat diimplementasikan dengan marketing mix, untuk membuat strategi pemasaran agar dapat tercapai secara efektif. Jadi taktik marketing mix ini harus selaras dan relevan dengan acuan strategi sebelumnya yaitu segmenting & targeting, positioning, branding dan selling. Adapun marketing mix yang bisa digunakan adalah marketing mix dengan pendekatan customer centric, yang terdiri dari 4Cs. Yaitu customer solution, customer cost, communication dan convenience. (855)

Print Friendly, PDF & Email

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.