Banjir Sapu Jatim, Ribuan Warga Terisolasi

banjir 22222
Kendaraan yang melintas di Jalan MT Haryono, Banyuwangi, harus melaju lambat gara-gara air hujan menggenangi kawasan tersebut. (ist)

SURABAYA | patrolipost.com ‒ Banjir masih menjadi bencana yang paling sering melanda akibat intensitas hujan tinggi di berbagai wilayah Jatim. Tak hanya melumpuhkan aktivitas warga, bencana tersebut juga menimbulkan korban jiwa.

Salah satu yang paling parah terjadi di wilayah Probolinggo. Tepatnya di Desa Gunggungan Kidul, Kecamatan Pakuniran. Banjir bandang menerjang desa berpenduduk sekitar 3 ribuan jiwa tersebut, membuat infrastruktur berupa dua jembatan rusak.

Salah satu jembatan itu menjadi akses utama bagi warga di Dusun Pancor, dusun paling atas di desa setempat. ”Mulanya terdengar gemuruh, seperti suara helikopter. Ternyata banjir bandang,’’ kata Fathur Rozi, ketua BPD Desa Gunggungan Kidul.

Selain jembatan utama, satu lagi yang rusak adalah jembatan alternatif. Dengan putusnya dua jembatan tersebut, sekitar 1.500 warga di tiga RT di Dusun Pancor terisolasi.

Banjir bandang di Desa Gunggungan Kidul juga menimbulkan korban jiwa. Sunijar, warga Dusun Pancor, terseret banjir dan baru ditemukan kemarin (18/1). Sayang, kondisinya sudah meninggal dunia. Dia terseret banjir sejauh 1 kilometer lebih dari lokasi kejadian.

Camat Pakuniran Imron Rasyidi mengatakan, Pemkab Probolinggo langsung mengambil langkah penanganan. Pemkab sudah melakukan asesmen terhadap sejumlah lokasi yang terdampak.
’’Dusun Pancor, Krajan, dan Desa Patemon itu juga terdampak. Selain jembatan rusak, jalan menyempit akibat digerus air,’’ kata Imron.

Wilayah lain yang juga mengalami banjir parah adalah Pasuruan. Setidaknya, sembilan desa di tiga kecamatan terdampak. Misalnya, yang terjadi di Desa Kedawung Kulon, Kecamatan Grati. Ketinggian air bahkan sempat mencapai 1,5 meter. Warga lansia yang terjebak banjir langsung dievakuasi. Bencana serupa melanda Kecamatan Grati, Rejoso, dan Winongan.

Di Banyuwangi, hujan deras selama dua jam yang mengguyur wilayah kota mengakibatkan banjir di sejumlah ruas jalan protokol. Di antaranya, Jalan A. Yani, Jalan Kol Sugiono, dan Jalan MT Haryono.

Hujan disertai angin juga menumbangkan tiga pohon besar dengan diameter 50 sentimeter. Tim Reaksi Cepat (TRC) Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Banyuwangi menerjunkan sejumlah tim dan beberapa unit kendaraan untuk mengevakuasi pohon tumbang. Setidaknya ada lima unit peralatan yang dikerahkan, yaitu mobil station, pikap, serta chainsaw sedang dan besar.

Kabid Kedaruratan dan Logistik BPBD Banyuwangi Rahmat Ari Pranata mengatakan, pohon tumbang disebabkan hujan deras disertai angin kencang yang melanda wilayah Kota Banyuwangi.
”Setidaknya ada tiga pohon berukuran besar yang tumbang, berdiameter sekitar 50 cm,” katanya.
Di antara banjir yang melanda sejumlah kabupaten/kota di Jatim berstatus langganan. Seperti banjir di wilayah Pasuruan. Banjir di sana memang rutin terjadi. Sungai Welang dan Rejoso jadi pemicunya.

Sejauh ini, BPBD Jawa Timur sudah berkoordinasi dengan pemerintah daerah. Langkah awal yang dilakukan adalah evakuasi sebelum perbaikan infrastruktur.

Kepala BPBD Jawa Timur Budi Santosa mengatakan bahwa peralatan evakuasi sudah dikirim ke lokasi. Misalnya perahu karet, pelampung, dan pompa. ”Prioritas pertama adalah menyelamatkan warga,’’ ucapnya.

Budi menambahkan, normalisasi sungai penyebab banjir baru bisa dilakukan setelah surut. ”Yang jelas, pemerintah provinsi sudah menyiapkan berbagai langkah untuk mencegah banjir di wilayah ini,’’ ucap Budi.

Terkait perbaikan sungai-sungai penyebab banjir, sejumlah pembenahan sudah dilakukan pemprov. Di antaranya memperbaiki tanggul dan penguatan tebing di Sungai Welang. Normalisasi juga dilakukan di Sungai Rejoso. Targetnya menambah daya tampung sungai.

Kondisi sungai tersebut memang cukup parah. Perjalanan air dari sungai menuju hilir membutuhkan waktu sekitar empat jam. Banyaknya endapan, sampah, dan tingginya curah hujan menghambat laju air. Kondisi tersebut ditambah dengan masa pasang air laut.

Selama ini, Dinas PU Sumber Daya Air Jawa Timur bersama pemerintah daerah sudah mengajak masyarakat sadar lingkungan. Namun, sampah kiriman masih banyak dan mengendap di sungai. Karena itu, normalisasi masih dibutuhkan.

Tahun ini, ada rencana normalisasi yang menggunakan teknologi dari luar negeri. Dinas PU sumber daya air menggandeng tim dari Belanda. Proyek tersebut baru bisa dilaksanakan setelah kondisi normal. (305/jpc)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.