Sempat Tertunda, Krama Banjar Pande Laksanakan Ngaben Massal

klian adat banjar pande, i wayan nyepek (11)(1)
Kelian Adat Banjar Pande, I Wayan Nyepek. (dok) 

BANGLI | patrolipost.com – Banjar Adat Pande, Kelurahan Cempaga, Kabupaten Bangli melaksanakan upacara ngaben massal pada 21 Januari. Ngaben massal kali ini diikuti 51 sawa. Salah satunya tokoh Bangli Anak Agung Oka Mahendra. Ngaben massal sempat tertunda dan kini dapat dilaksanakan. 

Kelian Adat Pande, I Wayan Nyepek mengatakan ngaben massal di Banjar Pande dilaksanakan setiap tiga tahun sekali. Namun tahun sebelumnya sempat tertunda dan tahun ini dapat dilaksanakan. “Karena situasi saat itu tidak memungkinkan maka pelaksanaan diundur,” ungkapnya, Minggu (16/1/2022). 

Bacaan Lainnya

Ngaben massal kali ini ada 51 sawa yang akan diupacarai. Sebagian, sebelumnya sudah diupacarai mekinsan ring gni. Sedangkan pada puncak upacara nanti akan dibongkar 20 kuburan. “Yang lainnya mekinsan ring gni. Namun akan ada proses ngedetin,” jelasnya. 

Wayan Nyepek menyampaikan salah satu yang diupacarai nanti almarhum AA Oka Mahendra. Sebelumnya jenazah mantan Sekjen Mahkamah Konstitusi ini telah dibakar atau mekinsan ring gni. 

Wayan Nyepek yang juga Bendesa Adat Cempaga ini menyebutkan pelaksanaan ngaben massal ini pihak keluarga yang memiliki sawa dikenakan biaya sebesar Rp 1 juta. Bila akan mengikuti upacara mapropas tambahan biaya Rp 1,5 juta. Selain itu krama yang tidak memiliki sawa ikut gotong royong. 

Banjar Adat Pande memiliki program, setiap bulannya per kepala keluarga membayar iuran Rp 15 ribu. Iuran tersebut berlangsung tiga tahun. Per KK iuran Rp 15 ribu, kalau selama 3 tahun terkumpul Rp 540 ribu. “Iuran tersebut sebagai bentuk gotong royong ketika dilaksanakan ngaben massal,” tegasnya. 

Dengan ada gotong royong ini, krama yang tidak memiliki sawa tidak perlu menjenukan lagi. Pada umumnya krama yang tidak memiliki sawa memberikan mejenukan dengan membawakan barang seperti beras, gula atau lainnya. 

Untuk persiapan, kata Wayan Nyepek, persiapan sudah mulai dilakukan sejak 4 Desember. Agar krama tetap bisa bekerja dan menjalankan yadnya, maka kegiatan diatur. Krama tedun mulai pukul 08.00 Wita hingga 11.00 Wita, kemudian dilanjutkan13.00 hingga 15.00 Wita.

“Kegiatan patedunan diatur. Kalau full tedun tentu krama tidak bisa mencari nafkah,” sambungnya. 

Diakui jika persiapan berjalan lancar, kalaupun ada kendala namun bisa tertangani. 

Kemudian untuk persiapan hingga puncak upacara dipastikan dengan menerapkan Protokol Kesehatan (Prokes). Untuk pembongkaran kuburan nantinya diatur sehingga tidak berdesakan.

“Kami juga tetap koordinasikan dengan petugas terkait. Kami juga selalu mewanti-wanti krama agar tetap menjalankan Prokes selama upacar berlangsung,” ujarnya. (750)

Print Friendly, PDF & Email

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.