Peresmian Alun-alun Bangli, Lewat Jam dan Penonton Membludak, Hiburan Musik Dihentikan Petugas

Gambar Gravatar
  • Whatsapp
hiburan musik
Suasana pengunjung saat peresmian Alun-alun Kota Bangli, Rabu (12/1/2022). (sam)

BANGLI | patrolipost.com – Peresmian Alun-alun Kota Bangli dimeriahkan dengan acara hiburan berupa musik Rabu (12/1/2022). Hanya saja baru berjalan beberapa saat, hiburan musik dihentikan. Hal itu dilakukan karena acara sudah melewati  batas waktu yang diizinkan.

Selain karena melewati batas waktu, alasan lain karena pengunjung yang membludak. Kapasitas 750 orang, namun pengunjung yang hadir ribuan orang.

Usai acara seremonial peresmian Alun-alun oleh Gubernur Bali I Wayan Koster dilanjutkan acara hiburan berupa musik. Rencana hiburan tersebut menghadirkan Nosstress dan Painful By Kisses (PBK). Penampilan masing-masing direncanakan selama satu jam hingga pukul 22.00 Wita.

Namun sayang baru beberapa menit acara hiburan berjalan, karena lebihi batas waktu hingga  pukul 22.00 Wita, hiburan dihentikan  oleh petugas.

Ketua Rise Of Bangli Management, I Wayan Wahyu Pramana selaku panitia kegiatan peresmian Alun-alun Bangli menyampaikan permakluman dan permintaan maaf atas penghentian hiburan musik tersebut.

Menurutnya alasan pemberhentian acara hiburan  karena kapasitas penonton yang membludak. Disamping juga karena ada batas jam-nya. “Kami atas nama panitia mohon maaf yang sebesar-besarnya atas kejadian kemarin. Untuk ke depannya, agar sama-sama bisa lancar,” ungkapnya.

Pihaknya juga menyadari, belum bisa bekerja secara maksimal. Disampaikan, sesuai dengan izin untuk kegiatan berlangsung hingga pukul 22.00 Wita.

“Dari jadwal untuk perizinanan memang sampai pukul 10 malam. Karena itu, kami mohon permakluman kepada masyarakat. Mungkin masyarakat kecewa, tapi kita juga berusaha menjaga untuk ke depannya jadi lebih baik lagi. Terutama terkait, penerapan Prokes,” sambungnya.

Sementara terkait kelanjutan event kegiatan serangkaian Peresmian Alun-alun Bangli, dipastikan, sesuai jadwal tetap sampai tanggal 16 Januari mendatang.  Untuk itu, pihaknya akan memperhitungkan kapasitas penontonnya.

Ditegaskan pula, atas dasar kesepakatan antara panitia dan pihak TNI/Polri sehingga hiburan musik pada malam itu distop acaranya. “Bukan dibubarkan. Karena memang melihat situasi jumlah massa memang banyak dan penerapan Prokes masing-masing pengunjung masih kurang. Sehingga atas dasar kesepakatan kami dari EO dan pihak TNI/Polri, menyetop acara tersebut,” ujarnya.

Dandim Bangli Letkol Inf Putu Gde Suwardana saat dikonfirmasi menjelaskan, rangkaian kegiatan peresmian Alun-alun Kota Bangli pada Rabu malam kemarin sejatinya telah dilaksanakan dari pagi hingga malam. Penghentian dilakukan karena memang sesuai rundown kegiatan selesainya hingga pukul 22.00 Wita.

“Start dari pukul 18.15 wita sampai 22.00 Wita. Memang dalam kegiatannya itu, harusnya space waktu untuk music akustik itu, dari pukul 20.00  sampai 22.00 Wita, dua jam harusnya. Namun karena dinamika dan segala macamnya, sehingga kegiatan itu baru bisa terlaksana sekitar pukul 21.30 Wita,” ungkapnya, Kamis (13/1/2022).

Pihaknya menegaskan acara tersebut bukan konser. Melainkan, rangkaian acara Peresmian Alun-alun yang diantaranya ada hiburan musik. Sementara kondisi di lapangan, ternyata massa begitu banyak. “Kalau saya hitung cepat, mungkin antara tiga ribu sampai lima ribuan lebih,” sebutnya.

Letkol Suwardana mengatakan, begitu massa bergerombol banyak yang telah ditegur petugas. Disoroti pula banyak yang tidak menggunakan masker.

“yang pertama negur adalah Kabag Ops. Yang di barisan pertama yang disorot l banyak yang tidak gunakan masker, tidak sesuai Prokes,” bebernya.

Jadinya saat itu, begitu satu lagu dua lagu dibawakan massa semakin bertambah banyak dan tidak menggunakan masker juga.

“Karena itu, kita hentikan. Kita cukupkan sampai di situ karena takutnya tambah ramai,” tegasnya.

Disampaikan pula, dari hasil survey yang dilakukannya dengan cara bertanya satu persatu, nyatanya banyak penonton yang datang bukan orang Bangli. Bahkan jika dipersentasekan sebagian pengunjung warga luar Bangli. Diakui jika pihaknya tidak ingin ketika ada kasus dan dilakukan  tracing justru setelah datang pada acara hiburan musik di Bangli.

“Kami takutnya, tau-tau mencuat kasus di suatu tempat, begitu ditracing ternyata habis dari acara music di Bangli. Kami tidak ingin ada istilah pembiaran dari aparat. Sudah tau salah, tapi kita tidak berbuat apa-apa. Makanya kami ambil langkah seperti itu,” ujarnya. (750)

Print Friendly, PDF & Email

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *