Cuitan Ferdinand Dinilai Menyakiti Kebhinekaan

Gambar Gravatar
  • Whatsapp
ferdinand 2222
Eks kader Partai Demokrat yang kini sebagai pegiat media sosial Ferdinand Hutahaean. (ist)

JAKARTA | patrolipost.com – Cuitan pegiat media sosial Ferdinand Hutahaean menuai kritik. Ketua Umum Pengurus Besar Himpunan Mahasiswa Islam (PB HMI) Raihan Ariatama menilai cuitan Ferdinand menyakiti kebhinekaan Indonesia.

“Kita semua anak bangsa sibuk menjaga dan merawat bangunan kerukunan dalam kebhinekaan yang diwariskan oleh para founding fathers kita. Orang ini malah merusaknya, memantik api perpecahan dengan nuansa SARA,” kata Raihan, dilansir Kamis (6/11/2022).

Menurut dia, bukan hanya umat Islam yang marah dan tersakiti dengan cuitan Ferdinand. “Tetapi, semua lapisan masyarakat yang tanpa lelah merawat Pancasila dan NKRI juga merasakan hal yang sama,” kata Raihan.

Dia mengatakan, citra sebagai pegiat media sosial tidak pantas lagi disandang Ferdinand. Sebab, menurut dia, pegiat media sosial itu meneduhkan, mewartakan kebaikan dan menginspirasi orang-orang untuk bijak menggunakan media sosial. “Bukan malah menciptakan keonaran dan merusak tatanan masyarakat yang sangat plural ini,” imbuhnya.

Maka itu, dirinya juga ikut geram dengan cuitan Ferdinand yang sudah dihapus itu. “Apa yang dilakukan Ferdinand melalui cuitannya itu telah menganggap rendah kebhinekaan kita,” ujar Raihan.

Dia pun mengajak semua pihak untuk memanfatkan teknologi digital dalam hal-hal positif dan dengan cara-cara yang beradab. “Jangan sampai teknikalisme teknologi digital mengorbankan nilai-nilai kemanusiaan,” ucapnya.

Dia menjelaskan, tujuan teknologi adalah mempertinggi harkat dan martabat kemanusiaan. “Untuk itu, transfer of knowledge dan transfer of values adalah satu kesatuan dalam menciptakan dan menggunakan teknologi digital saat ini,” pungkasnya.

Adapun cuitan Ferdinand di Twitternya @FerdinandHaean3 pada 4 Januari 2022 yang telah dihapus itu berbunyi ‘Kasihan sekali Allahmu ternyata lemah harus dibela. Kalau aku sih Allahku luar biasa, maha segalanya, DIA lah pembelaku selalu dan Allahku tak perlu dibela.

PWNU: Harus Ada Proses Hukum
Sementara itu PWNU Jatim mendukung laporan terhadap Ferdinand Hutahaean terkait cuitannya ‘Allahmu lemah’. Sebab, cuitan tersebut dinilai telah mencederai keyakinan umat beragama.

“Ya, harus ada proses hukum dan yang penting transparan,” ujar Wakil Ketua PWNU Jatim KH Abdussalam Shohib, Rabu (5/1/2022).

Gus Salam sangat menyayangkan pernyataan Ferdinand tersebut. Sebab hal itu tak bertanggung jawab dan bisa menyakiti dan merusak harmonisasi antar-umat beragama.

“Tentu menyayangkan dengan statemen yang tak bertanggung jawab. Kita kan harus selalu menjaga antar-pemeluk agama agar tak menyakiti atau mencederai keyakinan masing-masing. Jadi, narasi atau statemen pernyataan melalui medsos itu sangat disayangkan,” tegasnya.

Sedangkan menanggapi video klarifikasi Ferdinand, Gus Salam menilai itu adalah hak yang bersangkutan untuk membela diri. Namun jejak digitalnya merupakan bukti otentik yang tak bisa disangkal.

“Itu kan orang membela diri punya hak klarifikasi. Tapi kan jejak digital gak bisa hilangkan. Itu bukti otentik. Ya kalau minta maaf, kita harus berjiwa besar memberikan pintu maaf tapi itu tidak untuk hukum yang harus berjalan,” ujar Pengasuh Pondok Pesantren Mambaul Maarif, Denanyar, Jombang itu. (305/snc/dtc)

Print Friendly, PDF & Email

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *