Jatuh Ketika Memacing, Pemuda Asal Jelekungkang Tewas Tenggelam di Tukad Melangit

Gambar Gravatar
  • Whatsapp
tewas tenggelam
Proses evakuasi jenazah Nengah Yudi yang terjatuh di Tukad Melangit, Banjar Jelekungkang, Desa Tamanbali, Kecamatan Bangli. (ist)

BANGLI | patrolipost.com – Naas benar nasib I Nengah Yudi (31), pemuda asal Banjar Jelekungkang, Desa Tamanbali, Kecamatan Bangli. Nengah Yudi terjatuh saat memancing ikan di Sungai Melangit, di wilayah Jelekungkang, Jumat (17/12/2021). Nengah Yudi ditemukan dalam kondisi meninggal dunia 15 meter dari lokasi jatuh.

Sementara upaya pencarian korban melibatkan Tim Basarnas Denpasar, BPBD Bangli, Polres Bangli, Polda Bali dan Kodim 1626/Bangli serta dibantu warga setempat dan relawan. Secara niskala pencarian juga diiiringi dengan tetangguran (gambelan).

Menurut Kapolres Bangli AKBP I Gusti Agung Dhana Aryawan, korban Nengah Yudi dan temannya Kadek Eka pergi memancing sekitar pukul 09.00 Wita di Tukad Melangit. Sesampainya di lokasi, Nengah Yudi dan Kadek Eka memancing dengan lokasi saling berdampingan. Lantaran tidak kunjung mendapat ikan, Nengah Yudi berpindah lokasi. “Nengah Yudi pindah ke titik yang lain. Posisi di Barat tempat awal,” jelasnya.

Selang beberapa menit Kadek Eka mendengar suara sesuatu jatuh ke air. Begitu dicek ternyata Nengah Yudi sudah berada dalam air. Mengetahui rekannya  jatuh, Kadek Eka  berupaya lakukan pertolongan  yakni mencari bambu dan langsung mengarahkan ke bawah dengan tujuan bisa digapai Nengah Yudi. Namun korban tidak bisa meraih bambu tersebut, dan langsung tenggelam.

Kadek Eka berbegas mencari pertolongan ke perusahaan air minum yang lokasi di atas Tukad Melangit tersebut. Sembari menunggu petugas, masyarakat lantas berupaya melakukan pencarian.

Kasi Siaga dan Operasi Basarnas Bali, AA Gede Alit Supartana menjelaskan, upaya pencarian melibatkan tim gabungan baik Basarnas, Sabhara Polda Bali, Polres Bangli, Kodim Bangli, BPBD Bangli, PMI, relawan serta masyarakat. Upaya pencarian dilakukan dengan menyelam menyusuri dari titik korban jatuh.

Penyelaman dilakukan sebanyak tiga kali. Awalnya petugas dari Basarnas turun dan menyelam selama 15 menit. Penyelaman pertama tidak membuahkan hasil. Selang beberapa menit, tim kembali menyelam selama 15 menit namun hasilnya nihil. Penyelaman ketiga dibantu oleh relawan dengan menggunakan peralatan Basarnas. Korban berhasil ditemukan pada pukul 16.06 Wita dan kondisi meninggal.

“Sekitar 10 menit tubuh korban berhasil ditemukan di kedalaman 4,5 meter. Titik ditemukan tubuh korban sekitar 15 meter dari lokasi jatuh,” terangnya.

Kelian Banjar Adat Jelekungkang, I Nyoman Rina mengatakan, dalam proses pencarian Nengah Yudi dilakukan secara skala niskala. Upaya niskala dengan menggunakan gambelan. Para pemuda megambel di sekitaran lokasi pencarian.

“Ada kepercayaan masyarakat, bila korban disembunyikan  penunggu di sana (Tukad) biar bisa cepat dikembalikan,” jelasnya.

Karena Nengah Yudi meninggal salah pati, maka jenazah langsung dibawa ke setra (kuburan) Banjar Adat Jelekungkang. Prosesi memandikan jenazah langsung dilakukan disetra.

“Sesuai dresta adat di sini kalau meninggal salah pati atau ulah pati langsung dikuburkan. Tidak disemayakan di rumah duka,” kata Nyoman Rina. Jenazah Nengah Yudi dikuburkan dan nantinya mencari hari baik untuk prosesi upacara ngurug.

Pasca kejadian ini pihaknya akan melakukan pertemuan dengan para prajuru lainnya serta dengan palinggsir. Tidak menutup kemungkinan ke depan akan dibatasi masyarakat yang memancing di lokasi tersebut.

Diungkapkan pula bahwa tahun 1980-an seorang warga jatuh di lokasi yang sama dengan Nengah Yudi. Warga tersebut terpleset saat mencari sayur pakis. Bahkan pencarian berlangsung selama dua hari. “Saat itu pencarian dilakukan dua hari. Akhirnya korban ditemukan di titik jatuh,” sebutnya.

Sementara Kadek Eka Wiranata mengaku masih syok atas kejadian yang menimpa temannya. Kadek Eka mengaku tumben diajak mancing oleh Nengah Yudi. Awalnya dirinya sempat menolak untuk ikut mancing. “Tadinya saya sarankan untuk mengajak teman lain untuk mincing,” katanya.

Sebelum memancing, Nengah Yudi sempat memberikan makan sapi. Kemudian bersama mencari cacing untuk umpan. Kedua berboncengan pergi ke Tukad Melangit. Baru setengah perjalanan Kadek Eka sempat berhenti dan urung untuk memancing.

“Saya sempat terhenti di tengah jalan. Saya biarkan Nengah Yudi jalan duluan. Akhirnya saya menyusul menuju tukad,” ungkapnya.

Sesampainya di lokasi mancing, Nengah Yudi duduk di sebelah kiri (Timur) dan Kadek Eka sebelah kanan (Barat). Saat itu keduanya berhasil mendapatkan udang. Tetapi karena tidak mendapat hasil lagi akhirnya Nengah Yudi berpindah lokasi. “Tadi di kiri saya kemudian pindah ke kanan. Saya juga tidak begitu memperhatikan. Tiba-tiba saya dengar suara jatuh ke air. Saya lihat Nengah Yudi sudah di air.

Kadek Eka kemudian mencari bambu untuk membatu menarik Nengah Yudi. Hanya saja bambu yang panjang sekitar 5 meter tidak bisa dijangkau. Dalam sekejap Nengah Yudi sudah menghilang dalam air. “Tidak berselang lama tubuh sudah tidak terlihat. Saat itu saya panik dan berupaya mencari pertolongan,” sebutnya. (750)

Print Friendly, PDF & Email

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *