AMD bersama Puri se-Denpasar Gelar Pakelam Agung Pemahayu Jagat, Doakan Keselamatan Masyarakat Bali dan Bangkit Ekonomi Bali

Gambar Gravatar
  • Whatsapp
2021 11 05 07 03 092021 11 05 07 03 09 798
2021 11 05 07 03 092021 11 05 07 03 09 798

Agung Manik Danendra AMD (kiri) bersama Walikota Denpasar IGN Jaya Negara (kanan) saat Pakelam Agung Pemahayu Jagat, tampak Senator DPD RI dapil Bali Haji Bambang Santoso (tengah pakai peci) turut menghadiri Karya Agung.

 

Bacaan Lainnya

 

DENPASAR | patrolipost.com – Pasemetonan Ageng Puri Tegal Denpasar Pamecutan dikomandoi Dr. Anak Agung Ngurah Manik Danendra, S.H., M.H., M.Kn.,yang akrab disapa AMD selaku tokoh sentral Puri Tegal Denpasar Pamecutan, menggelar karya agung upacara pakelem agung pamahayu jagat lan pamelastian ida ratu bhatara-bhatari Puri Tegal Denpasar Pamecutan. Acara ini dilakukan di pantai Matahari Terbit, Sanur, Denpasar, bertepatan bertepatan dengan Hari Sugian Jawa dan Tilam Sasih Kalima, Kamis (4/11/2021).

Turut hadir dalam pelaksanaan upacara tersebut, Wali Kota Denpasar I Gusti Ngurah Jaya Negara, Ketua Parisada Hindu Dharma Indonesia (PHDI) Provinsi Bali, Prof. I Gusti Ngurah Sudiana, Anggota DPD RI Dapil Bali H. Bambang Santoso, Ketua Umum Yayasan Mahendradatta, Shri I Gusti Ngurah Wira Wedawitri Wedastera Putra Suyasa, S.Sos.,SH.,MH., serta seluruh Penglingsir Puri Tegal Denpasar-Pemecutan dan Penglingsir Puri lainnya di Kota Denpasar, Paiketan Pemangku Pawana Shanti Provinsi Bali yang juga memberikan dukungan penuh serta apresiasi atas pelaksanaan Karya Agung Pakelem dan Pemelastian ini.

Upacara Pamahayu Jagat dan Pakelem serta Pemelastian dipuput Ida Pedanda Siwa, Ida Pedanda Budha serta Bujangga. Yadnya Pakelem Agung ini menggambil tingkatan Utamaning Utama dengan menggunakan kerbau, kambing hitam, angsa, bebek, ayam manca warna dan saran lainya.

Menurut Agung Manik Danendra yang akrab disapa AMD, upacara pakelem pemahayu jagat ini adalah permohonan ke hadapan Ida Sang Hyang Widhi Wasa, serta manifestasi beliau dalam wujud Bhatara Baruna. Agar memberi anugerah keselamatan jagat, serta karahayuan jagat. Khususnya di masa pandemi saat ini, agar pandemi Covid-19 segera mereda bahkan hilang. Sehingga Bali dan Nusantara, bahkan dunia bisa bebas dari gering agung akibat Covid-19 ini.

Upacara ini pula, merujuk dari lontar Widhi Sastra Roga Sanghara Gumi, yang ditulis oleh Bhagawan Darmaloka di era kerajaan Majapahit. “Dengan disaksikan ida bhatara-bhatari, semoga upacara pakelem pamahayu jagat ini mampu membersihkan bhuana agung dan bhuana alit dari pandemi,” tegas AMD di sela-sela acara didampingi pula Yajamana Karya Mangku Gede I Gusti Ngurah Mendra, S.Sos. M.Ag.,. Keseimbangan yang diharapkan sesuai dengan ajaran Tri Hita Karana, yaitu keseimbangan manusia dengan Tuhan, manusia dengan sesama manusia, dan manusia dengan alam semesta.

Pakelem agung pamahayu jagat ini tujuannya juga menyeimbangkan keharmonisan jagat Bali. “Agar Bali kembali metaksu, dan bersinar lagi dengan upacara pakelem agung ini,” imbuh AMD. Mengingat akibat pandemi ini, Bali adalah salah satu wilayah Indonesia yang sangat terpuruk karena bergantung pada pariwisata. “Kami berupaya secara niskala dan sekala. Terkait pamahayu jagat ini, kami sekeluarga pasemetonan puri, telah melakukan koordinasi dengan PHDI Bali, dan acara ini didukung Pemkot Denpasar,” sebut AMD.

Pasemetonan puri yang hadir, diantaranya adalah Puri Pamecutan, Puri Kaleran, Puri Jero Kuta, Puri Gelogor, Puri Jambe, Puri Tegal, serta Pasemetonan Ageng Puri Tegal juga hadir. “Pakelem ini mengambil tingkatan utamaning utama, dengan korban suci berupa kerbau, kambing, angsa, bebek, ayam yang masih hidup,” sebut Pamucuk Puri Tegal Denpasar Pamecutan ini. Pakelem agung dipuput atau diselesaikan total empat pedanda, yakni pedanda siwa, pedanda budha, dan sulinggih bhujangga.

“Pemangku Pura Luhur Sandat Tegal, dan paiketan pemangku juga hadir di sini,” imbuhnya. Harapannya dengan diadakan upacara ini, Bali bisa pulih kembali dan terbebas dari pandemi. Harmonis kembali, seimbang, dan metaksu seiring pulihnya ekonomi.

Wali Kota Denpasar, I Gusti Ngurah Jaya Negara pada kesempatan yang sama menyampaikan rasa syukur sekaligus mengapresiasi upacara Pamelisan dan Mapakelem yang dilaksanakan Puri Tegal Denpasar-Pemecutan. Momen ini sangat tepat spiritnya untuk menetralisir energi negatif. Masyarakat Denpasar juga banyak menggelar Upacara Nangluk Merana di masing-masing banjar di kota Denpasar,” jelasnya yang dalam kesmpatan ini juga menghaturkan dana punia yang diterima Yajamana Karya Mangku Gede I Gusti Ngurah Mendra.

“Selaku Pemerintah Kota Denpasar, kami merasa bersyukur dan apreasiasi atas acara pemelastian yang diikuti dengan mapekelem yang dilaksanakan oleh Puri Agung Tegal, yang mana ini sangat tepat di momen Tilem Kalima. Karena banjar-banjar sebagian besar melaksanakan nangluk merana,” ujar Jaya Negara.

Dirinya juga menyampaikan terima kasih upacara ini berjalan lancar dan tetap mengutamakan protokol kesehatan. Mudah-mudahan apa yang menjadi harapan Panglingsir Puri Agung Tegal dan dan juga harapan kita bersama agar Bali segera pulih, bangkit dan bisa beraktivitas kembali,” pungkas Jaya Negara.

Hal senada diucapkan Ketua PHDI Bali, Gusti Ngurah Sudiana, yang ikut ke tengah laut memulang kebo di sana. Guru besar IHDN Bali ini menjelaskan, bahwa upacara pamahayu jagat adalah upacara untuk karahayuan jagat. Hal tersebut, diuraikan di dalam lontar Purana Bali dimana pakelem untuk Bhatara Baruna sebagai perwujudan Segara Kertih. “Karena diakui sekali bahwa alam ini, akan bagus atau tidak, tergantung dari bagaimana keadaan lautnya,” tegas Sudiana, sapaan akrabnya.

Laut sebagai kunci, simbol bahwa alam ini bisa baik apabila lautnya bersih, spiritualitasnya terpelihara dan perilaku manusianya juga terjaga. “Oleh karena itu, upacara pamahayu jagat disertai dengan pakelem agung ini, merupakan upacara yang sangat utama dan sangat penting sebagai simbol memelihara alam semesta khususnya keseimbangan laut,” sebutnya.

Laut pula, imbuh dia, sebagai lambang paleburan, dan air yang paling banyak berada di laut. “Kalau air tercemar, laut rusak, maka seluruh alam semesta baik gunung, daratan, dan sebagainya akan terganggu dan ikut tercemar serta rusak,” tambahnya. Oleh karena itu, umat Hindu di Bali dalam lontar Purana Bali ataupun Sundarigama memang disarankan dalam melaksanakan upacara, selalu dirangkaikan dengan upacara mapakelem ke laut.

“Tentu harus diikuti dengan perilaku jangan mencemari laut, jangan buang sampah sembarangan, apalagi membuang racun atau limbah dan sebagainya ke laut,” tegasnya. Sehingga laut tetap bersih, harmonis, dan hal itu akan membawa pengaruh terhadap kehidupan manusia selanjutnya. Pakelem baik kebo, ayam, kambing, dan sebagainya adalah simbol korban suci untuk membangkitkan amerta di laut.

Sehingga dengan adanya amerta atau air kehidupan di luat, maka umat manusia secara tidak langsung pula akan mendapat manfaatnya. “Dapat perlindungan dari manifestasi Tuhan, yang berada di luat yakni Sang Hyang Baruna. Dan sebagai peleburan, maka seluruh kemelaratan kesengsaraan, penderitaan dan sebagainya dari manusia akan bisa dilebur di laut, karena sudah mendapatkan tirta amerta dari Bharara Baruna,” jelasnya. Pakelem memang dilakukan pada hari suci, seperti setiap sasih kesanga, sasih kaenam, atau hari suci lainnya. Pakelem bisa dilakukan di laut, danau, dan gunung, untuk menjaga keharmonisan alam semesta beserta isinya.

Apresiasi juga disampaikan Anggota DPD RI Dapil Bali, H. Bambang Santoso. “Kami apresiasi upacara ini. Harapannya bukan hanya kebaikan yang jauh menjadi lebih tapi keharmonisan sesama anak bangsa juga terwujud, kedamaian tercipta, sesama anak bangsa menjadi lebih damai dan rukun serta harmonis. Harmoni tidak hanya di sisi alam saja, tapi seluruh penghuninya juga harmoni,” papar tokoh muslim nusantara ini. (wie)

 

 

Print Friendly, PDF & Email

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *